Tafsir Perjanjian Baru 2 Korintus 9:6-14

29 12 2010

Tafsir 2 Korintus 9:6-14

I. Pendahuluan

Surat Paulus kepada jemaat di Korintus dengan bagus dan tepat menyoroti watak dan semangat Paulus, tetapi juga menyajikan suatu ajaran yang penting sekali. Di dalamnya ditemukan, khususnya dalam 1 Korintus, informasi dan keputusan-keputusan mengenai beberapa soal yang membingungkan jemaat Kristen purba dan tentang cara hidup jemaat itu, baik sehubungan dengan keadaan umat sendiri, seperti kemurnian akhlak, 1 Korintus 5:1-13; 6:12-20. [1]

Diantara segala surat Paulus, surat kedua kepada jemaat Korintus ini termasuk yang terbaik. Dalam surat ini kadang-kadang Paulus bersikap keras seperti seorang bapa, kemudian lembut lagi seperti seorang ibu. Oleh karena  di Korintus masih ada orang-orang yang menyangsikan Paulus dan yang memandang rendah kepadanya, maka dalam surat kedua Paulus banyak menulis tentang dirinya sendiri dan apa yang diperbuat Allah dalam hidupnya. Dari bab 1 sampai 9, Paulus membicarakan pertobatan yang terjadi di Korintus.[2]

Untuk penafsiran (hermeneutika) ada empat prinsip utama dalam menafsirkan Alkitab, yaitu: [3]

1.      Penafsiran secara wajar. Alkitab harus ditafsirkan secara wajar (Ing. Historico-grammatical method, yakni metode berdasarkan sejarah dan tata bahasa). Menurut prinsip ini, yang terpenting dalam tafsiran suatu ayat atau perikop adalah arti wajarnya. “Yang wajar” harus dibedakan dengan “yang harfiah”, yaitu cara baku yang tidak memperhatikan kiasan, metafora, gaya sastra dan lain lain. Alkitab harus ditafsirkan: (a) menurut arti aslinya, (b) menurut bentuk sastranya, (c) menurut konteksnya.

2.      Penafsiran menurut Kitab Suci. Persoalan mengenai pengertian yang sebenarnya dan selengkapnya dari suatu bagian Alkitab, maka kejelesan harus dicari melalui bagian-bagian lain yang berbicara dengan lebih jelas. Alkitab harus ditafsirkan: (a) menurut tujuan Alkitab, (b) berdasarkan penjelasan dari bagian lain yang temanya sama, (c) berdasarkan penjelasan yang datang kemudian dan lebih lengkap.

3.      Penafsiran oleh Roh. Alkitab hanya dapat ditafsirkan dengan bantuan Roh Kudus. Pengertian sejati tidak mungkin bagi kita secara alami, tetapi merupakan pemberian Allah (Matius 11:25;16:17) melalui RohNya (Yohannes 16:13). Prinsip ini mengandung tantangan spiritual yang mendalam. Roh Allah adalah kudus; karena itu, apa yang dimengerti oleh seseorang dari kebenaranNya tidak hanya berhubungan dengan daya pikir saja, tetapi  terlebih dengan ketaatannya.

4.      Penafsiran secara dinamis. Penafsiran Alkitab tidak terbatas hanya pada dari tambang kebenaran abadi Allah harus diangkat ke permukaan dan dipergunakan. Pertama, menanyakan maknanya pada masanya serta dalam konteksnya sendiri dan apa maksudnya dalam konteks seluruh Alkitab. Kemudian bertanya, apa maknanya firman itu sekarang, pada saat ini, disini, dalam  kehidupan jemaat, bagi orang itu, atau bagi diri sendiri.

 

 

 

 

 

II. Tafsiran 2 Korintus 9:6-14

2 Korintus 9:6-14 merupakan lanjutan dari surat Paulus pada ayat 1-5. Bab 9 ini merupakan sepucuk surat kecil kepada jemaat di Akhaya, yang kemudia disisipkan ke dalam surat kepada jemaat di Korintus sebagai lanjutan dari nasehat-nasehat serupa yang dituliskan Paulus kepada jemaat Korintus itu, yaitu bab 8.[4] Bagian ini merupakan suatu aksi pengumpulan dana untuk kepentingan jemaat dan pelayanan, yang mana dari konteks ayat ini terlihat bahwa Paulus menandaskan suatu kesalehan yang nyata untuk membangun jemaat dalam pelayanan terlebih masalah pendanaan bagi pelayan-pelayan Firman Tuhan.

Ayat 6 menuliskan camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga (but this I say, he which soweth sparingly shall reap also sparingly; and he which soweth bountifully shall reap also bountifully). Demikianlah mereka harus menabur banyak¸bukan sedikit. Gagasan dasar tentang menuai apa yang ditabur (Amsal 11:24; 19:17) diterapkan dalam Galatia 6:7-10 kepada penuaian rohani, dan dalam Matius 6:14-15 kepada pengampunan; bnd. Matius 7:1,2;10:42; Lukas 6:34-38.[5]

Kata “menabur banyak” dari terjemahan King James Version adalah bountifullly [6] (dengan baik hati). Arti kata tersebut menunjukkan bahwa jemaat harus betul-betul dengan sepenuh hati memberikan dan tanpa paksaan (baik hati), tidak untuk menunjukkan kekuasaan atau kekayaan (sikap pamer). Dan, terjemahan dari Kitab Yunani untuk kata “menabur banyak” adalah blessednesses[7] (keterberkatan) menunjukkan bahwa jemaat pun harus dengan sikap merestui segala pekerjaan pelayanan untuk membagun gereja (dalam arti luas).

Ayat 7 menuliskan hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi sukacita (Every man according as he purposeth in his heart, so let him give; not grudgingly, or of necessity: for God loveth a cheerful giver). Jangan … karena paksaan, artinya jangan dengan berpikir ‘sesedikit mungkin’.[8] “Sumber pemberian bukanlah kantong, melainkan hati”.[9] (bnd.Markus 12:41-44). Orang yang memberi  dengan sukacita,memberi dengan sukacita menggembirakan sekali. Kutipan ini diambil dari Amsal 22:8, LXX; tidak terdapat di dalam Kitab Amsal bahasa Ibrani, bnd.Roma 12:8.[10]

Penekanan ayat 7 ini merupakan bagian dari makna kata yang dipakai Paulus  pada ayat 6 untuk menegaskannya, yakni eulogiaiV (dengan baik hati; keterberkatan). Sehingga tampak jelas bahwa jemaat dibuka hatinya untuk memberi dengan sepenuh hati, tanpa ada pengertian atau tafsiran untuk pamer, dan terlebih bersikap angkuh untuk dipandang di antara jemaat.

Ayat 8 menuliskan dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan (and God is able to make all grace abound toward you; that ye, always having all sufficiency in all things, may abound to every good work). Allah sanggup menjadikan sisa-sisa sumber-sumber kita lebih dari cukup. Berkecukupan (bnd. Filipi 4:11; 1 Timotius 6:6), hasil yang lazim dari jawaban Allah terhadap iman. Sebutan El-Syaddai (Kejadian 17:1) dapat berarti Allah yang berkecukupan. Allah memberikan apa yang perlu baik materi maupun rohani di dalam pelbagai kebajikan (bnd. Filipi 4:19).[11]

Kata  “berkecukupan” yang dipakai dalam Kitab Yunani adalah autarkeain[12] (diterjemahkan edisi Inggris: same-sufficiency [13] = kecukupan). Namun, terjemahan lain yang dipakai adalah contentment (kesenangan, kepuasan hati, kesukaan). Dengan demikian, ayat Paulus ini menegaskan bahwa Allah memang akan memuaskan hati dengan berkat-berkatNya, dimana kepenuhan dan ketulusan hati dalam memberi akan membuka kekuatan tersendiri dari Allah.

Ayat 9-10 menuliskan seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaranNya tetap untuk selamanya”. Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu (as it is written, He hath dispersed abroad; He hath given to the poor: His righteousness remaineth for ever. Now He that ministreth seed to the  sower both minister bread for your food, and multiply your seed sown, and increase the fruits of you righteousness;). Dukungan Alkitab itu diambil dari Mazmur 112:9; Yesaya 55:10; Hosea 10:12. Ia yang menyediakan, Yesaya 55:10 hanya menyebutkan “memberikan”. Paulus menggunakan suatu istilah yang lebih kaya seperti dalam Galatia 3:5. Benih, yang dapat ditabur, juga berasal dari Allah, ialah pemberian dalam ayat 6-8. Akan menyediakan, bnd. Filipi 4:15,19. Melipatgandakan, daya guna benih itu, karena Allah, jauh lebih besar daripada wujudnya. Kebenaran, perbuatan yang benar, di dalam hal ini: kemurahan hati. [14]

Penyataan ayat ini juga mengandung tendensi terhadap bangsa Yahudi dimana saat mereka kelaparan (Kejadian 16:1-36), dan kejadian-kejadian penciptaan yang dilakukan Allah (Kejadian 1:11,12). Dan, buah-buah kebenaran yang dimaksudkan antara lain buah-buah roh yang dimaktubkan dalam Galatia 5:22,23.

Ayat 11-12 menuliskan kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami, sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah (Being enriched in every thing to all bountifulness, which causeth through us thanksgiving to God. For the administration of this service not only supplieth the want of the saints, but is abundant also by many thanksgivings unto God). Memberi adalah pengalaman yang memperkaya (bnd. Ayat 7). Kepentingan Paulus sendiri tidak terlibat dalam penopangan mengenai pemberian sedekah itu, sebab ia sudah meolak untuk menerima apa saja baginya dari orang Korintus (11:7-9). Pelayanan kasih, kata Yunani leitourgia (liturgi) dipakai dalam kebaktian-kebaktian umum yang dibiayai oleh penduduk Atena yang kaya. Segala macam kemurahan hati, bukan hanya mencukupi keperluan jasmani orang-orang kudus, tetapi lebih daripada itu: secara rohani kemurahan hati itu juga melimpahkan ucapan syukur dari yang menerimanya kepada Allah (1:11), serta mendorong kasih dan doa yang timbal balik (ayat 14). [15]

Sebagai bagian dari kelimpahan adalah kemurahan hati yang ditunjukkan pada ayat 11, maka ucapan syukur yang dalam kata Yunani eucharistian (eucharistian) atau eucharistion (eucharistiwn) menunjukkan makna rasa syukur yang lebih mendalam. Maka, dalam pandangan gereja-gereja katolik (Timur dan Barat), ekaristi atau pengucapan syukur adalah puncak liturgi katolik, dimana segala pemberian Allah diberikan kembali melalui sedekah, untuk keperluan bahan-bahan liturgi, atau pembiayaan pelayanan.[16] Bolehlah diutarakan bahwa pengucapan syukur itu senantiasa mengingatkan akan karunia-karunia Allah dalam kehidupan sehingga perlu untuk mengembalikannya lagi.

Ayat 13 menuliskan dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang (whiles by the experiment of this ministration they glorify God for your professed subjection unto the Gospel of Christ, and for your liberal distribution unto them, and unto all men). Tahan uji, dengan bantuan mereka (orang-orang kudus) para petobat dari golongan kafir itu mempertontonkan  kesungguhan pengakuan Kristen mereka kepada petobat dari golongan Yahudi, dan mengungkapkan kesatuan mereka dalam Kristus. Membagikan segala sesuatu (Yunani: koinonia): persekutuan, mendapat bagian; bnd.1:7. [17]

Terjemahan lain dari kata Yunani koinonia adalah fellowship[18] (bnd. Efesus 3:9) yang berarti persahabatan. Persahabatan yang dimaksud adalah penyatuan dalam kasih Allah, berkumpul dalam cinta, dan ungkapan-ungkapan dari buah-buah Roh yang diterima.

Ayat 14 menuliskan sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu (and by their prayer for you, which long after you for the exceeding grace of God in you). Paulus melaksanakan apa yang diajarkan dalam 1 Korintus 13:5. Sebab memanglah sementara anggota jemaat di Yerusalem sangat mempersulit hidup Paulus, Galatia 2:4 dst. Dengan mengumpulkan uang bagi jemaat itu  Paulus bermaksud antara lain menanggulangi permusuhan dari pihak jemaat itu. Dengan uang yang dikumpulkan terbuktilah rasa hormat dan bakti dari pihak jemaat-jemaat bukan Yahudi terhadap jemaat induk yang pernah menyampikan kepada mereka (harta-harta) rohani, Roma 15:27. [19]

 

III. Penutup

Pemberian yang terbaik adalah pemberian yang penuh dengan keterbukaan, tanpa adanya paksaan, dan ketulus-ikhlasan dalam segenap diri untuk memberikan yang terbaik bagi pelayanan akan Firman Tuhan dan pembangunan jemaat.

Perolehan kelimpahan akan anugerah-anugerah dari Allah merupakan wujud nyata dari Allah yang Maha Memiliki dan Maha Berkecukupan. Allah senantiasa memperkaya kita dengan buah-buah keteladanan untuk saling membantu dan memperkuat pelayanan. Tanpa adanya dukungan dari sesama jemaat, maka niscaya keutuhan pelayanan akan terasa asing dan terbengkalai. Oleh karena itu, bukan hanya sekedar memberi, namun dengan penuh kemurahan hati akan membantu pelayanan gereja yang diberkati Allah.

 

IV. Daftar Pustaka

Marxsen, Willi. 2009. Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kristis terhadap Masalah-masalahnya. Cet,9. Jakarta: Gunung Mulia.

Maryanto, Ernest. 2004. Kamus Liturgi. Yogyakarta: Kanisius.

Hughes, P.E. 1962. Paul’s Second Epistle to the Corinthians. NLC.

Tim Editor. 1982. Tafsiran Alktab Masa Kini: Matius-Wahyu. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih.

LBI. 2001. Alkitab-Deutrokanonika. Jakarta: Lembaga Biblika Indonesia.

LAI. 2001. Alkitab. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

De Mol, Andre. 2008. Alkitab Virtual: Kitab-kitab Ibrani dan Yunani, ISA. (Software)

Bavinck, J.H.. 2004. Sejarah Kerajaan Allah 2. terj. A.Simanjuntak. Jakarta: Gunung Mulia.

King James Version: The New Testament with Psalms and Proverbs. 1986. England: National Publishing Company.

Milne, Bruce. 2003.Mengenali Kebenaran: Panduan Iman Kristen, terj.Connie Item-Computty. Jakarta: Gunung Mulia.

Drewes, B.F. 2008. Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru. Jakarta: Gunung Mulia.

 

 

 

 



[1] Pengantar Surat-surat Paulus, Alkitab-Deutrokanonika, Jakarta: LBI, 2001

[2] Prof. Dr. J.H. Bavinck, Sejarah Kerajaan Allah 2, terj.A.Simanjuntak, Jakarta: Gunung Mulia, 2004, hlm.833

[3] Disadur dari: Bruce Milne, Mengenali Kebenaran: Panduan Iman Kristen, terj.Connie Item-Computty, Jakarta: Gunung Mulia, 2003, hlm.66-68

[4] Catatan kaki Alkitab-Deutrokanonika, Jakarta: LBI, 2001

[5] Tafsir Alkitab Masa Kini: Matius-Wahyu, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1982,hlm.535

[6] The New Testament with Psalms and Provebs, England: National Publishing Company, 1986

[7] Andre de Mol, Alkitab Virtual ISA, 2008

[8] Tafsir Alkitab Masa Kini: Matius-Wahyu, loc.cit

[9] Ungkapan dari: P.E.Hughes, Paul’s Second Epistle to the Corinthians,NLC,1962

[10] Tafsir Alkitab Masa Kini: Matius-Wahyu, loc.cit

[11] ———-,loc.cit

[12] Andre de Mol, Alkitab Virtual ISA, 2008

[13] The New Testament with Psalms and Provebs,loc.cit

[14] Tafsiran Alkitab Masa Kini: Matius-Wahyu, loc.cit

[15] Tafsiran Alkitab Masa Kini: Matius-Wahyu, loc.cit

[16] Ernest Maryanto, Kamus Liturgi, Yogyakarta: Kanisius, 2004,hlm.52

[17] Tafsiran Alkitab Masa Kini: Matius-Wahyu, loc.cit

[18] Andre de Mol, Alkitab Virtual ISA, 2008

[19] Catatan kaki Alkitab-Deutrokanonika, Jakarta: LBI, 2001

About these ads

Aksi

Information

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: