Refleksi Sidang Auditor Arkhimandrite IV

Kehidupan dalam dunia yang kita tempuh berlalu demikian seperti air……berjalan dalam kegelapan melihat dengan hati memancarkan senyum dengan kehangatan……kemengertian kita berawal dari kepasrahan….


 

Awal Suka Cita

Kehidupan membiara sering diartikan hidup dalam kukungan seperti di sel. Namun, merefleksi hasil Sidang Auditor Arkhimandrite IV baiklah kita merenungkan apa makna terdalam hidup membiara.

Seseorang harus meresap angin surgawi yang mendalam dengan resapan seperti tanah bukan kapas. Angin surgawi menyerap dalam tanah dihati agar semakin menguatkan tunas baru, dan memberi kemurnian kekuatan baru yang muncul dalam tahbisan“(Dissemble IV)

Gereja memberikan kebebesan bagi siapa saja untuk hidup membiara. Sebagai biarawan yang dikokohkan Gereja, menerima segala aturan dan konsekuensi dari Ordo yang diterimanya.

Pada perkembangannya OCSC memberikan hak kepada awam menjadi biarawan-awam yang diselenggarakan secara resmi melalui audit-resmi Pengadilan Tertutup yang memberikan kekuatan bagi awam-selibat-sekuler yang dinamai Probata. Probata merupakan salah satu pendukung monastik OCSC selama 4 tahun terakhir dan memberikan respek positif yang dirahasiakan bagi dunia luar.

Hidup Probata sangat sukar dalam sekular-gerejawi. Mengapa? Pastilah kendala dalam nafsu. Kehidupan yang dua sekaligus dijalani sangat merepotkan dan harus penuh kendali. Hal ikhwal ini harus ditekankan dalam hidup Probata maupun biarawan dibiara, yaitu menahan pandangan dari kontak percakapan sejenis maupun lain jenis.

Kehidupan biarawan sangat sarat dalam kekuatiran, kegelisahan, kesesakan, kesulitan, dan kepasrahan yang mendalam. Segala sesuatu harus ditekankan dalam hati memberi efek hidup pahit dalam setiap kesukaran dan menimba keindahan diakhiranya” (Anakhtis III)


Semua biarawan maupun probata hidup dalam kekuatirannya yakni hidup yang selalu diikuti bayangan dosa yang mana bila jatuh hidup dalam kedosaan, termakan dalam dosa dan kelalaian yang terlah melekat dalam sumpah setya.

Probata hidup dalam dunia sekular membuat dirinya kuatir dalam duniawi yang dijalaninya, dengan kehidupan glamour, hidup yang menggoda untuk merasakan yang tidak seharusnya dirasakan, dan hidup yang mengikat dalam selibat yang tidak boleh dirusak dengan birahi.

Setiap manusia memiliki kegelisahan. Biarawan dan Probata gelisah dalam menjaga kesucian, kemurnian, kemiskinan, ketaatan, kerendahan, dan kecintaan terhadap nikmat surgawi. Wajar setiap biarawan apalagi Probata gelisah, namun kegelisahan harus dipelajari jangan menjadi batu sandungan dalam hidup dan mengganjal dalam menjalan aturan dan hidup yang mengikat.

Kegelisahan dapat diatasi dengan meditasi yang seharusnya berpusat pada misteri Sengsara Kristus, dimana Kristus pun gelisah terhadap Salib yang akan dipikulNya. Meditasi membuat kendali terhadap apa yang dirasakanya (kesukaran, kesulitan) dan membuat pasrah.

Pasrah terhadap Penyelenggaraan Ilahi membuat hidup dalam konsekuensi yang berat namun harus ridho dilaksanakan dan tidak menjadi kedosaan maupun batu sandungan. Pikiran yang penuh dengan Misteri Kristus akan mengendalikan segalanya dan Kepasrahan dalam Salib Kemenangan membuat menang dalam hal tersebut.

Refleksi singkat ini saya buat dengan mengambil inti hidup membiara saya sebagai arkhimandrite yang hidup dalam sekuler diluar biara. Mendapat mandat dari Patriarkh memimpin biarawan Santo Nikolaus Myra yang sekret dalam hal maklumat (maaf aturan dari Ordo) membuat saya semakin memahami arti mendalam dalam hidup membiara.

Tertanda

Arkhimandrite OCSC

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s