<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ocsc's Weblog</title>
	<atom:link href="http://ocsc.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ocsc.wordpress.com</link>
	<description>"Non nobis Domine, Non nobis Domine, non nobis sed gloria tua" ( Ordinis Commilitoni Sancti Cruce-OPUS DEI)</description>
	<lastBuildDate>Wed, 29 Dec 2010 07:56:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ocsc.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ocsc's Weblog</title>
		<link>http://ocsc.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ocsc.wordpress.com/osd.xml" title="Ocsc&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ocsc.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Penggembalaan</title>
		<link>http://ocsc.wordpress.com/2010/12/29/penggembalaan/</link>
		<comments>http://ocsc.wordpress.com/2010/12/29/penggembalaan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Dec 2010 07:48:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ocsc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ocsc.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[1. Kenapa dasar utama dan sikap penggembalaan itu perlu bagi setiap gembala? Gembala (pastor) menurut kamus bahasa Indonesia adalah pemirsa ternak.[1] Pemirsa merupakan pemelihara, penjaga, pengawas, dan pengayom. Dasar utama dan sikap dari seorang penggembala dengan jelas diterangkan dalam Kitab Yohannes 10:11-17 dan dalam Matius 28:19-20 yang merupakan titik tolak bagi penggembalaan/pastoral. Setiap gembala perlu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ocsc.wordpress.com&amp;blog=5005947&amp;post=74&amp;subd=ocsc&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1. </strong><strong>Kenapa dasar utama dan sikap penggembalaan itu perlu bagi setiap gembala?</strong></p>
<p>Gembala (pastor) menurut kamus bahasa Indonesia adalah pemirsa ternak.<a href="#_ftn1">[1]</a> Pemirsa merupakan pemelihara, penjaga, pengawas, dan pengayom. Dasar utama dan sikap dari seorang penggembala dengan jelas diterangkan dalam Kitab Yohannes 10:11-17 dan dalam Matius 28:19-20 yang merupakan titik tolak bagi penggembalaan/pastoral.</p>
<p>Setiap gembala perlu berkarakter seperti Yesus, Sang Gembala Baik yang memberikan nyawaNya bagi domba-dombaNya; maka dasar utama dan sikap gembala gereja adalah menjaga dengan erat dan merangkul segala jenis sifat ataupun karakter jemaat, bukannya bersikap “mencuci tangan” dari segala permasalahan yang ada ditengah jemaat, melainkan berjiwa seperti panglima perang yang lebih dahulu maju untuk berperang, dengan demikian gembala memajukan jemaatnya dengan penuh kekuatan Allah dan semangat Injil.</p>
<p>Sifat dasariah penggembalaan yang jelas-jelas ada pada Yesus adalah pengenalan terhadap dombaNya. Bila pengenalan dan pemahaman akan jemaat tampak pada diri gembala jemaat maka jemaat gereja akan merasa lebih dekat dengan Yesus dan merasa diberi kekuatan (penyaluran rahmat Allah).</p>
<p>Pada Yoh 10:16 dikatakan apabila gembala menunjukkan keseriusan dalam integritas pelayanan akan jemaat maka domba-domba lain akan merasa terpanggil karena berkat pelayanan yang kokoh dan penuh keteguhan loyalitas pelayanan dari gembala. Dan istilah ini dikenal dengan <em>pastoral approach</em>.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2. </strong><strong>Kenapa seorang gembala harus memiliki sikap dasar? Cobalah terangkan alasan-alasan Anda dari setiap sikap dasar tersebut!</strong></p>
<p>Seorang gembala mau tak mau menjadi pusat dari interaksi yang terus menerus terjadi dalam pengajaran, pelayanan dan pendalaman; dan hanya gembala-lah yang mendapatkan beban yang paling besar untuk mewujudkan domba pilihan dihadapan Tuhan Allah.</p>
<p>Ungkapan Gaylord Nayce <a href="#_ftn3">[3]</a>(pakar teologi dogmatis) menyebutkan bahwa gembala adalah orang yang bertanggung jawab untuk menyinarkan belas kasih Kristus; sehingga jelaslah bahwa sikap dasar penggembalaan yakni: (a) kesadaran (kemampuan, karunia, keterampilan, pemahaman bayangan kehidupan sebagai nilai penggembalaan, termasuk penyucian dan konsep diri), (b) bebas (penjejakan arah kehidupan, pengalaman, dan pengembangan mentalitas penggembalaan sesuai Firman Tuhan), (c) visioner (pemantapan tujuan-tujuan penggembalaan dan menjemaat, pengembangan karakter, dan kemampuan mengayomi jemaat), (d) implementasi (mengapresiasikan kemutlakan Firman Tuhan di dalam setiap segi kehidupan, baik perilaku maupun berpikir), (e) bertahan (perefleksian diri sebagai Hamba Tuhan yang bekerja secara penuh diladang Tuhan, introspeksi diri, dan usaha pengembalian perjanjian Tuhan) (seperti dijelaskan Carson Pue <a href="#_ftn4">[4]</a>)</p>
<p>Dan, yang paling utama dari sikap dasar seorang gembala adalah betul-betul menjadi pelaku Firman Tuhan, sehingga jelas nyata segala perbuatan dan tingkah lakunya dihadapan jemaat terlebih di hadapan Tuhan Allah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Bagaimana Anda bisa melatih diri dalam keterampilan dasar yang diperlukan? Cobalah terangkan!</strong></p>
<p>Keterampilan dasar yang utama dalam penggembalaan adalah kepasrahan penuh kepada Tuhan sesuai dengan kehendakNya seperti para Nabi (bnd. Yeremia 1:7-8, Yosua 1: 1-9). Sebagai penambahan keterampilan dalam penggembalaan yang lainnya antara lain: talenta-talenta yang dimiliki dari Allah (seperti: orasi, berdoa, dll), cakap dalam berkhotbah, kemampuan menafsir Alkitab, penggerak/pemotivasi jemaat.</p>
<p>Keterampilan dasar dalam penggembalaan yang mencakup: pemahaman Alkitab berdasarkan tuntunan Roh; ketekunan dan ketulusan dalam doa; ketekunan dan ketulusan dalam ibadah; komunikasi yang intim dengan Allah dan dengan sesama; dan relasi dalam hidup yang seimbang; kesemuanya ini dapat dilatih melalui teknik meditatif bersama Allah, kontemplasi, refleksi, introspeksi diri, pengakuan, dan usaha perubahan (hal ini banyak diterapkan dalam sistem pastoral Katolik, Orthodoks, Anglikan dan beberapa aliran Karismatik). Melatih diri untuk meditas (pemusatan pikiran) seluruhnya kepada Allah, dan memasuki babak kontemplasi dimana rasa kebergantungan kepada Allah menuju puncaknya, dan memberikan suatu refleksi serta instrospeksi diri secara mendalam dan menumbuhkan pengakuan di hadapan Tuhan dan perubahan secara utuh dari kekuatan Roh Kudus.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4. </strong><strong>Kenapa percakapan penggembalaan itu bersifat konfidensial (rahasia)? Sebutkan alasan Anda!</strong></p>
<p>Sebelumnya kata konfidensial itu berasal dari kata “confindence” yakni keyakinan yang tumbuh secara mendalam. Maka, percakapan penggembalaan itu bersifat konfidensial karena adanya suatu pergerakan keyakinan-keyakinan intern dalam diri gembala yang dipancarkan dari Allah melalui buah-buah Roh supaya adanya penyataan-penyataan Firman dari tugas penggembalaan yang dilaksanakan ditengah jemaat.</p>
<p>Kerahasiaan percakapan penggembalaan itu bukan berarti sesuatu yang menjadi tabu atau keseriusan ditengah jemaat, melainkan suatu daya penyingkapan akan adanya karya-karya Allah yang mengubah sikap jemaat sehingga kesaksian demikian adanya dalam diri dan ditunjukkan dalam sikap. Seperti halnya dalam meditasi dan kontemplasi, dimana Allah dan pribadi yang berada dalam titik penghayatan penuh, Allah senantiasa mendekap dan lebih lagi menjamah pribadi seseorang  (seperti masuk ke dalam ruangan terindah) dan Allah menyatakan rahasia-rahasiaNya bagi seseorang dan penyataan itu benar-benar ada supaya menjadi kesaksian bagi seseorang itu.</p>
<div> <br />
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Kamus Pintar Bahasa Indonesia. Djambatan, Surabaya. 2002.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Carson Pue. <em>Mentoring</em>. 2005.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Gaylord Nayce, Tanggung Jawab Etis Pelayanan: Etika Pastoral, terj. oleh BA. Abednego, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997, hlm.9</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Carson Pue, <em>Op.Cit</em>, hlm.8</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ocsc.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ocsc.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ocsc.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ocsc.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ocsc.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ocsc.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ocsc.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ocsc.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ocsc.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ocsc.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ocsc.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ocsc.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ocsc.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ocsc.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ocsc.wordpress.com&amp;blog=5005947&amp;post=74&amp;subd=ocsc&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ocsc.wordpress.com/2010/12/29/penggembalaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3bf84ad15ca8712c1f12cbffad628ab5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ocsc</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tafsir Perjanjian Baru Injil Matius 4:1-11</title>
		<link>http://ocsc.wordpress.com/2010/12/29/tafsir-perjanjian-baru-injil-matius-41-11/</link>
		<comments>http://ocsc.wordpress.com/2010/12/29/tafsir-perjanjian-baru-injil-matius-41-11/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Dec 2010 07:47:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ocsc</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKTIFITI BIARA KELOMPOK SANTO NIKOLAS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ocsc.wordpress.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Tafsir Matius 4:1-11 I. Pendahuluan Istilah “perjanjian” dalam Kitab Suci diartikan sebagai perjanjian antara Allah dengan manusia.[1] Perjanjian Allah dengan bangsa Israel dalam Perjanjian Lama telah digenapi dengan turunnya Kristus, dan dimulailah babak Perjanjian Baru yang telah dimateraikan dengan Darah Kudus Yesus di kayu salib. Salah satu kitab dari Perjanjian Baru adalah Kitab Matius. Matius [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ocsc.wordpress.com&amp;blog=5005947&amp;post=72&amp;subd=ocsc&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Tafsir Matius 4:1-11</strong></p>
<p><strong>I. </strong><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Istilah “perjanjian” dalam Kitab Suci diartikan sebagai perjanjian antara Allah dengan manusia.<a href="#_ftn1">[1]</a> Perjanjian Allah dengan bangsa Israel dalam Perjanjian Lama telah digenapi dengan turunnya Kristus, dan dimulailah babak Perjanjian Baru yang telah dimateraikan dengan Darah Kudus Yesus di kayu salib.</p>
<p>Salah satu kitab dari Perjanjian Baru adalah Kitab Matius. Matius adalah seorang pemungut cukai yang termasuk juga ke dalam dua belas rasul Yesus yang pertama menulis Injil buat orang Kristen bekas Yahudi di Palestina (Matius 9:9; 10:3). Matius sangat prihatin dengan keadaan sosial jemaat. Matius mengatakan bahwa persekutuan umat adalah kancah perjuangan untuk membangun persaudaraan dalam Tuhan. Pendapat ini didasarkan pada ulasan-ulasan Injil Matius. Selain itu, Matius dalam tulisan-tulisannya sangat menekankan pentingnya tata krama hidup menurut Taurat Musa. Matius menggambarkan Kerajaan Allah dengan kelompok murid-murid Yesus. <a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Penafsiran Alkitab tidak boleh melampaui kuasa Roh Kudus sehingga menimbulkan salah penafsiran yang menjerumuskan ke dalam kefanatikan, radikalisme ataupun kesesatan tertentu dibalik penafsiran-penafsiran yang tidak sesuai. Ilmu yang dikembangkan untuk menafsirkan adalah hermeneutika. Hermeneutika adalah ilmu yang mempelajari prinsip-prinsip penafsiran (bersifat umum dan teoritis). Kata “hermeneutika” berasal dari bahasa Yunani <em>hermēneuō</em>.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p><span id="more-72"></span></p>
<p>Adapun prinsip-prinsip umum dari hermeneutika, antara lain:</p>
<p>1.      Analisa kontekstual.</p>
<p>Kata “konteks” berasa; dari bahasa Latin <em>con </em>(= “bersama-sama”) dan <em>texere</em>/<em>text</em>/<em>textus </em>(= “rajutan”). Analisa konteks menuntut suatu kata/ayat harus dipahami dalam kaitan dengan ayat/perikop/pasal yang lain. Dengan kata lain, seorang penafsir tidak boleh menngambil ayat sembarangan.</p>
<p>2.      Analisa gramatikal (tata bahasa).</p>
<p>Analisa gramatikal menuntut suatu kata dipahami berdasarkan bahasa asli Alkitab. Bagi jemaat awam pemahaman bahasa asli bisa diganti dengan perbandingan berbagai versi Alkitab.</p>
<p>3.      Penafsiran <em>lexical </em>(arti kata).</p>
<p>Analisa <em>lexical </em>mengajarkan bahwa suatu kata memiliki arti tertentu dalam konteks tertentu. Penafsir bukan hanya dituntut mengetahui keberagaman arti suatu kata, tetapi arti kata tersebut dalam konteks tertentu atau menurut penulis tertentu.</p>
<p>4.      Penafsiran historis-kultural.</p>
<p>Analisa historis-kultural menuntut penafsir mengetahui sejarah maupun budaya pada jaman Alkitab yang melatarbelakangi suatu teks.</p>
<p>5.      Penafsiran teologis.</p>
<p>Penafsiran ini didasarkan pada keyakinan bahwa seluruh Alkitab adalah karya Allah, sehingga saling menjelaskan dan tidak ada bagian-bagian yang berkontradiksi. Penafsiran suatu ayat tidak boleh bertentangan dengan ayat yang lain.<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Namun, banyak lagi pengembangan-pengembangan ilmu tafsir Alkitab baik yang klasik maupun modern. Pada pembahasan ini menggunakan pendekatan tafsiran modern Perjanjian Baru.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>II. </strong><strong>Penafsiran Matius 4:1-11</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Injil Matius 4:1-11 membicarakan mengenai Pencobaan Yesus. Pencobaan ini disebut secara singkat dalam Injil Markus 1:12 (bnd. Lukas 4:1-13). Satu-satunya perbedaan dengan Lukas adalah susunan dari pencobaan kedua dan ketiga. Cerita Matius naik meningkat kepada suatu klimaks psikologis, sedangkan cerita Lukas seolah-olah terikat pada tempat-tempat. <a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Matius 4:1 menuliskan : <em>Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis (Then was Jesus led up of the Spirit into the wilderness to be tempted of the devil<a href="#_ftn6"><strong>[6]</strong></a>)</em>. Ini merupakan pekerjaan Roh sebab adalah perlu bagi Yesus untuk mengatasi pencobaan.<a href="#_ftn7">[7]</a> Hal ini ditunjukkan dari kata <em>a</em><em>n</em><em>h</em><em>q</em><em>h</em> <a href="#_ftn8">[8]</a>berarti membawa (Inggris: was led up), ditegaskan pada kata <em>p</em><em>e</em><em>i</em><em>r</em><em>a</em><em>s</em><em>q</em><em>h</em><em>n</em><em>a</em><em>i</em> <a href="#_ftn9">[9]</a>berarti dicobai (Inggris: to be tried), sehingga ayat ini menunjukkan bahwa Yesus benar-benar manusia yang dibawa Roh Allah.</p>
<p>Setelah Yesus diurapi dengan Roh Kudus (<em>Pneumatos</em>), mulailah pekerjaanNya yang besar itu. Mulai saat itu Yesus bukan lagi tukang kayu dari Nazaret, melainkan “Yang Diurapi” (Mesias). Masa persiapan yang sekian lamanya berlangsung sudah lewat, kini menunggu kewajiban yang berat. <a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Tetapi ada lagi satu hal yang harus dijalani Yesus, sebelum Ia boleh bekerja di Israel. Ia harus bergumul terlebih dahulu dengan Iblis (Si Pencoba= tempter, diabolos). PekerjaanNya akan mulai, dan nanti Ia akan berulang-ulang dicobai. Di kejadian ini dinyatakan bahwa Ia lebih kuat dari pada kekuasaan Iblis. <a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Matius 4:2 menuliskan : <em>Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus ( And when He had fasted forty days and forty nights, He was afterward and hungered<a href="#_ftn12"><strong>[12]</strong></a>)</em>. Yesus dibawa oleh Roh Kudus masuk ke padang gurun dekat Bebbara, jauh dari kota atau desa, suatu daerah yang sunyi dan berbukit-bukit. Kesitulah Yesus dibawa oleh Roh Kudus. Ditempat sunyi itu Ia hendak memikirkan pekerjaan yang kini menantikan Dia, dan disitu Ia berdoa dan merenungkan kehendak BapaNya, dan disitu pula dipikirkanNya tentang masa yang akan ditempuhNya serta sengsara yang akan dipikulNya. <a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Empat puluh hari di padang guru sesudah pembaptisan Yesus (bnd. Matius 3:13-17) yang mencerminkan 40 tahun orang Israel di padang gurun sesudah pembaptisan mereka sewaktu keluar  dari tanah Mesir (zaman Keluaran), dimana mereka sebagai anak Allah dipanggil keluar dari Mesir (Hosea 11:1). <a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Angka 40 adalah lambang masa yang genap-sempurna dikalangan Israel. Empat puluh tahun lamanya Musa tinggal digunung, 40 hari lamanya Elia berjalan ke Gunung Horeb, 40 tahun lamanya Raja Daud dan Salomo masing-masing duduk di tahta Kerajaan Israel. Konteks ini menyatakan bahwa Yesus harus tinggal di padang gurun selama 40 hari lamanya. Di padang gurun memanglah tidak ada makanan atau minuman apapun. Selama 40 hari, Yesus mencari persekutuan dengan BapaNya. Ia tidak merasa lapar atau dahaga, demikianlah sukacita hatiNya. Dalam Perjanjian Lama ada disebut dua orang yang berpuasa 40 hari lamanya. Ketika Musa berada diatas gunung Sinai bersama-sama dengan Tuhan 40 hari lamanya, ia “tidak makan roti dan minum air” (Keluaran 34:28). Dan ketika Elia berjalan ke gunung Horeb, ia pun tidak makan dan tidak minum 40 hari lamanya (1 Raja-raja 19:8). Kedua orang itu, Musa dan Elia, berpuasa 40 hari, ketika itu mereka bertemu dengan Allah. Yesus mengikuti jejak kedua orang nabi itu. <a href="#_ftn15">[15]</a> Hal ini dilakukan supaya Israel yakin akan kemanusiaan Yesus sekaligus kekuasaan Allah yang ada padaNya melebihi Nabi Musa dan Elia.</p>
<p>Kata <em>n</em><em>h</em><em>s</em><em>t</em><em>e</em><em>u</em><em>s</em><em>a</em><em>V</em><em> </em>(fasting<a href="#_ftn16">[16]</a>) yang berarti berpuasa. Sama seperti Musa, Yesus dalam puasa selama empat puluh hari empat malam bergumul (Ulangan 9:18, bnd. Keluaran 34:28; Ulangan 9:9) dan juga melihat “seluruh dunia/negeri” dari atas sebuah gunung yang tinggi (Ulangan 34:1-4)<a href="#_ftn17">[17]</a>. Dan, ayat ini juga menguatkan bahwa Yesus benar-benar manusia yang ditunjukkan dengan penekanan kata berpuasa yang khusus dilakukan manusia.</p>
<p>Matius 4:3 menuliskan:  <em>Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti”. (And then the tempter came to Him, he said, If Thou be the Son of God, command that these stones be made bread<a href="#_ftn18"><strong>[18]</strong></a></em>). Kata<em> </em><em>p</em><em>e</em><em>i</em><em>r</em><em>a</em><em>z</em><em>w</em><em>n</em> <a href="#_ftn19">[19]</a>diartikan <em>one-trying</em> (seorang pencoba), ini menunjukkan bahwa pekerjaan Iblis adalah mencobai.</p>
<p>Setelah 40 hari lamanya berpuasa, Yesus merasa lapar dan dahaga. BadanNya lemah dan tak berdaya; mulailah Iblis (si Pencoba=tempter) mencobaiNya. Kesempatan ini dipergunakan Iblis yang dengan liciknya berkata “<em>Jika Engkau Anak Allah</em>” (<em>e</em><em>i</em><em> </em><em>u</em><em>i</em><em>o</em><em>V</em><em> </em><em>e</em><em>i</em><em> </em><em>t</em><em>o</em><em>u</em><em> </em><em>q</em><em>e</em><em>o</em><em>u</em><a href="#_ftn20"><em><strong>[20]</strong></em></a><em>), </em>jadi Iblis telah mendengar apa yang Allah katakan ditepi Sungai Yordan, ketika Yesus dibaptis (lih. Matius 3;17). Ketika itu terdengar suara yang mengatakan: “<em>Inilah Anak yang Kukasihi..</em>”. Sipencoba itu tidak melupakannya, dan ingin menguji pernyataan Allah akan Yesus<a href="#_ftn21">[21]</a> (bnd. Kejadian 3:1). Seolah-olah Iblis ragu-ragu akan pernyataan Allah, ia ingin bukti dari Yesus bahwa Yesus sungguh-sungguh Anak Allah yang menolongNya, sehingga dapat membuat roti dari batu. Begitulah perkataan Iblis. Kita tidak dapat mengetahui apakah Iblis itu nampak oleh Yesus, apakah Iblis sanggup menampakkan dirinya secara badaniah. Malaikat-malaikat dapat “<em>menyamakan dirinya</em>” artinya mereka nampak berupa badan, tetapi apakah Iblis juga dapat berbuat demikian tidak dapat diketahui. Akan tetapi satu hal yang perlu diketahui adalah bahwa Iblis datang bukan dari dalam Yesus, melainkan dari luar. Yesus mendengar suara itu diluar diriNya. Iblis tidak dapat berkuasa ke dalam hati Adam dan Hawa, sebelum mereka berdosa. <a href="#_ftn22">[22]</a></p>
<p>Matius 4:4 menuliskan: <em>Tetapi Yesus menjawab: &#8220;Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.&#8221;(But He answered and said, It is written, Man shall not live by bread alone, but every word that proceedeth out of the mouth of God<a href="#_ftn23"><strong>[23]</strong></a>)</em>. Kata <em>&#8220;Ada tertulis” </em>(<em>g</em><em>e</em><em>g</em><em>r</em><em>a</em><em>p</em><em>t</em><em>a</em><em>i</em> = has been wriiten/it has been wriiten) ini menunjukkan ayat Ulangan 8:3, sambil menunjukkan kembali kepada sungut-sungut Israel tentang manna (Bilangan11:4-9). Jadi ini adalah pencobaan terhadap tubuh manusia (keinginan daging;bnd. Kejadian 3:6 “baik untuk dimakan”), untuk merasa tidak puas dengan pemeliharaan Allah, lalu mencoba memberi makan dengan perantaraan mukjizat untuk mencapai tujuanNya.<a href="#_ftn24">[24]</a></p>
<p>Tetapi Yesus telah membuat sebagai syarat dalam pekerjaanNya di dunia ini, bahwa kekuasaanNya akan dipergunakanNya untuk menyatakan kasihNya. Jika berdasarkan kasih maka kekuasaanNya menjadi besar dan mulia. <a href="#_ftn25">[25]</a></p>
<p>Matius 4:5 menuliskan: <em>Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah ( Then the devil taketh Him up into the Holy City, and setteth Him on a pinnacle of the temple<a href="#_ftn26"><strong>[26]</strong></a>)</em>. Kota suci (<em>agian polin<a href="#_ftn27"><strong>[27]</strong></a></em>)yang dimaksud adalah Yerusalem. Yerusalem menjadi pusat kebaktian Yahudi. Bubungan yang dimaksudkan dalam ayat ini barangkali adalah suatu menara atau penyangga. <a href="#_ftn28">[28]</a> Bubungan dalam Kitab Yunani <em>p</em><em>t</em><em>e</em><em>r</em><em>u</em><em>g</em><em>i</em><em>o</em><em>n</em> yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris <em>flyer-let</em> (halangan percobaan) atau<em> little-wing</em> (sayap,panggung). Kelihatannya menempatkan Yesus disana tidak secara harfiah.<a href="#_ftn29">[29]</a></p>
<p>Matius 4:6 menuliskan: lalu berkata kepada-Nya: <em>&#8220;Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.&#8221; (And saith unto Him, If Thou be the Son of God, cast Thyself down: for it is written, He shall give His angels charge concerning Thee: and in their hands they shall bear Thee up, lest at any time Thou dash thy foot against a stone)</em>. Ayat ini dicetuskan Iblis mengingat Mazmur 91:11-12.  Kata menjatuhkan diri terbayang pada jatuhnya Yesus pada saat memanggul salib, di dalam kesengsaraan yang juga dialamiNya untuk menanggung dosa manusia. Inilah pencobaan yang kedua yang dilakukan Iblis mengenai kekuasaan, kita dihadapkan dengan kekuatan-kekuatan jahat yang membuat kita tertunduk. Namun, dengan kekuatan Allah kita mampu mengusirnya.</p>
<p>Matius 4:7 menuliskan: <em>Yesus berkata kepadanya: &#8220;Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!&#8221; (Jesus said unto him, It is written again, thou shalt not tempt the Lord thy God).</em> Jawaban Yesus dari Ulangan 6:16, bukan berarti Iblis tidak boleh mencobai Yesus, tapi bahwa Yesus tidak boleh menguji Allah Bapa. Hal ini juga ditunjukkan dari Kitab Yunani  <em>e</em><em>k</em><em>p</em><em>e</em><em>i</em><em>r</em><em>s</em><em>e</em><em>i</em><em>V</em><em> </em>(bentuk futur<a href="#_ftn30">[30]</a>) yang berarti mencobai (<em>you-shall-be-putting-on-trial</em>). Ini menunjukkan kepada kejadian di masa dimana umat Israel menuntut tanda-tanda kehadiran Allah (Keluaran 17:1-7). Jadi ini adalah pencobaan terhadap pikiran (keinginan mata;bnd. Kejadian 3:6 “sedap kelihatannya”), supaya merasa tidak puas dengan cara-cara Allah bekerja lalu mencoba melaksanakan suatu rencana mukjizat-mukjizat yang hebat untuk mencapai maksudNya.<a href="#_ftn31">[31]</a></p>
<p>Matius 4:8-9 menuliskan: <em>Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: &#8220;Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.&#8221; (Again, the devil taketh Him up into an exceeding high mountain, and showeth Him all the kingdoms of the world, and the glory of them; and saith unto Him, All these things will I give Thee, if Thou wilt fall down and worship me)</em>. Gunung yang sangat tinggi nampaknya bukan gunung yang nyata.<a href="#_ftn32">[32]</a> Namun, kata <em>oroV </em>(mountain:gunung) pada Kitab Yunani menunjukkan kata benda atau <em>neuter</em> <a href="#_ftn33">[33]</a>, hal ini dapat saja menjadi kata benda yang dinyatakan secara alegoris.<a href="#_ftn34">[34]</a></p>
<p>Kerajaan dunia (<em>basilieaV tou kosmou</em>) dan kemegahannya menunjukkan arti bahwa Iblis yang dijatuhkan Allah (Wahyu 18:1-20) menguasai bumi dan seluruhnya, ditekankan pada kata <em>kosmou</em> (kosmos: seluruh jagad). Inilah puncak dari pencobaan itu, yakni pencobaan jiwa (keangkuhan hidup;bnd. Kejadian 3:5 “kamu akan menjadi seperti Allah”), supaya merasa tidak puas dengan Allah sendiri lalu dengan melaksanakan suatu rencana penyelewengan yang jahat untuk mencapai maksudNya. <a href="#_ftn35">[35]</a></p>
<p>Matius 4:10 menuliskan: <em>Maka berkatalah Yesus kepadanya: &#8220;Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!&#8221; (Then saith Jesus unto him, Get Thee hence, Satan: for it is written, thou shalt worship the Lord thy God, and Him only shalt thou serve). </em>Ayat yang  dikutip dari Ulangan 6:13 menunjuk kembali kepada peristiwa tentang anak lembu emas (Keluaran 32:1-6).</p>
<p>Kata <em>Satan</em> dalam terjemahan Inggris dan dalam kata di Kitab Yunani tidak menunjukkan kata Iblis (diaboloV). Kata <em>satan </em>ini ditunjukkan dalam bentuk vokatif<a href="#_ftn36">[36]</a> (kasus panggilan) yakni lawan <a href="#_ftn37">[37]</a>dengan penekanan kuat<a href="#_ftn38">[38]</a>. Dan, kata yang jelas untuk menundukkan Iblis adalah <em>proskunesieV</em> yang berarti menyembah atau perintah yang keras<a href="#_ftn39">[39]</a> (<em>you-shall-be-worshiping<a href="#_ftn40"><strong>[40]</strong></a></em>) dan, <em>latreusieV</em> yang berarti melayani, berbakti, beribadah.</p>
<p>Matius 4:11 menuliskan: <em>Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus (Then the devil leaveth Him, and behold, angels came and ministered unto Him).</em> Ayat ini menerangkan bahwa Iblis telah dikalahkan dengan kekuasaan Sabda Allah, dengan berulang-ulang kali atas nama Allah diucapkan Yesus untuk menunjukkan kerendahan hatinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>III. </strong><strong>Penutup</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Injil Matius 4:1-11 yang dipaparkan diatas menunjukkan suatu sikap kerendahan hati serta keteguhan dan kebulatan hati untuk mengusir segala yang jahat dalam batin yang menjerumuskan ke dalam dosa.</p>
<p>Pemaparan tafsir Injil Matius di atas menunjukkan tiga pencobaan yang senantiasa ada dan selalu ada dalam hidup manusia adalah kehausan akan keinginan daging, tunduk terhadap Mammon atau berhala kekayaan, dan menduakan Tuhan atau bersekutu dengan kekayaan atau roh-roh jahat.</p>
<p>Penafsiran yang dilakukan berdasarkan penerapan hermeneutika yang telah dijelaskan diatas, yakni: secara kontekstual, gramatikal, teologis dan leksikal serta teologis. <a href="#_ftn41">[41]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>IV. </strong><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>De Mol, Andre.2008. <em>Virtual Bible: Old Testament and New Testament: Interlinear Scripture Analyzer(ISA)</em>. Software diakses dari: <a href="http://bible.org/">http://bible.org/</a></p>
<p>Drewes, B.F. 2008. <em>Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru: Kitab Injil Matius hingga Kitab Kisah Para Rasul</em>. Jakarta: Gunung Mulia.</p>
<p>Walker, D.F. 2004. <em>Konkordansi Alkitab; Register Kata-kata dan Istilah dari Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam Terjemahan Baru</em>. Jakarta; Gunung Mulia.</p>
<p>Tim Editor. <em>Tafsir Alkitab Masa Kini</em>. Jakarta: Gunung Mulia.</p>
<p>The Gideons International. 1986. <em>The New Testament of Our Lord and Saviour Jesus Christ with Psalms and Provebs, King James Version.</em> England: National Publishing Company.</p>
<p>Lembaga Biblika Indonesia. 2001. <em>Alkitab Katolik-Deutrokanonika</em>.Ende: Arnoldus.</p>
<p>Lembaga Alkitab Indonesia. 2001. <em>Alkitab</em>. Jakarta: LAI.</p>
<p>Bavinck, J.H. 2004. <em>Sejarah Kerajaan Allah 2</em>. Terj. A. Simanjuntak. Jakarta: Gunung Mulia.</p>
<p>Adof Heuken, SJ. 2002. <em>Spritualitas Kristiani: Pemekaran Hidup Rohani selama Dua Puluh Abad</em>. Jakarta: Cipta Loka Caraka.</p>
<p>Tim Pastoral KWI. 1998<em>. Pengantar Perjanjian Baru</em>. Yogyakarta: Kanisius,.</p>
<p>Tim Penyusun. <em>Pendidikan Agama Katholik SMA: Kelas 2</em>. Medan: Bina Media.</p>
<p>Widagdo. 2010. <em>Hermeneutika</em>. diakses dari: <a href="http://www.gkri-exodus.or.id/">www.gkri-exodus.or.id</a> ,</p>
<div> <br />
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Tim Pastoral KWI, Pengantar Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius, 1998,hlm.65</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Penjabaran singkat ini dijabarkan secara universal dari KWI. Tim Penyusun Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katholik SMA, Medan: Bina Media, hlm.57-58</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Widagdo, <em>Hermeneutika</em>, 2010 diakses dari: <a href="http://www.gkri-exodus.or.id/">www.gkri-exodus.or.id</a> , hlm.1</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> <em>Ibid,</em>hlm.2-3</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Tafsiran Alkitab Masa Kini: Matius-Wahyu</em>, Jakarta: BPK Gunung Mulia, hlm.69</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> <em>The New Testament of Our Lord and Saviour Jesus Christ with Psalms and Proverbs: King James Version, </em>England: National Publishing Company, 1986</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a><em> Tafsir Alkitab Masa Kini,Loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Pdt. B.F. Drewes, MTh, dkk, <em>Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru, </em>Jakarta: BPK Gunung Mulia, hlm.7</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> &#8212;&#8212;,loc.cit</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Prof. Dr. J.H. Bavink, <em>Sejarah Kerajaan Allah 2</em>, terj.oleh A. Simanjuntak, 2004, Jakarta: Gunung Mulia, hlm.113</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> <em>Ibid,</em>hlm.114</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> <em>The New Testament of Our Lord and Saviour Jesus Christ with Psalms and Proverbs: King James Version,</em>loc.cit</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Prof. Dr. J.H. Bavink, <em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Lihat catatan kaki Kitab Suci Katholik-Perjanjian baru, cet. Thn.2001, Ende: Arnoldus, hlm.26</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Prof. Dr. J.H. Bavink, <em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Terjemahan ini diambil dari Alkitab Virtual, <em>ISA 2.1.3</em>, 2008, dikeluarkan Belanda, Andre de Mol.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> Catatan kaki Kitab Suci Katholik,<em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> <em>The New Testament of Our Lord and Saviour Jesus Christ with Psalms and Proverbs: King James Version,loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Alkitab Virtual, <em>ISA 2.1.3</em>, <em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> <em>&#8212;-loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> <em>Tafsiran Alkitab Masa Kini,Loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> Prof. Dr. J.H. Bavink, hlm.115</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> <em>The New Testament of Our Lord and Saviour Jesus Christ with Psalms and Proverbs: King James Version,loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref24">[24]</a> <em>Tafsiran Alkitab Masa Kini,Loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref25">[25]</a> Prof. Dr. J.H. Bavink, hlm.116</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref26">[26]</a> <em>The New Testament of Our Lord and Saviour Jesus Christ with Psalms and Proverbs: King James Version,loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref27">[27]</a> Alkitab Virtual, <em>ISA 2.1.3</em>, <em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref28">[28]</a> <em>Tafsiran Alkitab Masa Kini,Loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref29">[29]</a><em>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;,Loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref30">[30]</a> Pdt. B.F. Drewes, MTh, dkk, <em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref31">[31]</a> <em>Tafsiran Alkitab Masa Kini,Loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref32">[32]</a> <em>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;,Loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref33">[33]</a> Pdt. B.F. Drewes, MTh, dkk, <em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref34">[34]</a> Alegoris adalah cara menafsirkan Kitab Suci yang menggunakan satu hal untuk mengerti hal lain  dengan lebih baik, misalnya hubungan antara Israel (PL) dan Gereja (PB) dianggap sudah dilambangkan oleh hubungan antara Ismail dan Isaak, kedua anak Abraham. Adof Heuken, SJ, <em>Spritualitas Kristiani: Pemekaran Hidup Rohani selama Dua Puluh Abad</em>, Jakarta: Cipta Loka Caraka, 2002, hlm.44</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref35">[35]</a> <em>Tafsir Alkitab Masa Kini,Loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref36">[36]</a> Pdt. B.F. Drewes, MTh, dkk,hlm.8</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref37">[37]</a> &#8212;&#8212;,<em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref38">[38]</a> Penjelasan dapat dilihat dari Concordant View Alkitab ISA virtual.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref39">[39]</a> Pdt. B.F. Drewes, MTh, dkk,hlm.8</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref40">[40]</a> Terjemahan lepas dari Alkitab ISA virtual (G3452</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref41">[41]</a> Widagdo,hlm.2</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ocsc.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ocsc.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ocsc.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ocsc.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ocsc.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ocsc.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ocsc.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ocsc.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ocsc.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ocsc.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ocsc.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ocsc.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ocsc.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ocsc.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ocsc.wordpress.com&amp;blog=5005947&amp;post=72&amp;subd=ocsc&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ocsc.wordpress.com/2010/12/29/tafsir-perjanjian-baru-injil-matius-41-11/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3bf84ad15ca8712c1f12cbffad628ab5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ocsc</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tafsir Perjanjian Baru Injil Markus 6:1-5</title>
		<link>http://ocsc.wordpress.com/2010/12/29/tafsir-perjanjian-baru-injil-markus-61-5/</link>
		<comments>http://ocsc.wordpress.com/2010/12/29/tafsir-perjanjian-baru-injil-markus-61-5/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Dec 2010 07:45:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ocsc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ocsc.wordpress.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Tafsir Markus 6:1-5 I. Pendahuluan Injil Markus diwariskan kepada kita dalam bahasa Yunani. Dalam abad ke-20 bahasa Yunani dalam Injil Markus sering dicap canggung. Tetapi “cacat” ini (cacat kalau dilihat dari sudut bahasa dan gaya bahasa Yunani) dinilai positif, sebab dianggap sebagai bukti keaslian Markus. Karena bahasa Markus terpengaruh oleh gaya bahasa Semit (tegasnya bahasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ocsc.wordpress.com&amp;blog=5005947&amp;post=70&amp;subd=ocsc&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Tafsir Markus 6:1-5</strong></p>
<p><strong>I. </strong><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Injil Markus diwariskan kepada kita dalam bahasa Yunani. Dalam abad ke-20 bahasa Yunani dalam Injil Markus sering dicap canggung. Tetapi “cacat” ini (cacat kalau dilihat dari sudut bahasa dan gaya bahasa Yunani) dinilai positif, sebab dianggap sebagai bukti keaslian Markus. Karena bahasa Markus terpengaruh oleh gaya bahasa Semit (tegasnya bahasa Aram), ia masih dekat dengan lapis tradisi yang paling tua, yang masih memakai bahasa Aram, demikianlah berpendapat sejumlah pakar. J.C. Doudna telah melakukan penelitian khusus mengenai bahasa Yunani dalam Injil Markus. Menurutnya, tidak dapat dipastikan bahwa naskah Injil itu merupakan terjemahan dari bahasa Aram, tetapi ia menduga kuat bahwa salah satu versi lebih tua benar-benar diterjemahkan dari bahasa Aram ke dalam bahasa Yunani. Lain pula pendapat M. Reiser. Dalam karyanya <em>Syntax und Stil des Markusevangeliums im Licht der Hellenistichen Volksliteratur</em> (Tübingen,1984) dibuktikannya bahwa sering kali orang memandang ungkapan tertentu sebagai “semitisme” (terbentuk menurut gaya bahasa semitis) hanya karena mereka sendiri kurang menguasai seluk beluk bahasa Yunani. Menurut Reiser, unsur semitis itu dapat ditemukan hanya dalam kosakata, semantik (pemakaian kata-kata) dan fraselogi (penyusunan kalimat) Injil Markus. Sebaliknya, dalam sintaks dan gaya Injil itu tidak muncul semitisme. Bahasa Markus dapat dijuluki “Bahasa Yunani sebagaimana yang keluar dari mulut seorang Yahudi”. Bahasanya mempunyai warna khusus, sama seperti bahasa Jerman yang dipakai dalam lingkungan gereja atau dalam lingkungan penganut ideologi tertentu mempunyai warna tersendiri. <a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Rangka Injil Markus adalah paling tidak sistematik. Pembukaan Injil merangkum pewartaan oleh Yohannes Pembaptis, baptisan Yesus dan pencobaanNya di padang gurun,1:1-13;kemudian beberapa petunjuk tentang karya Yesus di Galilea, 1:14-7:23;menyusullah perjalanan Yesus bersama murid-muridNya ke daerah Tirus dan Sidon, ke Dekapolis, di kawasan Kaisarea Filipi, lalu Yesus kembali ke Galilea, 7:24-9:50. Akhirnya sebuah perjalanan lain melalui daerah Perea dan kota Yerikho menuju Yerusalem hendak menempuh sengsara dan kebangkitan, 10:1-16:8. Tanpa berkata tentang urutan kejadian-kejadian secara terperinci nampaklah rangka tersebut agak dibuat-buat. Sebab mungkin sekali, sebagaimana dibuktikan Injil keempat (Yohannes), bahwa Yesus beberapa kali pergi ke Yerusalem sebelum Paskah-sengsara. Namun demikian, garis-garis besar Markus memperlihatkan suatu perkembangan yang perlu dipertahankan, baik karena nilai historisnya maupun karena makna teologisnya. <a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Tujuan dari penafsiran yang baik bukanlah keunikan. Penafsiran yang unik biasanya salah. Ini bukannya mengatakan bahwa penafsiran yang benar terhadap sebuah text tidak akan terdengar unik ditelinga orang yang pertama kali mendengarnya. Yang mau dikatakan adalah bahwa kita menafsirkan bukan supaya penafsiran itu menjadi unik. Keunikan bukanlah tujuan dari penafsiran.</p>
<p>Tujuan dari penafsiran yang baik adalah untuk menangkap arti yang jelas dari teks. Penafsiran yang bagus harus diuji yaitu apakah tafsiran tersebut pas dengan konteks. Tapi jika tujuan dari penafsiran adalah untuk menangkap arti yang jelas, kenapa harus menafsirkan? kenapa tidak sekedar baca saja?</p>
<p>Pertanyaan dasar yang harus ditanyakan ketika kita membaca text Alkitab (menafsirkan), yaitu pertanyaan yang berhubungan dengan kontext. Pertanyaan yang berhubungan dengan kontext dasarnya terbagi 2 yaitu sejarah dan literal. (1) <em>Konteks Sejarah </em>berbeda-beda dalam tiap buku. Ini berhubungan dengan budaya dan jaman sang penulis dan pembaca pada jamannya. Untuk itu kita butuh sumber luar seperti kamus Alkitab (Bible Dictionary) misalnya International Standard Bible Encyclopedia dll. (2) Konteks literal ini adalah bagian vital untuk kita bisa berexegesis dengan baik. <a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Dalam penafsiran yang akan dilakukan berdasarkan prinsip hermeneutika, yakni: analisis kontekstual (Analisa konteks menuntut suatu kata/ayat harus dipahami dalam kaitan dengan ayat/perikop/pasal yang lain), analisa gramatikal (menuntut suatu kata dipahami berdasarkan bahasa asli Alkitab), penafsiran kata (leksikal: suatu kata memiliki arti tertentu dalam konteks tertentu), dan penafsiran teologis. <a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>II. </strong><strong>Penafsiran Markus 6:1-5</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Injil Markus 6:1-5 berbicara tentang penolakan bangsa Yahudi terhadap Yesus. Dari rumah Yairus, Yesus menuju Nazaret (Markus 5:21-43). Ini dapat dilihat dari keselarasan perikop yang lalu, yakni 5:21-43. Markus mencatat hal ini dengan kata-kata: “<em>Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asalNya, sedang murid-muridNya mengikuti Dia</em>” (6:1). Catatan ini langsung menyambung keterangan sebelumnya: Yesus memasuki sebuah rumah (5:38); di dalamnya Dia membangkitkan seorang anak perempuan; kemudian Dia meninggalkan lagi rumah itu. Pada saat itu Dia dapat saja berhenti untuk dipuji-puji orang banyak. Sebaliknya, Dia mengundurkan diri. Dia berangkat pergi ke kota kelahiranNya. Kunjungan ke Nazaret ini berlangsung dalam periode sesudah hari Yesus berkata-kata dalam perumpamaan (bnd.juga Matius 13:53-54). Maka kunjungan ini bukanlah kunjungan yang diceritakan dalam Lukas 4:14-30, yang berlangsung pada awal pertama pemberitaan Yesus di Galilea. Markus bahkan tidak menyebutkan nama kota <em>Nazaret</em>, tetapi hanya menyebutya sebagai “tempat asal Yesus”. <a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p><em>Ditempat asalNya</em> jelas menunjukkan maksudnya adalah Nazaret, seperti ditunjukkan dalam hubunganNya. Kunjungan ini harus dibedakan dari kunjungan dalam Lukas 4:16-30, yang terjadi setahun lebih dahulu. Waktu itu Yesus meninggalkan Nazaret sebagai perseorangan dengan urusan pribadi. Sekarang Yesus kembali sebagai Guru, yang dikelilingi oleh muridNya, agaknya untuk memberikan kesempatan lebih lanjut kepada orang sedesaNya. Tapi hasilnya sama dengan kunjungan yang dahulu. Keirihatian mereka bergejolak. Tidak dapat dibayangkan bahwa seorang dari desa mereka membawa amanat dari sorga. Sikap ini disebabkan ketidakpercayaan mereka (ayat 6). <a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Kitab Yunani menunjukkan kata<em> patrida</em> <a href="#_ftn7">[7]</a> (father-place: diterjemahkan ke dalam Inggris sehari-hari <em>own-country</em>)  yang berarti tempat asal. Namun, kata Yunani yang ditunjukkan oleh Drewes <a href="#_ftn8">[8]</a> kata <em>patriV</em> sebagai tanah air, tempat asal. Hal ini menunjukkan juga keeratan arti kata yang menyatakan tempat asal Yesus yang kita ketahui adalah Nazaret.</p>
<p>Markus 6:2 menuliskan <em>Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: “Dari mana diperolehNya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepadaNya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? (And when the Sabbath day was come, He began to teach in the synagogue: and many hearing Him were astonished, saying, From whence hath this Man these things? And what wisdom is this which is given unto Him, that even such mighty works are wrought by His hands?<a href="#_ftn9"><strong>[9]</strong></a></em>). Hari Sabat adalah hari pertemuan kaum Yahudi untuk mendengarkan pengajaran dan pembacaan Kitab Suci. Ini menjadi bagian dari liturgi Yahudi. Di hari Sabat ini, setiap orang tidak dapat melakukan pekerjaan apapun.</p>
<p>Ayat 6:2 menggambarkan tanggapan banyak pendengar selagi upacara ibadah masih sedang berlangsung (<em>akountes</em>, bukan <em>akounsantes</em>). Mereka terkejut dan bingung. Kata kerja yang dipakai (<em>eksplêssomai</em>) bersifat netral: olehnya diungkapkan ketegangan emosional yang hebat, apakah ketegangan itu disebabkan rasa kagum atau oleh sikap bermusuhan. Dalam ayat 2b menyusullah berbagai reaksi bernada pertanyaan, yang mengandung pengakuan: orang melihat dengan jelas bahwa Yesus memiliki hikmat yang luar biasa dan melakukan perbuatan yang penuh kuasa. Meskipun begitu, orang tidak bergembira, tetapi tercengang. Mereka semua bingung. Bagaimana mungkin “semuanya itu” dimiliki manusia ini? Karena mereka mengajukan beberapa pertanyaan, yang tidak bernada bermusuhan, tetapi menandakan sikap menjaga jarak: “dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apakah pula yang diberikan kepada Dia? Dan mukjizat-mukjizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tanganNuya?”. Rupa-rupanya mereka mendengar kabar tentang mukjizat-mukjizat itu; disamping itu, pasti murid-murid Yesus dapat memberi keterangan tentangnya. <a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Yesus menunjukkan keragu-raguan mereka untuk menerima pengajaran Yesus dan pengakuan tentang Anak Allah yang disandang Yesus. Kata <em>p</em><em>o</em><em>q</em><em>e</em><em>n</em><a href="#_ftn11"><em><strong>[11]</strong></em></a> (<em>which-place</em>/whence:darimana<em>) </em>yang dibedakan dari <em>poteron</em> <a href="#_ftn12">[12]</a>(<em>which-more</em>/whether: apakah kamu tahu?) merupakan kata yang mempertanyakan. Orang-orang Nazaret mempertanyakan dari mana (asal dan siapa), mereka mempertimbangkan semua pernyataan Yesus.</p>
<p>Kebijaksanaan dan kuasaNya tidak dapat dipungkiri, tapi mereka mempersoalkan asal kuasa ilahi dari segalanya itu. Memang logis, bahwa jika hal yang jelas bersifat adikodrati tidak datang dari Allah, maka datangnya harus dari Iblis. Inilah hakikat ketidakpercayaan: kekeraskepalaan menolak bukti dan mengakui kehadiran kuasa Allah. Tidak ada sesuatu pun sedemikian itu merintangi kuasa Allah. Bahwa <em>Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun disana</em> (ayat 5) adalah satu dari pernyataan yang paling tegas dalam Kitab-kitab Injil, tapi menunjukkan, bahwa mukjizat-mukjizat Tuhan Yesus bukanlah sihir semata-mata. Mukjizat-mukjizat itu secara erat dihubungkan dengan keadaan moril dan iman orang. Sekalipun Allah mahakuasa, dalam kedaulatanNya Ia tidak berkenan memberkati dalam gejolak pemberontakan manusia. <a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Markus 6:3 menuliskan : “<em>Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudaraNya perempuan ada bersama kita?”Lalu mereka kecewa dan menolak Dia (Is not this the carpenter, the son of Mary, the brother of James, and Joses, and Juda, and Simon? And are not His sisters here with us? And they were offended at Him)</em>. Pernyataan “tukang kayu” <em>t</em><em>e</em><em>k</em><em>t</em><em>w</em><em>n</em><a href="#_ftn14"><em><strong>[14]</strong></em></a><em> </em>di dalam Kitab Yunani diartikan <em>artisan </em>(pekerja tangan yang ahli<a href="#_ftn15">[15]</a>) dan terjemahan bebas: <em>carpenter </em>(tukang kayu). Dan sejajar dengan kata <em>t</em><em>e</em><em>k</em><em>t</em><em>w</em><em>n</em><em>,</em> ada kata <em>t</em><em>e</em><em>c</em><em>n</em><em>i</em><em>t</em><em>h</em><em>V</em> yang berarti teknisi. Pekerjaan Yesus sebagai tukang kayu diikuti dari ayahNya, Yusuf, yang bekerja sebagai tukang kayu (lih.juga Matius 13:55). Namun, di ayat tersebut tidak mencantumkan Yusuf (“anak Yusuf”) melainkan Maria, padahal dari segi tradisi Yahudi harus menempatkan <em>bar</em> (anak dari..). Menurut pandangan Katolik Markus mungkin menyamarkan untuk mengemukakan bahwa Yesus diperkandung oleh perawan<a href="#_ftn16">[16]</a>. Dan keikutsertaan saudara-saudara Yesus ini menimbulkan satu tafsiran bahwa Maria setelah melahirkan Yesus, melahirkan lagi anak-anak yang disebutkan. Namun, sejarah masih ragu akan hal tersebut.</p>
<p>Ayat 6:3, kaum Yahudi tidak bermaksud menjelekkan Yesus, tetapi mereka hanya mau menggambarkan Dia sebagai sekedar orang Nazaret. Karena itu, seharusnya ucapan-ucapan mereka tentang Yesus tidak diartikan sebagai ungkapan permusuhan. Sebutan “tukang kayu tidak bersifat menghina, tetapi menunjukkan bahwa orang mengenal Yesus sebagai tukang kayu yang pernah aktif di desa itu<a href="#_ftn17">[17]</a>. Dalam hal itu Yesus berguru pada bapakNya (di bumi ini), Yusuf, yang juga seorang tukang kayu. Tidak masuk akal kalau di sini julukan “anak Maria” dianggap bernada kecaman (anak haram)<a href="#_ftn18">[18]</a>. Karena yang mengucapkannya penduduk Nazaret, tidak wajar bila julukan tersebut dianggap sebagai acuan ke kelahiran dari seorang anak dara. Julukan itu bersifat praktis, sekedar penyebutan fakta, bukan catatan resmi mengenai silsilah Yesus (seperti halnya sebutan “anak Yusuf” dalam Lukas 4:22 dan Yohannes 6:42). Namun, mungkin di dalamnya terungkap bahwa pada waktu itu Yusuf telah meninggal, sehingga dalam kehidupan sehari-hari Yesus dianggap sebagai anggota tertua rumah tangga Maria, si janda. <a href="#_ftn19">[19]</a></p>
<p>Dan mengenai saudara laki-laki Yesus, ternyata orang mengenalnya. Namun, saudara perempuan Yesus tidak disebut, tetapi dikenal juga, karena semua tinggal di desa itu. Nazaret bukan hanya tempat asal Yesus yang resmi, melainkan juga kampung halamanNya, tempat tinggal keluargaNya. Maka Nazaret hanya memperhatikan profesi dan keluargaNya saja.</p>
<p>“<em>Lalu mereka menolak Dia</em>”, pernyataan ini belum tentu orang-orang Nazaret mengambil sikap bermusuhan terhadap Dia. Maka tidak tepat jika cerita ini diberi nama “penolakan Yesus di Nazaret”, sebagaimana sering orang lakukan. Injil Markus memakai kata kerja yang sama (<em>skandalizomai</em>) sehubungan dengan para murid yang melarikan diri dari Getsemani (14:27,29).<a href="#_ftn20">[20]</a> Tetapi jika dianalisis dari teks Kitab Yunani Markus kata penolakan adalah <em>eskandalizonto</em> <a href="#_ftn21">[21]</a>yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris <em>they-were-snared</em> (menjerat). Drewes menunjukkan kata <em>eskandalizonto</em> dari <em>eskandalizw<a href="#_ftn22"><strong>[22]</strong></a> </em>berarti menjatuhkan, menyebabkan berbuat dosa; <em>pasif</em> : jatuh, <em>d.s</em> tidak percaya, menolak. Bila dilihat secara harfiah saja, maka dinilai bahwa orang-orang Nazaret memang bermusuhan dengan Yesus disaat mendengarkan perkataanNya bukan jauh sebelumnya.</p>
<p>Markus 4:4 menuliskan <em>Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, diantara kaum keluarganya dan dirumahnya” (But Jesus said unto them, A prophet is not without honour, but in his own country, and among his own kin, and in his own house)</em>. Agaknya perkataan Yesus ini tidak mengandung arti bahwa para nabi dihormati di mana-mana kecuali di rumah mereka sendiri. Bukankah Dia sering mengingatkan pada penolakan umum terhadap para nabi (Matius 5:12;23:31,35,37)? Maka perlu memperhatikan bunyi harfiah perkataan tadi. Dengan perkataan lain: Seandainya seorang nabi dihormati ditempat asalnya, niscaya dimana pun ia dihormati. Tetapi kenyataannya malah terbalik: Di mana pun ia tidak dihormati, terutama di kota kelahirannya. Ucapan ini tidak bersifat umum saja, tetapi mengandung arti sangat dalam. Yesus harus ditolak sebab Dia tidak terhormat di mata teman sekota dan sanak saudaraNya, yang pada saat itu tidak bersedia mengakui bahwa Dia bukan hanya salah seorang kenalan dari lingkungan mereka sendiri (bnd.Yes.53).<a href="#_ftn23">[23]</a></p>
<p>Markus 4: 5 menuliskan: <em>Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun disana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tanganNya atas mereka (And He could there do no mighty work, save that He laid His hands upon a few sick folk, and healed them</em>). Yesus tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun di sana, bukan karena Dia tidak mampu. Sesungguhnya, Dia menyembuhkan “beberapa orang sakit” dengan meletakkan tanganNya atas mereka. Tetapi, penyembuhan beberapa orang saja itu menunjukkan bahwa Yesus tidak sempat menyembuhkan yang lain, karena mereka tidak datang.<a href="#_ftn24">[24]</a></p>
<p>Kata tidak dapat mengadakan dalam teks Yunani adalah “<em>ekei  oudemian dunamin poihsai</em>” (<em>there not-yet-one ability to do</em>: tidak ada satu pun kemampuan yang dilakukan). Ini mengindikasikan secara harfiah bahwa Yesus enggan melakukan perbuatan mukjizat di Nazaret, mungkin karena kekeraskepalaan dan kekurangpahaman akan hadirat Allah.</p>
<p>Ayat ini menunjukkan Matius  (15:38) melunakkan pernyataan itu dengan menulis, “tidak banyak mukjizat dilakukanNya”, sebagai ganti tulisan Markus <em>tidak dapat melakukan satu mukjizat pun di sana</em>. Tetapi pernyataan Markus tidak mengandung arti bahwa Yesus adalah tanpa kuasa, melainkan bahwa Ia tidak dapat berbuat sesuai dengan tujuanNya, jika tidak ada iman.<a href="#_ftn25">[25]</a> Penegasan ini dilanjutkan juga pada ayat 6.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>III. </strong><strong>Penutup</strong></p>
<p>Sungguh sukar bagi penduduk Nazaret untuk mempercayai, bahwa Yesus adalah Mesias, karena mereka mengenal Dia sejak kecil. Sukar sekali bagi mereka untuk mengakui bahwa Dialah Juruselamat. Dosa besar penduduk Nazaret itu adalah  bahwa mereka hanya kagum saja. Mereka memuji Yesus, lainnya tidak. Nabi Yehezkiel pun sudah mengalaminya (Yeh. 33:30-32). Tak ada gunanya kalau kita hanya memuji-muji Yesus saja, yang perlu adalah: kita harus mengerti, bahwa kita adalah orang-orang tertawan dan miskin, jadi perlu ditolong.<a href="#_ftn26">[26]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>IV. </strong><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Tim Editor. 1982. <em>Tafsiran Alktab Masa Kini: Matius-Wahyu</em>. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih.</p>
<p>LBI. 2001. <em>Alkitab-Deutrokanonika</em>. Jakarta: Lembaga Biblika Indonesia.</p>
<p>De Mol, Andre. 2008. <em>Alkitab Virtual: Kitab-kitab Ibrani dan Yunani, ISA</em>. (Software)</p>
<p>Van Bruggen, Jakob. 2006. <em>Markus: Injil menurut Petrus</em>. terj.oleh Dr.Th. van den End. Jakarta: Gunung Mulia.</p>
<p>Sproul,R.C. 1994. <em>Mengenali Alkitab</em>. Seminari Alkitab Asia Tenggara-Malang.</p>
<p>Yakub Tri Handoko. <em>Hermeneutika: Cara Menafsirkan Alkitab secara Sederhana</em>, diakses dari <a href="http://www.gkri-exodus.or.id/">http://www.gkri-exodus.or.id/</a></p>
<p>Drewes, B.F. 2008. <em>Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru</em>. Jakarta: Gunung Mulia.</p>
<p>Batey, R.A. 1984.<em>“Is not this the Carpenter?”</em> (The New Testament Studies 30. United State.</p>
<p>Stauffer, E. 1969. <em>Jeschu ben Mirjam</em>, dalam: E.E. Ellis; M. Wilcox (peny.), <em>Neotestamentica et Semitica</em>. Edinburgh.</p>
<p>LBI. 2001. <em>Alkitab-Deutrokanonika</em>. Jakarta: Lembaga Biblika Indonesia.</p>
<p>KWI. 2001. <em>Alkitab Katolik</em>. Ende: Arnoldus.</p>
<p>The Gideons International<em>. </em>1995. <em>The New Testaments-King James Version</em>. Jakarta: LAI.</p>
<p>&nbsp;</p>
<div> <br />
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Jakob van Bruggen, <em>Markus: Injil menurut Petrus</em>, terj.oleh Dr.Th. van den End,2006, Jakarta: Gunung Mulia, hlm.15-16</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat Pendahuluan Injil Alkitab Katolik,Ende: Arnoldus, 2001, hlm.15</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> R.C.Sproul,<em>Mengenali Alkitab</em>, Seminari Alkitab Asia Tenggara-Malang, 1994, hlm.65</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Disadur dari: Yakub Tri Handoko, M.Th, <em>Hermeneutika: Cara Menafsirkan Alkitab secara Sederhana</em>, diakses dari <a href="http://www.gkri-exodus.or.id/">http://www.gkri-exodus.or.id/</a></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Jakob van Bruggen, hlm.192-193</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Tim Editor, <em>Tafsir Alkitab Masa Kini 3</em>, Jakarta: Gunung Mulia, hlm.145</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Terjemahan ini diambil dari Alkitab Virtual, <em>ISA 2.1.3</em>, 2008, dikeluarkan Belanda, Andre de Mol.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Pdt,B.F.Drewes, M.Th,<em>Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru</em>, 2008, Jakarta: Gunung Mulia, hlm.121</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> The Gideons International<em>, The New Testaments-King James Version</em>, Jakarta: LAI,1995</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Jakob van Bruggen, hlm.194</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Pdt,B.F.Drewes, M.Th, <em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Lihat Alkitab Virtual ISA, <em>poteron</em>. Adj.Inv</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a>Tim Editor, <em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Lihat Alkitab Virtual ISA, menunjukkan kata benda (noun)</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Hornby<em>, Oxford English Dictionary</em>, 1987</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Lih. Catatan kaki Alkitab-Deutrokanonika, Jakarta: LBI, 2001</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> Batey, R.A., <em>“Is not this the Carpenter?”</em> (The New Testament Studies 30, 1984, p.249</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Stauffer, E., <em>Jeschu ben Mirjam</em>, dalam: E.E. Ellis; M. Wilcox (peny.), <em>Neotestamentica et Semitica</em>, Edinburgh, 1969, p.119</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Jakob van Bruggen, hlm.195</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> &#8212;&#8211;,<em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> Lihat Alkitab Virtual ISA, menunjukkan imperfek pasif</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> Pdt,B.F.Drewes, M.Th, hlm.122</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> Jakob van Bruggen, hlm.196</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref24">[24]</a> &#8212;&#8212;&#8212;,<em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref25">[25]</a> Tim Editor, <em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref26">[26]</a> Prof. Dr. J.H. Bavinck, <em>Sejarah Kerajaan Allah 2</em>, Jakarta: Gunung Mulia, 2004, hlm.185-187</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ocsc.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ocsc.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ocsc.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ocsc.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ocsc.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ocsc.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ocsc.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ocsc.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ocsc.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ocsc.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ocsc.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ocsc.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ocsc.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ocsc.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ocsc.wordpress.com&amp;blog=5005947&amp;post=70&amp;subd=ocsc&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ocsc.wordpress.com/2010/12/29/tafsir-perjanjian-baru-injil-markus-61-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3bf84ad15ca8712c1f12cbffad628ab5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ocsc</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tafsir Perjanjian Baru 2 Korintus 9:6-14</title>
		<link>http://ocsc.wordpress.com/2010/12/29/tafsir-perjanjian-baru-2-korintus-96-14/</link>
		<comments>http://ocsc.wordpress.com/2010/12/29/tafsir-perjanjian-baru-2-korintus-96-14/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Dec 2010 07:42:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ocsc</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKTIFITI BIARA KELOMPOK SANTO NIKOLAS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ocsc.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Tafsir 2 Korintus 9:6-14 I. Pendahuluan Surat Paulus kepada jemaat di Korintus dengan bagus dan tepat menyoroti watak dan semangat Paulus, tetapi juga menyajikan suatu ajaran yang penting sekali. Di dalamnya ditemukan, khususnya dalam 1 Korintus, informasi dan keputusan-keputusan mengenai beberapa soal yang membingungkan jemaat Kristen purba dan tentang cara hidup jemaat itu, baik sehubungan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ocsc.wordpress.com&amp;blog=5005947&amp;post=67&amp;subd=ocsc&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Tafsir 2 Korintus 9:6-14</strong></p>
<p><strong>I. </strong><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Surat Paulus kepada jemaat di Korintus dengan bagus dan tepat menyoroti watak dan semangat Paulus, tetapi juga menyajikan suatu ajaran yang penting sekali. Di dalamnya ditemukan, khususnya dalam 1 Korintus, informasi dan keputusan-keputusan mengenai beberapa soal yang membingungkan jemaat Kristen purba dan tentang cara hidup jemaat itu, baik sehubungan dengan keadaan umat sendiri, seperti kemurnian akhlak, 1 Korintus 5:1-13; 6:12-20. <a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Diantara segala surat Paulus, surat kedua kepada jemaat Korintus ini termasuk yang terbaik. Dalam surat ini kadang-kadang Paulus bersikap keras seperti seorang bapa, kemudian lembut lagi seperti seorang ibu. Oleh karena  di Korintus masih ada orang-orang yang menyangsikan Paulus dan yang memandang rendah kepadanya, maka dalam surat kedua Paulus banyak menulis tentang dirinya sendiri dan apa yang diperbuat Allah dalam hidupnya. Dari bab 1 sampai 9, Paulus membicarakan pertobatan yang terjadi di Korintus.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><span id="more-67"></span></p>
<p>Untuk penafsiran (hermeneutika) ada empat prinsip utama dalam menafsirkan Alkitab, yaitu: <a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>1.      Penafsiran secara wajar. Alkitab harus ditafsirkan secara wajar (Ing. <em>Historico-grammatical method</em>, yakni metode berdasarkan sejarah dan tata bahasa). Menurut prinsip ini, yang terpenting dalam tafsiran suatu ayat atau perikop adalah arti wajarnya. “Yang wajar” harus dibedakan dengan “yang harfiah”, yaitu cara baku yang tidak memperhatikan kiasan, metafora, gaya sastra dan lain lain. Alkitab harus ditafsirkan: (a) menurut arti aslinya, (b) menurut bentuk sastranya, (c) menurut konteksnya.</p>
<p>2.      Penafsiran menurut Kitab Suci. Persoalan mengenai pengertian yang sebenarnya dan selengkapnya dari suatu bagian Alkitab, maka kejelesan harus dicari melalui bagian-bagian lain yang berbicara dengan lebih jelas. Alkitab harus ditafsirkan: (a) menurut tujuan Alkitab, (b) berdasarkan penjelasan dari bagian lain yang temanya sama, (c) berdasarkan penjelasan yang datang kemudian dan lebih lengkap.</p>
<p>3.      Penafsiran oleh Roh. Alkitab hanya dapat ditafsirkan dengan bantuan Roh Kudus. Pengertian sejati tidak mungkin bagi kita secara alami, tetapi merupakan pemberian Allah (Matius 11:25;16:17) melalui RohNya (Yohannes 16:13). Prinsip ini mengandung tantangan spiritual yang mendalam. Roh Allah adalah kudus; karena itu, apa yang dimengerti oleh seseorang dari kebenaranNya tidak hanya berhubungan dengan daya pikir saja, tetapi  terlebih dengan ketaatannya.</p>
<p>4.      Penafsiran secara dinamis. Penafsiran Alkitab tidak terbatas hanya pada dari tambang kebenaran abadi Allah harus diangkat ke permukaan dan dipergunakan. Pertama, menanyakan maknanya pada masanya serta dalam konteksnya sendiri dan apa maksudnya dalam konteks seluruh Alkitab. Kemudian bertanya, apa maknanya firman itu sekarang, pada saat ini, disini, dalam  kehidupan jemaat, bagi orang itu, atau bagi diri sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>II. </strong><strong>Tafsiran 2 Korintus 9:6-14</strong></p>
<p>2 Korintus 9:6-14 merupakan lanjutan dari surat Paulus pada ayat 1-5. Bab 9 ini merupakan sepucuk surat kecil kepada jemaat di Akhaya, yang kemudia disisipkan ke dalam surat kepada jemaat di Korintus sebagai lanjutan dari nasehat-nasehat serupa yang dituliskan Paulus kepada jemaat Korintus itu, yaitu bab 8.<a href="#_ftn4">[4]</a> Bagian ini merupakan suatu aksi pengumpulan dana untuk kepentingan jemaat dan pelayanan, yang mana dari konteks ayat ini terlihat bahwa Paulus menandaskan suatu kesalehan yang nyata untuk membangun jemaat dalam pelayanan terlebih masalah pendanaan bagi pelayan-pelayan Firman Tuhan.</p>
<p>Ayat 6 menuliskan <em>camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga (but this I say, he which soweth sparingly shall reap also sparingly; and he which soweth bountifully shall reap also bountifully)</em>. Demikianlah mereka harus <em>menabur banyak¸</em>bukan<em> sedikit</em>. Gagasan dasar tentang menuai apa yang ditabur (Amsal 11:24; 19:17) diterapkan dalam Galatia 6:7-10 kepada penuaian rohani, dan dalam Matius 6:14-15 kepada pengampunan; bnd. Matius 7:1,2;10:42; Lukas 6:34-38.<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Kata “menabur banyak”<em> </em>dari terjemahan King James Version adalah <em>bountifullly</em> <a href="#_ftn6">[6]</a> (dengan baik hati). Arti kata tersebut menunjukkan bahwa jemaat harus betul-betul dengan sepenuh hati memberikan dan tanpa paksaan (baik hati), tidak untuk menunjukkan kekuasaan atau kekayaan (sikap pamer). Dan, terjemahan dari Kitab Yunani untuk kata “menabur banyak” adalah <em>blessednesses<a href="#_ftn7"><strong>[7]</strong></a></em> (keterberkatan) menunjukkan bahwa jemaat pun harus dengan sikap merestui segala pekerjaan pelayanan untuk membagun gereja (dalam arti luas).</p>
<p>Ayat 7 menuliskan <em>hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi sukacita (Every man according as he purposeth in his heart, so let him give; not grudgingly, or of necessity: for God loveth a cheerful giver)</em>. <em>Jangan &#8230; karena paksaan</em>, artinya jangan dengan berpikir ‘sesedikit mungkin’.<a href="#_ftn8">[8]</a> “Sumber pemberian bukanlah kantong, melainkan hati”.<a href="#_ftn9">[9]</a> (bnd.Markus 12:41-44). <em>Orang yang memberi  dengan sukacita,</em>memberi dengan sukacita menggembirakan sekali. Kutipan ini diambil dari Amsal 22:8, LXX; tidak terdapat di dalam Kitab Amsal bahasa Ibrani, bnd.Roma 12:8.<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Penekanan ayat 7 ini merupakan bagian dari makna kata yang dipakai Paulus  pada ayat 6 untuk menegaskannya, yakni <em>eulogiaiV</em> (dengan baik hati; keterberkatan). Sehingga tampak jelas bahwa jemaat dibuka hatinya untuk memberi dengan sepenuh hati, tanpa ada pengertian atau tafsiran untuk pamer, dan terlebih bersikap angkuh untuk dipandang di antara jemaat.</p>
<p>Ayat 8 menuliskan <em>dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan (and God is able to make all grace abound toward you; that ye, always having all sufficiency in all things, may abound to every good work)</em>. <em>Allah sanggup </em>menjadikan sisa-sisa sumber-sumber kita lebih dari cukup. <em>Berkecukupan</em> (bnd. Filipi 4:11; 1 Timotius 6:6), hasil yang lazim dari jawaban Allah terhadap iman. Sebutan El-Syaddai (Kejadian 17:1) dapat berarti Allah yang berkecukupan. Allah memberikan apa yang perlu baik materi maupun rohani di dalam <em>pelbagai kebajikan</em> (bnd. Filipi 4:19).<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Kata  “berkecukupan” yang dipakai dalam Kitab Yunani adalah <em>autarkeain<a href="#_ftn12"><strong>[12]</strong></a></em> (diterjemahkan edisi Inggris: <em>same-sufficiency <a href="#_ftn13"><strong>[13]</strong></a></em> = kecukupan). Namun, terjemahan lain yang dipakai adalah <em>contentment</em> (kesenangan, kepuasan hati, kesukaan). Dengan demikian, ayat Paulus ini menegaskan bahwa Allah memang akan memuaskan hati dengan berkat-berkatNya, dimana kepenuhan dan ketulusan hati dalam memberi akan membuka kekuatan tersendiri dari Allah.</p>
<p>Ayat 9-10 menuliskan <em>seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaranNya tetap untuk selamanya”. Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu (as it is written, He hath dispersed abroad; He hath given to the poor: His righteousness remaineth for ever. Now He that ministreth seed to the  sower both minister bread for your food, and multiply your seed sown, and increase the fruits of you righteousness;)</em>. Dukungan Alkitab itu diambil dari Mazmur 112:9; Yesaya 55:10; Hosea 10:12. <em>Ia yang menyediakan</em>, Yesaya 55:10 hanya menyebutkan “memberikan”. Paulus menggunakan suatu istilah yang lebih kaya seperti dalam Galatia 3:5. <em>Benih</em>, yang dapat ditabur, juga berasal dari Allah, ialah pemberian dalam ayat 6-8. <em>Akan menyediakan</em>, bnd. Filipi 4:15,19. <em>Melipatgandakan</em>, daya guna benih itu, karena Allah, jauh lebih besar daripada wujudnya. <em>Kebenaran</em>, perbuatan yang benar, di dalam hal ini: kemurahan hati. <a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Penyataan ayat ini juga mengandung tendensi terhadap bangsa Yahudi dimana saat mereka kelaparan (Kejadian 16:1-36), dan kejadian-kejadian penciptaan yang dilakukan Allah (Kejadian 1:11,12). Dan, buah-buah kebenaran yang dimaksudkan antara lain buah-buah roh yang dimaktubkan dalam Galatia 5:22,23.</p>
<p>Ayat 11-12 menuliskan <em>kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami, sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah (Being enriched in every thing to all bountifulness, which causeth through us thanksgiving to God. For the administration of this service not only supplieth the want of the saints, but is abundant also by many thanksgivings unto God)</em>. Memberi adalah pengalaman yang memperkaya (bnd. Ayat 7). Kepentingan Paulus sendiri tidak terlibat dalam penopangan mengenai pemberian sedekah itu, sebab ia sudah meolak untuk menerima apa saja baginya dari orang Korintus (11:7-9). <em>Pelayanan kasih</em>, kata Yunani <em>leitourgia</em> (liturgi) dipakai dalam kebaktian-kebaktian umum yang dibiayai oleh penduduk Atena yang kaya. <em>Segala macam kemurahan hati</em>, bukan hanya mencukupi keperluan jasmani <em>orang-orang kudus</em>, tetapi lebih daripada itu: secara rohani kemurahan hati itu juga melimpahkan ucapan syukur dari yang menerimanya kepada Allah (1:11), serta mendorong kasih dan doa yang timbal balik (ayat 14). <a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Sebagai bagian dari kelimpahan adalah kemurahan hati yang ditunjukkan pada ayat 11, maka ucapan syukur yang dalam kata Yunani <em>eucharistian (</em><em>eucharistian</em><em>) </em>atau <em>eucharistion </em><em>(eucharistiwn</em><em>)</em> menunjukkan makna rasa syukur yang lebih mendalam. Maka, dalam pandangan gereja-gereja katolik (Timur dan Barat), <em>ekaristi </em> atau pengucapan syukur adalah puncak liturgi katolik, dimana segala pemberian Allah diberikan kembali melalui sedekah, untuk keperluan bahan-bahan liturgi, atau pembiayaan pelayanan.<a href="#_ftn16">[16]</a> Bolehlah diutarakan bahwa pengucapan syukur itu senantiasa mengingatkan akan karunia-karunia Allah dalam kehidupan sehingga perlu untuk mengembalikannya lagi.</p>
<p>Ayat 13 menuliskan <em>dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang (whiles by the experiment of this ministration they glorify God for your professed subjection unto the Gospel of Christ, and for your liberal distribution unto them, and unto all men)</em>. <em>Tahan uji</em>, dengan bantuan mereka (orang-orang kudus) para petobat dari golongan kafir itu mempertontonkan  kesungguhan pengakuan Kristen mereka kepada petobat dari golongan Yahudi, dan mengungkapkan kesatuan mereka dalam Kristus. <em>Membagikan segala sesuatu</em> (Yunani: <em>koinonia)</em>: persekutuan, mendapat bagian; bnd.1:7. <a href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Terjemahan lain dari kata Yunani <em>koinonia</em> adalah <em>fellowship<a href="#_ftn18"><strong>[18]</strong></a> </em> (bnd. Efesus 3:9) yang berarti persahabatan. Persahabatan yang dimaksud adalah penyatuan dalam kasih Allah, berkumpul dalam cinta, dan ungkapan-ungkapan dari buah-buah Roh yang diterima.</p>
<p>Ayat 14 menuliskan <em>sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu (and by their prayer for you, which long after you for the exceeding grace of God in you)</em>. Paulus melaksanakan apa yang diajarkan dalam 1 Korintus 13:5. Sebab memanglah sementara anggota jemaat di Yerusalem sangat mempersulit hidup Paulus, Galatia 2:4 dst. Dengan mengumpulkan uang bagi jemaat itu  Paulus bermaksud antara lain menanggulangi permusuhan dari pihak jemaat itu. Dengan uang yang dikumpulkan terbuktilah rasa hormat dan bakti dari pihak jemaat-jemaat bukan Yahudi terhadap jemaat induk yang pernah menyampikan kepada mereka (harta-harta) rohani, Roma 15:27. <a href="#_ftn19">[19]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>III. </strong><strong>Penutup</strong></p>
<p>Pemberian yang terbaik adalah pemberian yang penuh dengan keterbukaan, tanpa adanya paksaan, dan ketulus-ikhlasan dalam segenap diri untuk memberikan yang terbaik bagi pelayanan akan Firman Tuhan dan pembangunan jemaat.</p>
<p>Perolehan kelimpahan akan anugerah-anugerah dari Allah merupakan wujud nyata dari Allah yang Maha Memiliki dan Maha Berkecukupan. Allah senantiasa memperkaya kita dengan buah-buah keteladanan untuk saling membantu dan memperkuat pelayanan. Tanpa adanya dukungan dari sesama jemaat, maka niscaya keutuhan pelayanan akan terasa asing dan terbengkalai. Oleh karena itu, bukan hanya sekedar memberi, namun dengan penuh kemurahan hati akan membantu pelayanan gereja yang diberkati Allah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>IV. </strong><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Marxsen, Willi. 2009. <em>Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kristis terhadap Masalah-masalahnya. </em>Cet,9. Jakarta: Gunung Mulia.</p>
<p>Maryanto, Ernest. 2004<em>. Kamus Liturgi</em>. Yogyakarta: Kanisius.</p>
<p>Hughes, P.E. 1962. <em>Paul’s Second Epistle to the Corinthians. </em>NLC.</p>
<p>Tim Editor. 1982. <em>Tafsiran Alktab Masa Kini: Matius-Wahyu</em>. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih.</p>
<p>LBI. 2001. <em>Alkitab-Deutrokanonika</em>. Jakarta: Lembaga Biblika Indonesia.</p>
<p>LAI. 2001. <em>Alkitab</em>. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.</p>
<p>De Mol, Andre. 2008. <em>Alkitab Virtual: Kitab-kitab Ibrani dan Yunani, ISA</em>. (Software)</p>
<p>Bavinck, J.H.. 2004. <em>Sejarah Kerajaan Allah 2</em>. terj. A.Simanjuntak. Jakarta: Gunung Mulia.</p>
<p><em>King James Version: The New Testament with Psalms and Proverbs</em>. 1986. England: National Publishing Company.</p>
<p>Milne, Bruce. 2003.<em>Mengenali Kebenaran: Panduan Iman Kristen</em>, terj.Connie Item-Computty. Jakarta: Gunung Mulia.</p>
<p>Drewes, B.F. 2008. <em>Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru</em>. Jakarta: Gunung Mulia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div> <br />
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Pengantar Surat-surat Paulus, <em>Alkitab-Deutrokanonika</em>, Jakarta: LBI, 2001</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Prof. Dr. J.H. Bavinck, <em>Sejarah Kerajaan Allah 2</em>, terj.A.Simanjuntak, Jakarta: Gunung Mulia, 2004, hlm.833</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Disadur dari: Bruce Milne, <em>Mengenali Kebenaran: Panduan Iman Kristen</em>, terj.Connie Item-Computty, Jakarta: Gunung Mulia, 2003, hlm.66-68</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Catatan kaki <em>Alkitab-Deutrokanonika</em>, Jakarta: LBI, 2001</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Tafsir Alkitab Masa Kini: Matius-Wahyu, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1982,hlm.535</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> <em>The New Testament with Psalms and Provebs</em>, England: National Publishing Company, 1986</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Andre de Mol, <em>Alkitab Virtual ISA</em>, 2008</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Tafsir Alkitab Masa Kini: Matius-Wahyu, <em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Ungkapan dari: P.E.Hughes, <em>Paul’s Second Epistle to the Corinthians,</em>NLC,1962</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Tafsir Alkitab Masa Kini: Matius-Wahyu, <em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> &#8212;&#8212;&#8212;-,<em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Andre de Mol, <em>Alkitab Virtual ISA</em>, 2008</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> <em>The New Testament with Psalms and Provebs</em>,<em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Tafsiran Alkitab Masa Kini: Matius-Wahyu, <em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Tafsiran Alkitab Masa Kini: Matius-Wahyu, <em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Ernest Maryanto<em>, Kamus Liturgi</em>, Yogyakarta: Kanisius, 2004,hlm.52</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> Tafsiran Alkitab Masa Kini: Matius-Wahyu, <em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Andre de Mol, <em>Alkitab Virtual ISA</em>, 2008</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Catatan kaki <em>Alkitab-Deutrokanonika</em>, Jakarta: LBI, 2001</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ocsc.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ocsc.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ocsc.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ocsc.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ocsc.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ocsc.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ocsc.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ocsc.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ocsc.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ocsc.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ocsc.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ocsc.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ocsc.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ocsc.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ocsc.wordpress.com&amp;blog=5005947&amp;post=67&amp;subd=ocsc&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ocsc.wordpress.com/2010/12/29/tafsir-perjanjian-baru-2-korintus-96-14/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3bf84ad15ca8712c1f12cbffad628ab5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ocsc</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tafsir Alkitab Perjanjian Baru 1 Korintus 6:12-20</title>
		<link>http://ocsc.wordpress.com/2010/12/29/tafsir-alkitab-perjanjian-baru-1-korintus-612-20/</link>
		<comments>http://ocsc.wordpress.com/2010/12/29/tafsir-alkitab-perjanjian-baru-1-korintus-612-20/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Dec 2010 07:40:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ocsc</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKTIFITI BIARA KELOMPOK SANTO NIKOLAS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ocsc.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Tafsir 1 Korintus 6:12-20 I. Pendahuluan Rasul Paulus mendirikan gereja di Korintus pada perjalanan penginjilannya yang kedua. Surat pertama kepada jemaat Korintus seperti yang diketahui sekarang ditulis dari Efesus atau dari suatu tempat lain dekat Efesus (1 Korintus 16:8), dengan kata lain, pada perjalanan penginjilannya yang ketiga. Hal ini memberikan dua acuan yang pasti. Namun, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ocsc.wordpress.com&amp;blog=5005947&amp;post=65&amp;subd=ocsc&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tafsir 1 Korintus 6:12-20</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>I. </strong><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Rasul Paulus mendirikan gereja di Korintus pada perjalanan penginjilannya yang kedua. Surat pertama kepada jemaat Korintus seperti yang diketahui sekarang ditulis dari Efesus atau dari suatu tempat lain dekat Efesus (1 Korintus 16:8), dengan kata lain, pada perjalanan penginjilannya yang ketiga. Hal ini memberikan dua acuan yang pasti. Namun, menurut 5:9, Paulus paling tidak sekali pernah menulis ke Korintus: “<em>Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul”</em>. Tidak dapat ditemukan apa yang menyebabkan surat yang pertama ini ditulis, tetapi surat ini menimbulkan salah pengertian, yang kini diselesaikan Paulus. Kita dapat menyebutkan sambil lalu persoalan tentang apakah surat yang lebih awal dari Paulus kepada Korintus ini sudah hilang ataukah merupakan bagian dari 1 Korintus.<a href="#_ftn1">[1]</a> Bornkamm<a href="#_ftn2">[2]</a> mengusulkan bahwa surat yang dimaksudkan dalam 5:9 mungkin telah digabungkan dalam 1 Korintus 6:1-11 atau 1 Korintus 6:12-20, tetapi tampaknya ia tidak mungkin.</p>
<p><span id="more-65"></span></p>
<p>Dari semua hal yang ada pada surat pertama kepada jemaat di Korintus ini menjadi jelas bahwa ada suatu polemik melawan gnostikisme<a href="#_ftn3">[3]</a>. Karena itu “<em>kelompok</em>” disini harus diartikan dalam pengertian gnostik. Dan, sebenarnya di Korintus tidak terdapat empat kelompok, melainkan dua, yaitu kaum gnostik dan orang-orang Kristen, yang ingin tetap melihat kepada guru-guru mereka. Kaum gnostik, yang ingin langsung melihat kepada Kristus, memandang rendah mereka yang berhubungan secara tidak langsung—artinya, melalui guru-guru mereka—dan mencoba menguasai mereka. Karena alasan inilah maka Paulus mempertentangkan gambarannya sendiri terhadap sikap sombong yang telah muncul di Korintus ini serta berbicara tentang kelemahan, kerendahan hati, kelaparan dan kehausan (4:6-13), agar dengan demikian ia dapat menarik kembali orang-orang Korintus kepada Injilnya. <a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Dalam bagian utama yang kedua (5:1-17:20) Paulus menghadapi berbagai skandal di gereja. Disini ia menyinggung sejumlah masalah: kasus pelanggaran susila yang serius di Korintus (5:1-3), pemakaian pengadilan sipil yang kafir untuk menyelesaikan perkara hukum (6:1-11), dan suatu peringatan terhadap hubungan dengan pelacur (6:12-20). Hal-hal ini sebagian besar kemungkinan berkaitan dengan ajaran sehat yang telah diperkenalkan itu. <a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Orang-orang Korintus amat mengagungkan gnosis (pengetahuan) dan pemikiran Roh, dan dari sini mereka memperoleh kebebasan mereka,yang mereka gunakan dalam pelbagai cara: berhubungan dengan pelacur (6:13, dyb), ikut serta dalam penyembahan  kepada berhala (8:1,dyb; 10:23,dyb) dan tidak mengacuhkan keberatan-keberatan dari saudara-saudara yang lemah. <a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Surat Paulus kepada jemaat di Korintus dengan bagus dan tepat menyoroti watak dan semangat Paulus, tetapi juga menyajikan suatu ajaran yang penting sekali. Di dalamnya ditemukan, khususnya dalam 1 Korintus, informasi dan keputusan-keputusan mengenai beberapa soal yang membingungkan jemaat Kristen purba dan tentang cara hidup jemaat itu, baik sehubungan dengan keadaan umat sendiri, seperti kemurnian akhlak, 1 Korintus 5:1-13; 6:12-20. <a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Untuk penafsiran (hermeneutika) ada empat prinsip utama dalam menafsirkan Alkitab, yaitu: <a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>1.      Penafsiran secara wajar. Alkitab harus ditafsirkan secara wajar (Ing. <em>Historico-grammatical method</em>, yakni metode berdasarkan sejarah dan tata bahasa). Menurut prinsip ini, yang terpenting dalam tafsiran suatu ayat atau perikop adalah arti wajarnya. “Yang wajar” harus dibedakan dengan “yang harfiah”, yaitu cara baku yang tidak memperhatikan kiasan, metafora, gaya sastra dan lain lain. Alkitab harus ditafsirkan: (a) menurut arti aslinya, (b) menurut bentuk sastranya, (c) menurut konteksnya.</p>
<p>2.      Penafsiran menurut Kitab Suci. Persoalan mengenai pengertian yang sebenarnya dan selengkapnya dari suatu bagian Alkitab, maka kejelesan harus dicari melalui bagian-bagian lain yang berbicara dengan lebih jelas. Alkitab harus ditafsirkan: (a) menurut tujuan Alkitab, (b) berdasarkan penjelasan dari bagian lain yang temanya sama, (c) berdasarkan penjelasan yang datang kemudian dan lebih lengkap.</p>
<p>3.      Penafsiran oleh Roh. Alkitab hanya dapat ditafsirkan dengan bantuan Roh Kudus. Pengertian sejati tidak mungkin bagi kita secara alami, tetapi merupakan pemberian Allah (Matius 11:25;16:17) melalui RohNya (Yohannes 16:13). Prinsip ini mengandung tantangan spiritual yang mendalam. Roh Allah adalah kudus; karena itu, apa yang dimengerti oleh seseorang dari kebenaranNya tidak hanya berhubungan dengan daya pikir saja, tetapi  terlebih dengan ketaatannya.</p>
<p>4.      Penafsiran secara dinamis. Penafsiran Alkitab tidak terbatas hanya pada dari tambang kebenaran abadi Allah harus diangkat ke permukaan dan dipergunakan. Pertama, menanyakan maknanya pada masanya serta dalam konteksnya sendiri dan apa maksudnya dalam konteks seluruh Alkitab. Kemudian bertanya, apa maknanya firman itu sekarang, pada saat ini, disini, dalam  kehidupan jemaat, bagi orang itu, atau bagi diri sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>II. </strong><strong>Tafsiran 1 Korintus 6:12-20</strong></p>
<p>Dalam bab 5, Paulus membicarakan hal immoralitas (kesusilaan) yang tertentu. Sekarang Paulus kembali kepada dasar-dasar asasi, dan secara sambilan ia memberi ajaran tentang tubuh. Karena ditebus oleh kurban Kristus (ayat 20) dan didiami oleh Roh (ayat 19), maka tubuh orang Kristen mewujudkan sebagian dari tubuh Kristus, yaitu jemaat (ayat 15); sesudah mati tubuh itu akan dibangkitkan (ayat 14) dan dengan cara demikian meneruskan maksud tujuan Allah.</p>
<p>Ayat 12 menuliskan: <em>Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun</em>. Segala sesuatu, barang kali suatu semboyan umum (diulang dalam 10:23), yang dipakai oleh orang Korintus untuk membenarkan tingkah laku mereka yang kecil. Semboyan ini perlu diberi keterangan dengan berhati-hati (bnd. 1 Petrus 2:16). Kebebasan bukan berarti mendapat izin untuk segala sesuatu. Berguna, yaitu bagi menyerupai Kristus. Hanya perbuatan yang dilakukan karena kasihlah yang membangun (bnd.8:1). Orang dapat menggunakan kebebasan sedemikian rupa hingga ia menjadi diperbudak oleh nafsunya (bnd. 2 Petrus 2:19; Galatia 5:1,13). <a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Kata “segala sesuatu” dalam Kitab Yunani adalah <em>panta</em> (versi lainnya: pasaV, pasin) segalanya (all), dalam segala hal (in-all-things), segala hal (all things<a href="#_ftn10">[10]</a>). Hal ini menunjukkan bahwa adanya satu kesatuan dari perbuatan atau hal-hal, bila dibandingkan dengan pernyataan Paulus tersebut.</p>
<p>Kata <em>segala sesuatu halal bagiku</em>, ini kiranya suatu ucapan Paulus yang disalahgunakan oleh sementara orang Korintus yang menganggap dirinya bebas terhadap segala aturan. <a href="#_ftn11">[11]</a> Dari pendahuluan diatas telah dikemukakan bahwa orang-orang Korintus banyak melakukan tindakan amoral dan ingin bebas dari aturan apa pun sekalipun telah menganut ajaran Kristus, yang bertolak belakang dengan segala kedagingan.</p>
<p>Ayat 13 menuliskan <em>makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan: tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh ( Meats for belly, and the belly for meats: but God shall destroy both it and them. Now the body is not for fornication, but for the Lord; and the Lord for the body)</em>. <em>Makanan adalah untuk perut</em>, barangkali suatu semboyan yang lain. Perbandingan yang terkandung di dalamnya ialah bahwa seks adalah hal yang kodrati, yang fana, sama seperti makanan. Paulus menjawab bahwa Allah bukan membuat tubuh untuk percabulan atau untuk memberi kepuasan seksual, seperti halnya Ia memberikan perut untuk makanan belaka. Bagi Paulus, tubuh memiliki arti yang lebih mulia daripada hal-hal yang jasmani saja. Seluruh kepribadian tercakup di dalam tubuh itu. Seperti halnya menuntut makanan bagi tugasnya yang patut, demikianlah “tubuh” menuntut Tuhan untuk memenuhi maksud yang dikehendaki Allah baginya, yaitu pelayanan dan pengorbanan (bnd. Filipi 1:20; Ibrani 10:5) dan dapat mendapatkan kepuasan yang sebenarnya hanya di dalam Dia (Yohannes 6:54). <a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Dalam ayat 13 ini, Paulus melawan pendapat bahwa percabulan adalah sebuah kebutuhan alamiah sama seperti makan-minum. Paulus menandaskan bahwa kebutuhan makan-minum terkait pada dunia ini, sehingga akan lenyap bersama dengannya ( ayat 13, tetapi bnd.10:31), sedangkan hidup seksual menyangkut persekutuan dengan Kristus, sehingga harus sesuai dengan orang yang menjadi anggota Kristus, diterangkan ayat 15-17; bnd.Efesus 5:21-33. <a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Kata percabulan itu dituliskan dalam Kitab Yunani adalah <em>porneia</em><em> </em>(variannya: <em>porneusanteV</em> yang berarti melakukan pelacuran). Ini menegaskan penyataan-pernyataan diatas, bahwa orang-orang Korintus telah menyalahgunakan atau salah tafsir dengan aturan-aturan Kristen. Mereka melakukan kedagingan yang telah jelas dibenci Tuhan,yakni pelacuran.</p>
<p>Ayat 14 menuliskan <em>Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasaNya (And God hath both raised up the Lord, and will also raise up by His own power)</em>. Kebangkitan Tuhan dan kebangkitan orang Kristen berhubungan erat sekali (bnd. 1 Korintus 15:20; Roma 8:11; Filipi 3:21). Tubuh jasmani sekarang ini harus dinilai dan dipakai secara wajar (bnd. 2 Korintus 5:10). Sebagai tubuh yang sudah dibangkitkan (bnd. 15:35) tubuh itu masih akan diperlukan bagi maksud-maksud Allah. <a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Kisah kebangkitan Tuhan diulas secara singkat, dengan menyinggung penyalahgunaan kebebasan yang dilakukan jemaat Korintus. Dengan kematian terhadap kedagingan sebagaimana maksud dari kebangkitan manusia, maka Allah membersihkan segala dosa dengan mengikuti aturan dan ajaran Kristus.</p>
<p>Ayat 15 menuliskan <em>tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak! (Know ye not that your bodies are the members of Christ? Shall I then take the members of Christ, and make them the members of an harlot? God forbid)</em>. Anggota Kristus dijelaskan, dalam 12:12-13;Roma 12:5: Efesus 5:23; Kolose 1:18 Paulus memperkembangkan gagasan tentang orang Kristen sebagai tubuh Kristus. <em>Kuambil</em>, yaitu dari Tuhan-nya dan pemakaiannya.<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Secara harfiah kata <em>oidate</em><em> </em> bermakna memperingatkan, menyadari (ye-have-perceived<a href="#_ftn16">[16]</a>). Ini jelas menunjukkan dari kata <em>tidak tahukah</em> yang bermaksud mengingatkan mereka kembali akan kebenaran ajaran Kristus. Dan, kata percabulan dalam terjemahan bahasa Inggris adalah <em>harlot<a href="#_ftn17"><strong>[17]</strong></a> </em>menunjukkan <em>perempuan sundal</em>, yang bermakna negatif terhadap perilaku orang Korintus.</p>
<p>Ayat 16-17 menuliskan <em>atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikat dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: “Keduanya akan menjadi satu daging”. Tetapi siapa yang mengingkatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu ro dengan Dia (What? Know ye that he which is joined to an harlot is one body? For two, saith he, shall be one flesh)</em>. Ayat ini memperbandingkan antara yang buruk dengan ajaran Kristus yang sebenarnya. Perbandingan ini mengingatkan jemaat supaya tidak mengikatkan diri dengan perhambaan dan immoralitas kehidupan.</p>
<p>Ayat 18 menuliskan  <em>jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri (Flee fornication. Every sin that a man doeth is without the body; but he that committeth fornication sinneth against his own body)</em>. Jauhkanlah dirimu dari percabulan, maksudnya sikap dan reaksi yang tetap, yang terus menerus (bnd.10:14; 1 Tesalonika 4:3). Mencela saja belum cukup; yang dituntut ialah perbuatan menghindarinya. <em>Setiap dosa lain</em> terhadap tubuh (umpama kerakusan, mabuk), menggunakan apa yang datang dari luar tubuh. Kegemaran seksual timbul dari dalam. Yang lain itu jahat dalam ekses-eksesnya. Tapi ini adalah jahat dalam dirinya sendiri. <em>Terhadap dirinya sendiri, </em>hal terhadap tubuhnya, yaitu kepribadiannya. <a href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p>Bila dilihat dari perilaku orang-orang Korintus bahwa dapat dipahami bahwa jemaat terikut arus dengan percabulan-pelacuran yang terjadi di Korintus, sehingga Paulus dengan keras mengutuk karena adanya pelacuran bakti dan penyalahgunaan hak perkawinan.</p>
<p>Seperti dalam bab 5 dari 1 Korintus telah dibicarakan perbuatan-perbuatan anggota jemaat di Korintus yang makin kurang senonoh. Moral dan kesusilaan waktu itu mundur sekali. Lebih-lebih hukum ketujuh sangat banyak dilanggar. Perbuatan demikian menurut orang Korintus dibiarkan saja, tidak ada orang yang menyalahkannya. Paulus menasehatkan supaya orang yang berbuat demikian “<em>diserahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasalah tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan”</em>. <a href="#_ftn19">[19]</a></p>
<p>Ayat 19 menuliskan <em>atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah—dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?(What? Know ye not that your body is the temple of the Holy Ghost which is in you, which ye have of God, and ye are not your down?)</em>. <em>Tidak tahukah kamu</em>, dalam bab ini sudah enam kali diucapkan.<a href="#_ftn20">[20]</a> Berulang-ulangnya kata tersebut diucapkan Paulus, supaya mengingatkan jemaat Korintus akan kebenaran ajaran Kristus yang benar, tidak menyalahgunakan kemerdekaan kristiani yang telah diperoleh.</p>
<p>Bait Roh Kudus, setiap orang Kristen adalah tempat kediaman Roh Kudus, yang tidak hanya memperhatikan jiwa orang saja. Dari Allah, karena bait itu adalah milik Allah, maka orang Kristen tidak bebas merdeka. <a href="#_ftn21">[21]</a> Perlambangan Bait Roh Kudus tersebut, dapat dilihat disaat Yesus menyucikan Bait Suci di Yerusalem (Yohannes 2:13-15, Matius 21:12-13, Markus 11:15-17, Lukas 19:45-46), Yesus begitu marah apabila Bait Suci dikotori dengan hal-hal najis. Maka, dapat disimpulkan bahwa bait Roh Kudus pada ayat 1 Korintus tersebut menekankan supaya pemeliharaan tubuh sesuai dengan penyucian terhadap Bait Suci (seperti bangsa Israel harus menyucikan diri sebelum masuk ke Kemah Suci: Bilangan 19:1-22; <em>pengudusan diri </em>bnd.Imamat 19:1-37;20:1-27).</p>
<p>Ayat 20 menuliskan <em>sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! (For ye are bought with a price therefore glorify God in your body, and in your spirit, which are God’s)</em>. Kata “dibeli”, menunjukkan kepada perbuatan Kristus, satu kali untuk semua dan yang paling menentukan, yang terjadi di salib (bnd.7:22-24; 2 Petrus 2:11). Bahasanya memantulkan suatu kebiasaan pada waktu itu. Dengan membayar harga kemerdekaan dalam sebuah kuil, seorang budak menjadi milik dewa itu; tapi sekarang masyarakat memandangnya sebagai bebas merdeka. Pembebasan kita oleh Kristus dari perbudakan dosa bukanlah khayalan yang saleh seperti itu, melainkan dengan harga kurbanNya (1 Petrus 1:18,19; Galatia 5:1; Titus 2:14). Dan, <em>muliakanlah Allah</em>, tapi bukan hanya menahan diri dari percabulan, karena <em>tubuhmu</em>, yaitu  seluruh pribadimu harus dipakai secara positif dalam pelayanan Kristen (bnd.Roma 12:1).<a href="#_ftn22">[22]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>III. </strong><strong>Penutup</strong></p>
<p>Surat pertama Paulus kepada jemaat Korintus mengingatkan kita akan dosa dan perbuatan yang tidak senonoh, yang menurunkan derajat kemanusiaan kita dalam hidup kekristenan.</p>
<p>Paulus dengan sangat keras menentang segala perbudakan rohaniah, padahal telah mendapat kemerdekaan dalam Kristus. Tubuh harus dijaga dari segala bentuk penajisan diri, karena tubuh adalah bait Roh Kudus yang memekarkan benih kehidupan surgawi yang telah kita terima dari Kristus. Melalui penebusan Kristus, kita telah dibayar dan dibeli dari perbudakan dosa yang telah menyengsarakan kita, dan diambil dari kematian dosa. Inilah penegasan Paulus bukan hanya dalam konteks jemaat Korintus melainkan bagi kita semua.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>IV. </strong><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Tim Editor. 1982. <em>Tafsiran Alktab Masa Kini: Matius-Wahyu</em>. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih.</p>
<p>LBI. 2001. <em>Alkitab-Deutrokanonika</em>. Jakarta: Lembaga Biblika Indonesia.</p>
<p>De Mol, Andre. 2008. <em>Alkitab Virtual: Kitab-kitab Ibrani dan Yunani, ISA</em>. (Software)</p>
<p>Bornkamm. 1961. <em>Die Vorgeschichte des Gogennannten Zweiten Korintherbriefs. </em>Deutchland.</p>
<p>Hornby. 1987. <em>Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English</em>. London: Oxford University Press.</p>
<p>Bavinck, J.H.. 2004. <em>Sejarah Kerajaan Allah 2</em>. terj. A.Simanjuntak. Jakarta: Gunung Mulia.</p>
<p>Marxsen, Willi. 2009. <em>Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kristis terhadap Masalah-masalahnya. </em>Cet,9. Jakarta: Gunung Mulia.</p>
<p>Yayasan Bina Awam. 2002. <em>Makalah Sahabat Awam: Saksi-saksi Yehuwa apa yang dipercayai</em>. Bandung, edisi Januari.</p>
<p><em>King James Version: The New Testament with Psalms and Proverbs</em>. 1986. England: National Publishing Company.</p>
<p>Milne, Bruce. 2003.<em>Mengenali Kebenaran: Panduan Iman Kristen</em>, terj.Connie Item-Computty. Jakarta: Gunung Mulia.</p>
<div> <br />
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Willi Marxsen, <em>Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kristis terhadap Masalah-masalahnya, </em>Cet,9, 2009, Jakarta: Gunung Mulia, hlm.77</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Die Vorgeschichte des Gogennannten Zweiten Korintherbriefs, </em>1961, p.34.,n.131</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Gnostik adalah ajaran sinkritisme yang berpengaruh pada sekitar tahun-tahun kehidupan Yesus. Gnostik mengajarkan bahwa ada dua asal yang menghasilkan segala sesuatu, yaitu Allah yang menciptakan roh dan “<em>demi urgos</em>” yang menciptakan dunia materi. Dalam gnostik kekuasan Allah tidak pernah menyatakan diri, Anak Allah kemudian menjadi manusia, dalam gnostik termasuk dalam dunia roh, yang diciptakan oleh Allah. Penjelasan dapat dilihat: Yayasan Bina Awam, <em>Makalah Sahabat Awam: Saksi-saksi Yehuwa apa yang dipercayai</em>, Bandung, edisi Januari, 2002, hlm.12-13</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Willi Marxsen, hlm.79</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Ibid</em>, hlm.80</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Ibid, </em>hlm.83</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Pengantar Surat-surat Paulus, <em>Alkitab-Deutrokanonika</em>, Jakarta: LBI, 2001</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Disadur dari: Bruce Milne, <em>Mengenali Kebenaran: Panduan Iman Kristen</em>, terj.Connie Item-Computty, Jakarta: Gunung Mulia, 2003, hlm.66-68</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Tim Editor, <em>Tafsir Alkitab Masa Kini: Matius-Wahyu</em>, Jakarta: Gunung Mulia, hlm.489</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> King James Version menerjemahkan <em>segala hal </em>(all things) yang sepadan dengan Kitab Yunani</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Lihat catatan kaki, <em>Alkitab-Deutrokanonika</em>, Jakarta: LBI, 2001, hlm.399</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Tim Editor, <em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> <em>Alkitab-Deutrokanonika,loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Tim Editor, <em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> &#8212;&#8212;,<em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Diterjemahkan di dalam Kitab Yunani, dan disepadankan dengan: <em>ye are aware (mengetahui, sadar,insaf)</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> Hornby,<em> Oxford English Dictionary</em>, 1987, London: Oxford University Press</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Tim Editor, hlm.490</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Prof, Dr. J.H. Bavinck, <em>Sejarah Kerajaan Allah 2</em>, terj. A.Simanjuntak, 2004, Jakarta: Gunung Mulia, hlm.827</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> Tim Editor,<em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;,<em>loc.cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;,<em>loc.cit</em></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ocsc.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ocsc.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ocsc.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ocsc.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ocsc.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ocsc.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ocsc.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ocsc.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ocsc.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ocsc.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ocsc.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ocsc.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ocsc.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ocsc.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ocsc.wordpress.com&amp;blog=5005947&amp;post=65&amp;subd=ocsc&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ocsc.wordpress.com/2010/12/29/tafsir-alkitab-perjanjian-baru-1-korintus-612-20/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3bf84ad15ca8712c1f12cbffad628ab5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ocsc</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hasil Audiensi Arkimandrite VII</title>
		<link>http://ocsc.wordpress.com/2010/05/01/hasil-audiensi-arkimandrite-vii/</link>
		<comments>http://ocsc.wordpress.com/2010/05/01/hasil-audiensi-arkimandrite-vii/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 May 2010 02:41:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ocsc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ocsc.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Atas nama Gereja Kudus, dihadapan Diakon Agung dan para biarawan Opus Dei. PASAL I Para biarawan menjaga diri dari segala perbudakan informasi, seperti internet dan televisi. Kegiatan Opus Dei harus terkontrol dalam kehidupan membiaranya dan tidak meninggalkan aturan-aturan Liturgia Horarum. - mengusahakan agar tidak terlalu kontras dalam kehadirannya di lingkungan sekuler. - menjaga autoriti Gereja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ocsc.wordpress.com&amp;blog=5005947&amp;post=63&amp;subd=ocsc&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Atas nama Gereja Kudus, dihadapan Diakon Agung dan para biarawan Opus Dei.</p>
<p>PASAL I</p>
<p>Para biarawan menjaga diri dari segala perbudakan informasi, seperti internet dan televisi. Kegiatan Opus Dei harus terkontrol dalam kehidupan membiaranya dan tidak meninggalkan aturan-aturan Liturgia Horarum.</p>
<p>- mengusahakan agar tidak terlalu kontras dalam kehadirannya di lingkungan sekuler.</p>
<p>- menjaga autoriti Gereja dengan mengontrol nafsu agar tidak terjerumus dalam skandal paedofilia, dan seluruh kegiatan yang mencorengg Gereja Kudus.</p>
<p>PASAL II</p>
<p>- Peralihan seorang abbas komunitas harus disetujui oleh konggregasi komunitas yang meminimalkan 2/3 anggota konggregasi.</p>
<p>- Penentuan seorang biarawan menjadi abbas harus dilakukan sidang Dewan Abbates yang dipimpin utusan Patriakh dan Diakon Agung.</p>
<p>- Standar penentuan abbas ditentukan oleh Dewan Abbates.</p>
<p>PASAL III</p>
<p>- Seluruh rekomendasi peralihan abbas dibicarakan secara kontensional diluar biara.</p>
<p>- Pembicaraan mengenai perubahan Regula tidak akan diindahkan sesuai dengan ketentuan Roma.</p>
<p>- Pembentukan sistem baru yang disarankan dari Ukraina untuk Dios Kepatriarkhan Sumatera dan Indonesia tidak disetujui.</p>
<p>25 April 2010, Delitua, Sumatera Utara.</p>
<p>Konggregasi Biarawan Senior-Archimandrite OCSC</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ocsc.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ocsc.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ocsc.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ocsc.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ocsc.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ocsc.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ocsc.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ocsc.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ocsc.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ocsc.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ocsc.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ocsc.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ocsc.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ocsc.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ocsc.wordpress.com&amp;blog=5005947&amp;post=63&amp;subd=ocsc&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ocsc.wordpress.com/2010/05/01/hasil-audiensi-arkimandrite-vii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3bf84ad15ca8712c1f12cbffad628ab5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ocsc</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Refleksi Sidang Auditor Arkhimandrite IV</title>
		<link>http://ocsc.wordpress.com/2009/09/30/refleksi-sidang-auditor-arkhimandrite-iv/</link>
		<comments>http://ocsc.wordpress.com/2009/09/30/refleksi-sidang-auditor-arkhimandrite-iv/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 09:10:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ocsc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ocsc.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Kehidupan dalam dunia yang kita tempuh berlalu demikian seperti air&#8230;&#8230;berjalan dalam kegelapan melihat dengan hati memancarkan senyum dengan kehangatan&#8230;&#8230;kemengertian kita berawal dari kepasrahan&#8230;. Awal Suka Cita Kehidupan membiara sering diartikan hidup dalam kukungan seperti di sel. Namun, merefleksi hasil Sidang Auditor Arkhimandrite IV baiklah kita merenungkan apa makna terdalam hidup membiara. &#8220;Seseorang harus meresap angin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ocsc.wordpress.com&amp;blog=5005947&amp;post=57&amp;subd=ocsc&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kehidupan dalam dunia yang kita tempuh berlalu demikian seperti air&#8230;&#8230;berjalan dalam kegelapan melihat dengan hati memancarkan senyum dengan kehangatan&#8230;&#8230;kemengertian kita berawal dari kepasrahan&#8230;.</em></p>
<p><em><span id="more-57"></span><br />
</em></p>
<p style="text-align:center;">Awal Suka Cita</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">Kehidupan membiara sering diartikan hidup dalam kukungan seperti di sel. Namun, merefleksi hasil Sidang Auditor Arkhimandrite IV baiklah kita merenungkan apa makna terdalam hidup membiara.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;<em>Seseorang harus meresap angin surgawi yang mendalam dengan resapan seperti tanah bukan kapas. Angin surgawi menyerap dalam tanah dihati agar semakin menguatkan tunas baru, dan memberi kemurnian kekuatan baru yang muncul dalam tahbisan</em>&#8220;(<em>Dissemble IV)<br />
</em></p>
<p style="text-align:left;">Gereja memberikan kebebesan bagi siapa saja untuk hidup membiara. Sebagai biarawan yang dikokohkan Gereja, menerima segala aturan dan konsekuensi dari Ordo yang diterimanya.</p>
<p style="text-align:left;">Pada perkembangannya OCSC memberikan hak kepada awam menjadi biarawan-awam yang diselenggarakan secara resmi melalui audit-resmi Pengadilan Tertutup yang memberikan kekuatan bagi awam-selibat-sekuler yang dinamai Probata. Probata merupakan salah satu pendukung monastik OCSC selama 4 tahun terakhir dan memberikan respek positif yang dirahasiakan bagi dunia luar.</p>
<p style="text-align:left;">Hidup Probata sangat sukar dalam sekular-gerejawi. Mengapa? Pastilah kendala dalam nafsu. Kehidupan yang dua sekaligus dijalani sangat merepotkan dan harus penuh kendali. Hal ikhwal ini harus ditekankan dalam hidup Probata maupun biarawan dibiara, yaitu menahan pandangan dari kontak percakapan sejenis maupun lain jenis.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;<em>Kehidupan biarawan sangat sarat dalam kekuatiran, kegelisahan, kesesakan, kesulitan, dan kepasrahan yang mendalam. Segala sesuatu harus ditekankan dalam hati memberi efek hidup pahit dalam setiap kesukaran dan menimba keindahan diakhiranya&#8221; (Anakhtis III)</em></p>
<p style="text-align:left;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:left;">Semua biarawan maupun probata hidup dalam kekuatirannya yakni hidup yang selalu diikuti bayangan dosa yang mana bila jatuh hidup dalam kedosaan, termakan dalam dosa dan kelalaian yang terlah melekat dalam sumpah setya.</p>
<p style="text-align:left;">Probata hidup dalam dunia sekular membuat dirinya kuatir dalam duniawi yang dijalaninya, dengan kehidupan glamour, hidup yang menggoda untuk merasakan yang tidak seharusnya dirasakan, dan hidup yang mengikat dalam selibat yang tidak boleh dirusak dengan birahi.</p>
<p style="text-align:left;">Setiap manusia memiliki kegelisahan. Biarawan dan Probata gelisah dalam menjaga kesucian, kemurnian, kemiskinan, ketaatan, kerendahan, dan kecintaan terhadap nikmat surgawi. Wajar setiap biarawan apalagi Probata gelisah, namun kegelisahan harus dipelajari jangan menjadi batu sandungan dalam hidup dan mengganjal dalam menjalan aturan dan hidup yang mengikat.</p>
<p style="text-align:left;">Kegelisahan dapat diatasi dengan meditasi yang seharusnya berpusat pada misteri Sengsara Kristus, dimana Kristus pun gelisah terhadap Salib yang akan dipikulNya. Meditasi membuat kendali terhadap apa yang dirasakanya (kesukaran, kesulitan) dan membuat pasrah.</p>
<p style="text-align:left;">Pasrah terhadap Penyelenggaraan Ilahi membuat hidup dalam konsekuensi yang berat namun harus ridho dilaksanakan dan tidak menjadi kedosaan maupun batu sandungan. Pikiran yang penuh dengan Misteri Kristus akan mengendalikan segalanya dan Kepasrahan dalam Salib Kemenangan membuat menang dalam hal tersebut.</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">Refleksi singkat ini saya buat dengan mengambil inti hidup membiara saya sebagai arkhimandrite yang hidup dalam sekuler diluar biara. Mendapat mandat dari Patriarkh memimpin biarawan Santo Nikolaus Myra yang sekret dalam hal maklumat (maaf aturan dari Ordo) membuat saya semakin memahami arti mendalam dalam hidup membiara.</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">Tertanda</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">Arkhimandrite Josh Munthe, OCSC</p>
<p style="text-align:left;"><img class="aligncenter size-full wp-image-58" title="Patriarkh Province" src="http://ocsc.files.wordpress.com/2009/09/patriarkh-province.jpg?w=510" alt="Patriarkh Province"   /></p>
<p style="text-align:left;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ocsc.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ocsc.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ocsc.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ocsc.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ocsc.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ocsc.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ocsc.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ocsc.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ocsc.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ocsc.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ocsc.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ocsc.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ocsc.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ocsc.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ocsc.wordpress.com&amp;blog=5005947&amp;post=57&amp;subd=ocsc&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ocsc.wordpress.com/2009/09/30/refleksi-sidang-auditor-arkhimandrite-iv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3bf84ad15ca8712c1f12cbffad628ab5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ocsc</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ocsc.files.wordpress.com/2009/09/patriarkh-province.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Patriarkh Province</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MUZIK 2</title>
		<link>http://ocsc.wordpress.com/2009/04/18/muzik-2/</link>
		<comments>http://ocsc.wordpress.com/2009/04/18/muzik-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2009 06:43:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ocsc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ocsc.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Agunglah Bunda Suci Maria, Tetap Perawan dan Tak Bernoda Dosa. Dengarkanlah lantunan Doa Ave Maria ini, dan sembahlah Allah yakni Jesus Kristus yang telah keluar dari rahim Maria. &#8221; AVE MARIA&#8221;<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ocsc.wordpress.com&amp;blog=5005947&amp;post=44&amp;subd=ocsc&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Agunglah Bunda Suci Maria, Tetap Perawan dan Tak Bernoda Dosa.</p>
<p><span id="more-44"></span></p>
<p>Dengarkanlah lantunan Doa Ave Maria ini, dan sembahlah Allah yakni Jesus Kristus yang telah keluar dari rahim Maria. &#8221; AVE MARIA&#8221;</p>
<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://ocsc.wordpress.com/2009/04/18/muzik-2/"><img src="http://img.youtube.com/vi/O29Z7IVtwfc/2.jpg" alt="" /></a></span>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ocsc.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ocsc.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ocsc.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ocsc.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ocsc.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ocsc.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ocsc.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ocsc.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ocsc.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ocsc.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ocsc.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ocsc.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ocsc.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ocsc.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ocsc.wordpress.com&amp;blog=5005947&amp;post=44&amp;subd=ocsc&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ocsc.wordpress.com/2009/04/18/muzik-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3bf84ad15ca8712c1f12cbffad628ab5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ocsc</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Muzik</title>
		<link>http://ocsc.wordpress.com/2009/04/18/muzik/</link>
		<comments>http://ocsc.wordpress.com/2009/04/18/muzik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2009 06:38:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ocsc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ocsc.wordpress.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Dengarkanlah lantunan doa yang dinyanyikan para rahib, rasakan dan nikmati hadirat Tuhan. Sungguh riang dan gembiralah hati kita dengan kesyahduan lantunan doa yang meninggi untuk memuliakan Allah.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ocsc.wordpress.com&amp;blog=5005947&amp;post=42&amp;subd=ocsc&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dengarkanlah lantunan doa yang dinyanyikan para rahib, rasakan dan nikmati hadirat Tuhan.</p>
<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://ocsc.wordpress.com/2009/04/18/muzik/"><img src="http://img.youtube.com/vi/pnKbPj7EhCg/2.jpg" alt="" /></a></span>
<p>Sungguh riang dan gembiralah hati kita dengan kesyahduan lantunan doa yang meninggi untuk memuliakan Allah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ocsc.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ocsc.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ocsc.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ocsc.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ocsc.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ocsc.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ocsc.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ocsc.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ocsc.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ocsc.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ocsc.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ocsc.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ocsc.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ocsc.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ocsc.wordpress.com&amp;blog=5005947&amp;post=42&amp;subd=ocsc&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ocsc.wordpress.com/2009/04/18/muzik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3bf84ad15ca8712c1f12cbffad628ab5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ocsc</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
