Tafsir Perjanjian Baru Injil Markus 6:1-5

29 12 2010

Tafsir Markus 6:1-5

I. Pendahuluan

Injil Markus diwariskan kepada kita dalam bahasa Yunani. Dalam abad ke-20 bahasa Yunani dalam Injil Markus sering dicap canggung. Tetapi “cacat” ini (cacat kalau dilihat dari sudut bahasa dan gaya bahasa Yunani) dinilai positif, sebab dianggap sebagai bukti keaslian Markus. Karena bahasa Markus terpengaruh oleh gaya bahasa Semit (tegasnya bahasa Aram), ia masih dekat dengan lapis tradisi yang paling tua, yang masih memakai bahasa Aram, demikianlah berpendapat sejumlah pakar. J.C. Doudna telah melakukan penelitian khusus mengenai bahasa Yunani dalam Injil Markus. Menurutnya, tidak dapat dipastikan bahwa naskah Injil itu merupakan terjemahan dari bahasa Aram, tetapi ia menduga kuat bahwa salah satu versi lebih tua benar-benar diterjemahkan dari bahasa Aram ke dalam bahasa Yunani. Lain pula pendapat M. Reiser. Dalam karyanya Syntax und Stil des Markusevangeliums im Licht der Hellenistichen Volksliteratur (Tübingen,1984) dibuktikannya bahwa sering kali orang memandang ungkapan tertentu sebagai “semitisme” (terbentuk menurut gaya bahasa semitis) hanya karena mereka sendiri kurang menguasai seluk beluk bahasa Yunani. Menurut Reiser, unsur semitis itu dapat ditemukan hanya dalam kosakata, semantik (pemakaian kata-kata) dan fraselogi (penyusunan kalimat) Injil Markus. Sebaliknya, dalam sintaks dan gaya Injil itu tidak muncul semitisme. Bahasa Markus dapat dijuluki “Bahasa Yunani sebagaimana yang keluar dari mulut seorang Yahudi”. Bahasanya mempunyai warna khusus, sama seperti bahasa Jerman yang dipakai dalam lingkungan gereja atau dalam lingkungan penganut ideologi tertentu mempunyai warna tersendiri. [1]

Rangka Injil Markus adalah paling tidak sistematik. Pembukaan Injil merangkum pewartaan oleh Yohannes Pembaptis, baptisan Yesus dan pencobaanNya di padang gurun,1:1-13;kemudian beberapa petunjuk tentang karya Yesus di Galilea, 1:14-7:23;menyusullah perjalanan Yesus bersama murid-muridNya ke daerah Tirus dan Sidon, ke Dekapolis, di kawasan Kaisarea Filipi, lalu Yesus kembali ke Galilea, 7:24-9:50. Akhirnya sebuah perjalanan lain melalui daerah Perea dan kota Yerikho menuju Yerusalem hendak menempuh sengsara dan kebangkitan, 10:1-16:8. Tanpa berkata tentang urutan kejadian-kejadian secara terperinci nampaklah rangka tersebut agak dibuat-buat. Sebab mungkin sekali, sebagaimana dibuktikan Injil keempat (Yohannes), bahwa Yesus beberapa kali pergi ke Yerusalem sebelum Paskah-sengsara. Namun demikian, garis-garis besar Markus memperlihatkan suatu perkembangan yang perlu dipertahankan, baik karena nilai historisnya maupun karena makna teologisnya. [2]

Tujuan dari penafsiran yang baik bukanlah keunikan. Penafsiran yang unik biasanya salah. Ini bukannya mengatakan bahwa penafsiran yang benar terhadap sebuah text tidak akan terdengar unik ditelinga orang yang pertama kali mendengarnya. Yang mau dikatakan adalah bahwa kita menafsirkan bukan supaya penafsiran itu menjadi unik. Keunikan bukanlah tujuan dari penafsiran.

Tujuan dari penafsiran yang baik adalah untuk menangkap arti yang jelas dari teks. Penafsiran yang bagus harus diuji yaitu apakah tafsiran tersebut pas dengan konteks. Tapi jika tujuan dari penafsiran adalah untuk menangkap arti yang jelas, kenapa harus menafsirkan? kenapa tidak sekedar baca saja?

Pertanyaan dasar yang harus ditanyakan ketika kita membaca text Alkitab (menafsirkan), yaitu pertanyaan yang berhubungan dengan kontext. Pertanyaan yang berhubungan dengan kontext dasarnya terbagi 2 yaitu sejarah dan literal. (1) Konteks Sejarah berbeda-beda dalam tiap buku. Ini berhubungan dengan budaya dan jaman sang penulis dan pembaca pada jamannya. Untuk itu kita butuh sumber luar seperti kamus Alkitab (Bible Dictionary) misalnya International Standard Bible Encyclopedia dll. (2) Konteks literal ini adalah bagian vital untuk kita bisa berexegesis dengan baik. [3]

Dalam penafsiran yang akan dilakukan berdasarkan prinsip hermeneutika, yakni: analisis kontekstual (Analisa konteks menuntut suatu kata/ayat harus dipahami dalam kaitan dengan ayat/perikop/pasal yang lain), analisa gramatikal (menuntut suatu kata dipahami berdasarkan bahasa asli Alkitab), penafsiran kata (leksikal: suatu kata memiliki arti tertentu dalam konteks tertentu), dan penafsiran teologis. [4]

 

II. Penafsiran Markus 6:1-5

Injil Markus 6:1-5 berbicara tentang penolakan bangsa Yahudi terhadap Yesus. Dari rumah Yairus, Yesus menuju Nazaret (Markus 5:21-43). Ini dapat dilihat dari keselarasan perikop yang lalu, yakni 5:21-43. Markus mencatat hal ini dengan kata-kata: “Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asalNya, sedang murid-muridNya mengikuti Dia” (6:1). Catatan ini langsung menyambung keterangan sebelumnya: Yesus memasuki sebuah rumah (5:38); di dalamnya Dia membangkitkan seorang anak perempuan; kemudian Dia meninggalkan lagi rumah itu. Pada saat itu Dia dapat saja berhenti untuk dipuji-puji orang banyak. Sebaliknya, Dia mengundurkan diri. Dia berangkat pergi ke kota kelahiranNya. Kunjungan ke Nazaret ini berlangsung dalam periode sesudah hari Yesus berkata-kata dalam perumpamaan (bnd.juga Matius 13:53-54). Maka kunjungan ini bukanlah kunjungan yang diceritakan dalam Lukas 4:14-30, yang berlangsung pada awal pertama pemberitaan Yesus di Galilea. Markus bahkan tidak menyebutkan nama kota Nazaret, tetapi hanya menyebutya sebagai “tempat asal Yesus”. [5]

Ditempat asalNya jelas menunjukkan maksudnya adalah Nazaret, seperti ditunjukkan dalam hubunganNya. Kunjungan ini harus dibedakan dari kunjungan dalam Lukas 4:16-30, yang terjadi setahun lebih dahulu. Waktu itu Yesus meninggalkan Nazaret sebagai perseorangan dengan urusan pribadi. Sekarang Yesus kembali sebagai Guru, yang dikelilingi oleh muridNya, agaknya untuk memberikan kesempatan lebih lanjut kepada orang sedesaNya. Tapi hasilnya sama dengan kunjungan yang dahulu. Keirihatian mereka bergejolak. Tidak dapat dibayangkan bahwa seorang dari desa mereka membawa amanat dari sorga. Sikap ini disebabkan ketidakpercayaan mereka (ayat 6). [6]

Kitab Yunani menunjukkan kata patrida [7] (father-place: diterjemahkan ke dalam Inggris sehari-hari own-country)  yang berarti tempat asal. Namun, kata Yunani yang ditunjukkan oleh Drewes [8] kata patriV sebagai tanah air, tempat asal. Hal ini menunjukkan juga keeratan arti kata yang menyatakan tempat asal Yesus yang kita ketahui adalah Nazaret.

Markus 6:2 menuliskan Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: “Dari mana diperolehNya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepadaNya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? (And when the Sabbath day was come, He began to teach in the synagogue: and many hearing Him were astonished, saying, From whence hath this Man these things? And what wisdom is this which is given unto Him, that even such mighty works are wrought by His hands?[9]). Hari Sabat adalah hari pertemuan kaum Yahudi untuk mendengarkan pengajaran dan pembacaan Kitab Suci. Ini menjadi bagian dari liturgi Yahudi. Di hari Sabat ini, setiap orang tidak dapat melakukan pekerjaan apapun.

Ayat 6:2 menggambarkan tanggapan banyak pendengar selagi upacara ibadah masih sedang berlangsung (akountes, bukan akounsantes). Mereka terkejut dan bingung. Kata kerja yang dipakai (eksplêssomai) bersifat netral: olehnya diungkapkan ketegangan emosional yang hebat, apakah ketegangan itu disebabkan rasa kagum atau oleh sikap bermusuhan. Dalam ayat 2b menyusullah berbagai reaksi bernada pertanyaan, yang mengandung pengakuan: orang melihat dengan jelas bahwa Yesus memiliki hikmat yang luar biasa dan melakukan perbuatan yang penuh kuasa. Meskipun begitu, orang tidak bergembira, tetapi tercengang. Mereka semua bingung. Bagaimana mungkin “semuanya itu” dimiliki manusia ini? Karena mereka mengajukan beberapa pertanyaan, yang tidak bernada bermusuhan, tetapi menandakan sikap menjaga jarak: “dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apakah pula yang diberikan kepada Dia? Dan mukjizat-mukjizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tanganNuya?”. Rupa-rupanya mereka mendengar kabar tentang mukjizat-mukjizat itu; disamping itu, pasti murid-murid Yesus dapat memberi keterangan tentangnya. [10]

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Yesus menunjukkan keragu-raguan mereka untuk menerima pengajaran Yesus dan pengakuan tentang Anak Allah yang disandang Yesus. Kata poqen[11] (which-place/whence:darimana) yang dibedakan dari poteron [12](which-more/whether: apakah kamu tahu?) merupakan kata yang mempertanyakan. Orang-orang Nazaret mempertanyakan dari mana (asal dan siapa), mereka mempertimbangkan semua pernyataan Yesus.

Kebijaksanaan dan kuasaNya tidak dapat dipungkiri, tapi mereka mempersoalkan asal kuasa ilahi dari segalanya itu. Memang logis, bahwa jika hal yang jelas bersifat adikodrati tidak datang dari Allah, maka datangnya harus dari Iblis. Inilah hakikat ketidakpercayaan: kekeraskepalaan menolak bukti dan mengakui kehadiran kuasa Allah. Tidak ada sesuatu pun sedemikian itu merintangi kuasa Allah. Bahwa Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun disana (ayat 5) adalah satu dari pernyataan yang paling tegas dalam Kitab-kitab Injil, tapi menunjukkan, bahwa mukjizat-mukjizat Tuhan Yesus bukanlah sihir semata-mata. Mukjizat-mukjizat itu secara erat dihubungkan dengan keadaan moril dan iman orang. Sekalipun Allah mahakuasa, dalam kedaulatanNya Ia tidak berkenan memberkati dalam gejolak pemberontakan manusia. [13]

Markus 6:3 menuliskan : “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudaraNya perempuan ada bersama kita?”Lalu mereka kecewa dan menolak Dia (Is not this the carpenter, the son of Mary, the brother of James, and Joses, and Juda, and Simon? And are not His sisters here with us? And they were offended at Him). Pernyataan “tukang kayu” tektwn[14] di dalam Kitab Yunani diartikan artisan (pekerja tangan yang ahli[15]) dan terjemahan bebas: carpenter (tukang kayu). Dan sejajar dengan kata tektwn, ada kata tecnithV yang berarti teknisi. Pekerjaan Yesus sebagai tukang kayu diikuti dari ayahNya, Yusuf, yang bekerja sebagai tukang kayu (lih.juga Matius 13:55). Namun, di ayat tersebut tidak mencantumkan Yusuf (“anak Yusuf”) melainkan Maria, padahal dari segi tradisi Yahudi harus menempatkan bar (anak dari..). Menurut pandangan Katolik Markus mungkin menyamarkan untuk mengemukakan bahwa Yesus diperkandung oleh perawan[16]. Dan keikutsertaan saudara-saudara Yesus ini menimbulkan satu tafsiran bahwa Maria setelah melahirkan Yesus, melahirkan lagi anak-anak yang disebutkan. Namun, sejarah masih ragu akan hal tersebut.

Ayat 6:3, kaum Yahudi tidak bermaksud menjelekkan Yesus, tetapi mereka hanya mau menggambarkan Dia sebagai sekedar orang Nazaret. Karena itu, seharusnya ucapan-ucapan mereka tentang Yesus tidak diartikan sebagai ungkapan permusuhan. Sebutan “tukang kayu tidak bersifat menghina, tetapi menunjukkan bahwa orang mengenal Yesus sebagai tukang kayu yang pernah aktif di desa itu[17]. Dalam hal itu Yesus berguru pada bapakNya (di bumi ini), Yusuf, yang juga seorang tukang kayu. Tidak masuk akal kalau di sini julukan “anak Maria” dianggap bernada kecaman (anak haram)[18]. Karena yang mengucapkannya penduduk Nazaret, tidak wajar bila julukan tersebut dianggap sebagai acuan ke kelahiran dari seorang anak dara. Julukan itu bersifat praktis, sekedar penyebutan fakta, bukan catatan resmi mengenai silsilah Yesus (seperti halnya sebutan “anak Yusuf” dalam Lukas 4:22 dan Yohannes 6:42). Namun, mungkin di dalamnya terungkap bahwa pada waktu itu Yusuf telah meninggal, sehingga dalam kehidupan sehari-hari Yesus dianggap sebagai anggota tertua rumah tangga Maria, si janda. [19]

Dan mengenai saudara laki-laki Yesus, ternyata orang mengenalnya. Namun, saudara perempuan Yesus tidak disebut, tetapi dikenal juga, karena semua tinggal di desa itu. Nazaret bukan hanya tempat asal Yesus yang resmi, melainkan juga kampung halamanNya, tempat tinggal keluargaNya. Maka Nazaret hanya memperhatikan profesi dan keluargaNya saja.

Lalu mereka menolak Dia”, pernyataan ini belum tentu orang-orang Nazaret mengambil sikap bermusuhan terhadap Dia. Maka tidak tepat jika cerita ini diberi nama “penolakan Yesus di Nazaret”, sebagaimana sering orang lakukan. Injil Markus memakai kata kerja yang sama (skandalizomai) sehubungan dengan para murid yang melarikan diri dari Getsemani (14:27,29).[20] Tetapi jika dianalisis dari teks Kitab Yunani Markus kata penolakan adalah eskandalizonto [21]yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris they-were-snared (menjerat). Drewes menunjukkan kata eskandalizonto dari eskandalizw[22] berarti menjatuhkan, menyebabkan berbuat dosa; pasif : jatuh, d.s tidak percaya, menolak. Bila dilihat secara harfiah saja, maka dinilai bahwa orang-orang Nazaret memang bermusuhan dengan Yesus disaat mendengarkan perkataanNya bukan jauh sebelumnya.

Markus 4:4 menuliskan Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, diantara kaum keluarganya dan dirumahnya” (But Jesus said unto them, A prophet is not without honour, but in his own country, and among his own kin, and in his own house). Agaknya perkataan Yesus ini tidak mengandung arti bahwa para nabi dihormati di mana-mana kecuali di rumah mereka sendiri. Bukankah Dia sering mengingatkan pada penolakan umum terhadap para nabi (Matius 5:12;23:31,35,37)? Maka perlu memperhatikan bunyi harfiah perkataan tadi. Dengan perkataan lain: Seandainya seorang nabi dihormati ditempat asalnya, niscaya dimana pun ia dihormati. Tetapi kenyataannya malah terbalik: Di mana pun ia tidak dihormati, terutama di kota kelahirannya. Ucapan ini tidak bersifat umum saja, tetapi mengandung arti sangat dalam. Yesus harus ditolak sebab Dia tidak terhormat di mata teman sekota dan sanak saudaraNya, yang pada saat itu tidak bersedia mengakui bahwa Dia bukan hanya salah seorang kenalan dari lingkungan mereka sendiri (bnd.Yes.53).[23]

Markus 4: 5 menuliskan: Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun disana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tanganNya atas mereka (And He could there do no mighty work, save that He laid His hands upon a few sick folk, and healed them). Yesus tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun di sana, bukan karena Dia tidak mampu. Sesungguhnya, Dia menyembuhkan “beberapa orang sakit” dengan meletakkan tanganNya atas mereka. Tetapi, penyembuhan beberapa orang saja itu menunjukkan bahwa Yesus tidak sempat menyembuhkan yang lain, karena mereka tidak datang.[24]

Kata tidak dapat mengadakan dalam teks Yunani adalah “ekei  oudemian dunamin poihsai” (there not-yet-one ability to do: tidak ada satu pun kemampuan yang dilakukan). Ini mengindikasikan secara harfiah bahwa Yesus enggan melakukan perbuatan mukjizat di Nazaret, mungkin karena kekeraskepalaan dan kekurangpahaman akan hadirat Allah.

Ayat ini menunjukkan Matius  (15:38) melunakkan pernyataan itu dengan menulis, “tidak banyak mukjizat dilakukanNya”, sebagai ganti tulisan Markus tidak dapat melakukan satu mukjizat pun di sana. Tetapi pernyataan Markus tidak mengandung arti bahwa Yesus adalah tanpa kuasa, melainkan bahwa Ia tidak dapat berbuat sesuai dengan tujuanNya, jika tidak ada iman.[25] Penegasan ini dilanjutkan juga pada ayat 6.

 

III. Penutup

Sungguh sukar bagi penduduk Nazaret untuk mempercayai, bahwa Yesus adalah Mesias, karena mereka mengenal Dia sejak kecil. Sukar sekali bagi mereka untuk mengakui bahwa Dialah Juruselamat. Dosa besar penduduk Nazaret itu adalah  bahwa mereka hanya kagum saja. Mereka memuji Yesus, lainnya tidak. Nabi Yehezkiel pun sudah mengalaminya (Yeh. 33:30-32). Tak ada gunanya kalau kita hanya memuji-muji Yesus saja, yang perlu adalah: kita harus mengerti, bahwa kita adalah orang-orang tertawan dan miskin, jadi perlu ditolong.[26]

 

IV. Daftar Pustaka

Tim Editor. 1982. Tafsiran Alktab Masa Kini: Matius-Wahyu. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih.

LBI. 2001. Alkitab-Deutrokanonika. Jakarta: Lembaga Biblika Indonesia.

De Mol, Andre. 2008. Alkitab Virtual: Kitab-kitab Ibrani dan Yunani, ISA. (Software)

Van Bruggen, Jakob. 2006. Markus: Injil menurut Petrus. terj.oleh Dr.Th. van den End. Jakarta: Gunung Mulia.

Sproul,R.C. 1994. Mengenali Alkitab. Seminari Alkitab Asia Tenggara-Malang.

Yakub Tri Handoko. Hermeneutika: Cara Menafsirkan Alkitab secara Sederhana, diakses dari http://www.gkri-exodus.or.id/

Drewes, B.F. 2008. Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru. Jakarta: Gunung Mulia.

Batey, R.A. 1984.“Is not this the Carpenter?” (The New Testament Studies 30. United State.

Stauffer, E. 1969. Jeschu ben Mirjam, dalam: E.E. Ellis; M. Wilcox (peny.), Neotestamentica et Semitica. Edinburgh.

LBI. 2001. Alkitab-Deutrokanonika. Jakarta: Lembaga Biblika Indonesia.

KWI. 2001. Alkitab Katolik. Ende: Arnoldus.

The Gideons International. 1995. The New Testaments-King James Version. Jakarta: LAI.

 



[1] Jakob van Bruggen, Markus: Injil menurut Petrus, terj.oleh Dr.Th. van den End,2006, Jakarta: Gunung Mulia, hlm.15-16

[2] Lihat Pendahuluan Injil Alkitab Katolik,Ende: Arnoldus, 2001, hlm.15

[3] R.C.Sproul,Mengenali Alkitab, Seminari Alkitab Asia Tenggara-Malang, 1994, hlm.65

[4] Disadur dari: Yakub Tri Handoko, M.Th, Hermeneutika: Cara Menafsirkan Alkitab secara Sederhana, diakses dari http://www.gkri-exodus.or.id/

[5] Jakob van Bruggen, hlm.192-193

[6] Tim Editor, Tafsir Alkitab Masa Kini 3, Jakarta: Gunung Mulia, hlm.145

[7] Terjemahan ini diambil dari Alkitab Virtual, ISA 2.1.3, 2008, dikeluarkan Belanda, Andre de Mol.

[8] Pdt,B.F.Drewes, M.Th,Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru, 2008, Jakarta: Gunung Mulia, hlm.121

[9] The Gideons International, The New Testaments-King James Version, Jakarta: LAI,1995

[10] Jakob van Bruggen, hlm.194

[11] Pdt,B.F.Drewes, M.Th, loc.cit

[12] Lihat Alkitab Virtual ISA, poteron. Adj.Inv

[13]Tim Editor, loc.cit

[14] Lihat Alkitab Virtual ISA, menunjukkan kata benda (noun)

[15] Hornby, Oxford English Dictionary, 1987

[16] Lih. Catatan kaki Alkitab-Deutrokanonika, Jakarta: LBI, 2001

[17] Batey, R.A., “Is not this the Carpenter?” (The New Testament Studies 30, 1984, p.249

[18] Stauffer, E., Jeschu ben Mirjam, dalam: E.E. Ellis; M. Wilcox (peny.), Neotestamentica et Semitica, Edinburgh, 1969, p.119

[19] Jakob van Bruggen, hlm.195

[20] —–,loc.cit

[21] Lihat Alkitab Virtual ISA, menunjukkan imperfek pasif

[22] Pdt,B.F.Drewes, M.Th, hlm.122

[23] Jakob van Bruggen, hlm.196

[24] ———,loc.cit

[25] Tim Editor, loc.cit

[26] Prof. Dr. J.H. Bavinck, Sejarah Kerajaan Allah 2, Jakarta: Gunung Mulia, 2004, hlm.185-187


Aksi

Information

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: