Penggembalaan

1. Kenapa dasar utama dan sikap penggembalaan itu perlu bagi setiap gembala?

Gembala (pastor) menurut kamus bahasa Indonesia adalah pemirsa ternak.[1] Pemirsa merupakan pemelihara, penjaga, pengawas, dan pengayom. Dasar utama dan sikap dari seorang penggembala dengan jelas diterangkan dalam Kitab Yohannes 10:11-17 dan dalam Matius 28:19-20 yang merupakan titik tolak bagi penggembalaan/pastoral.

Setiap gembala perlu berkarakter seperti Yesus, Sang Gembala Baik yang memberikan nyawaNya bagi domba-dombaNya; maka dasar utama dan sikap gembala gereja adalah menjaga dengan erat dan merangkul segala jenis sifat ataupun karakter jemaat, bukannya bersikap “mencuci tangan” dari segala permasalahan yang ada ditengah jemaat, melainkan berjiwa seperti panglima perang yang lebih dahulu maju untuk berperang, dengan demikian gembala memajukan jemaatnya dengan penuh kekuatan Allah dan semangat Injil.

Sifat dasariah penggembalaan yang jelas-jelas ada pada Yesus adalah pengenalan terhadap dombaNya. Bila pengenalan dan pemahaman akan jemaat tampak pada diri gembala jemaat maka jemaat gereja akan merasa lebih dekat dengan Yesus dan merasa diberi kekuatan (penyaluran rahmat Allah).

Pada Yoh 10:16 dikatakan apabila gembala menunjukkan keseriusan dalam integritas pelayanan akan jemaat maka domba-domba lain akan merasa terpanggil karena berkat pelayanan yang kokoh dan penuh keteguhan loyalitas pelayanan dari gembala. Dan istilah ini dikenal dengan pastoral approach.[2]

2. Kenapa seorang gembala harus memiliki sikap dasar? Cobalah terangkan alasan-alasan Anda dari setiap sikap dasar tersebut!

Seorang gembala mau tak mau menjadi pusat dari interaksi yang terus menerus terjadi dalam pengajaran, pelayanan dan pendalaman; dan hanya gembala-lah yang mendapatkan beban yang paling besar untuk mewujudkan domba pilihan dihadapan Tuhan Allah.

Ungkapan Gaylord Nayce [3](pakar teologi dogmatis) menyebutkan bahwa gembala adalah orang yang bertanggung jawab untuk menyinarkan belas kasih Kristus; sehingga jelaslah bahwa sikap dasar penggembalaan yakni: (a) kesadaran (kemampuan, karunia, keterampilan, pemahaman bayangan kehidupan sebagai nilai penggembalaan, termasuk penyucian dan konsep diri), (b) bebas (penjejakan arah kehidupan, pengalaman, dan pengembangan mentalitas penggembalaan sesuai Firman Tuhan), (c) visioner (pemantapan tujuan-tujuan penggembalaan dan menjemaat, pengembangan karakter, dan kemampuan mengayomi jemaat), (d) implementasi (mengapresiasikan kemutlakan Firman Tuhan di dalam setiap segi kehidupan, baik perilaku maupun berpikir), (e) bertahan (perefleksian diri sebagai Hamba Tuhan yang bekerja secara penuh diladang Tuhan, introspeksi diri, dan usaha pengembalian perjanjian Tuhan) (seperti dijelaskan Carson Pue [4])

Dan, yang paling utama dari sikap dasar seorang gembala adalah betul-betul menjadi pelaku Firman Tuhan, sehingga jelas nyata segala perbuatan dan tingkah lakunya dihadapan jemaat terlebih di hadapan Tuhan Allah.

 

3. Bagaimana Anda bisa melatih diri dalam keterampilan dasar yang diperlukan? Cobalah terangkan!

Keterampilan dasar yang utama dalam penggembalaan adalah kepasrahan penuh kepada Tuhan sesuai dengan kehendakNya seperti para Nabi (bnd. Yeremia 1:7-8, Yosua 1: 1-9). Sebagai penambahan keterampilan dalam penggembalaan yang lainnya antara lain: talenta-talenta yang dimiliki dari Allah (seperti: orasi, berdoa, dll), cakap dalam berkhotbah, kemampuan menafsir Alkitab, penggerak/pemotivasi jemaat.

Keterampilan dasar dalam penggembalaan yang mencakup: pemahaman Alkitab berdasarkan tuntunan Roh; ketekunan dan ketulusan dalam doa; ketekunan dan ketulusan dalam ibadah; komunikasi yang intim dengan Allah dan dengan sesama; dan relasi dalam hidup yang seimbang; kesemuanya ini dapat dilatih melalui teknik meditatif bersama Allah, kontemplasi, refleksi, introspeksi diri, pengakuan, dan usaha perubahan (hal ini banyak diterapkan dalam sistem pastoral Katolik, Orthodoks, Anglikan dan beberapa aliran Karismatik). Melatih diri untuk meditas (pemusatan pikiran) seluruhnya kepada Allah, dan memasuki babak kontemplasi dimana rasa kebergantungan kepada Allah menuju puncaknya, dan memberikan suatu refleksi serta instrospeksi diri secara mendalam dan menumbuhkan pengakuan di hadapan Tuhan dan perubahan secara utuh dari kekuatan Roh Kudus.

 

4. Kenapa percakapan penggembalaan itu bersifat konfidensial (rahasia)? Sebutkan alasan Anda!

Sebelumnya kata konfidensial itu berasal dari kata “confindence” yakni keyakinan yang tumbuh secara mendalam. Maka, percakapan penggembalaan itu bersifat konfidensial karena adanya suatu pergerakan keyakinan-keyakinan intern dalam diri gembala yang dipancarkan dari Allah melalui buah-buah Roh supaya adanya penyataan-penyataan Firman dari tugas penggembalaan yang dilaksanakan ditengah jemaat.

Kerahasiaan percakapan penggembalaan itu bukan berarti sesuatu yang menjadi tabu atau keseriusan ditengah jemaat, melainkan suatu daya penyingkapan akan adanya karya-karya Allah yang mengubah sikap jemaat sehingga kesaksian demikian adanya dalam diri dan ditunjukkan dalam sikap. Seperti halnya dalam meditasi dan kontemplasi, dimana Allah dan pribadi yang berada dalam titik penghayatan penuh, Allah senantiasa mendekap dan lebih lagi menjamah pribadi seseorang  (seperti masuk ke dalam ruangan terindah) dan Allah menyatakan rahasia-rahasiaNya bagi seseorang dan penyataan itu benar-benar ada supaya menjadi kesaksian bagi seseorang itu.



[1] Kamus Pintar Bahasa Indonesia. Djambatan, Surabaya. 2002.

[2] Carson Pue. Mentoring. 2005.

[3] Gaylord Nayce, Tanggung Jawab Etis Pelayanan: Etika Pastoral, terj. oleh BA. Abednego, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997, hlm.9

[4] Carson Pue, Op.Cit, hlm.8

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s