Tahta Suci Santo Petrus

Dalam Mat 16:19 dituliskan “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” Apakah maksud dari kunci ini? “Kunci” yang diberikan di sini maksudnya adalah kuasa untuk memimpin dan mengatur Kerajaan Sorga. Dan karena Kerajaan Sorga yang ada di dunia ini adalah Gereja, maka Rasul Petrus (dan para penggantinya) diberi kuasa untuk memimpin Gereja. Karena Gereja direncanakan oleh Yesus untuk terus eksis sampai akhir jaman (Mat 16:18; 28:19-20), maka kuasa memimpin ini diberikan juga kepada para penerus Rasul Petrus.

Di Perjanjian Lama, memang tugas “pemegang kunci” ini telah digambarkan oleh Eliakim (Yes 22) yang diberi tanggungjawab untuk memegang kunci Rumah Raja Daud, sebagai pengatur rumah tangga, yang menjadi simbol kekuasaan Kerajaan Yehuda. Dengan diberikannya kuasa ini kepada Eliakim, tentu bukan berarti Eliakim menjadi “lebih tinggi daripada” Raja Daud. Pemberian kunci ini hanya dimaksudkan agar Eliakim menjadi pengurus, pengajar bagi kerajaan raja Daud. Di Perjanjian Baru, oleh Yesus, Sang Raja keturunan Daud, kerajaan Yehuda disempurnakan menjadi Gereja-Nya yang dibangun di atas Rasul Petrus (Mat 16:18-19). Maka dengan analogi yang sama, kuasa yang diberikan oleh Yesus kepada Rasul Petrus juga tidak membuat Petrus lebih tinggi daripada Yesus. Sebab biar bagaimanapun, Yesus tetaplah Sang Pemilik kunci yang menguasai kunci itu. Jadi kunci yang disebutkan itu baik yang di kitab Yesaya 22:22 maupun Why 3:7, adalah kunci Kerajaan yang sama, sebab memang sudah sejak dahulu, Allah mempersiapkan Kerajaan Allah, dari bangsa Israel di kerajaan Yehuda pada jaman Raja Daud, sampai sekarang saat Kerajaan-Nya nyata di dalam Gereja Katolik yang didirikan-Nya. Pada PL tugas mengatur rumah/ kerajaan Daud diberikan kepada Eliakim, sedangkan pada PB, tugas mengaturKerajaan Surga diberikan kepada Rasul Petrus dan para panerusnya.

Kuasa ‘mengikat dan melepaskan’ disebutkan oleh Flavius Josephus, seorang ahli sejarah di abad ke -1, sebagai otoritas untuk mengatur, yang mengikat atau melepaskan masyarakat dari suatu kewajiban, untuk menghukum atau untuk mengampuni, dan untuk menentukan sesuatu sebagai sesuatu yang sah atau tidak sah, boleh atau tidak boleh dilakukan. Kuasa ‘mengikat dan melepaskan’ ini diberikan oleh Ratu Alexandra (76-67 BC) kepada kaum Farisi. Kuasa inilah yang sering menjadi pertentangan antara para Rabi golongan Shamma dan Hillel, pada jaman Yesus, karena yang diikat oleh golongan yang satu dilepaskan oleh yang lain, demikian sebaliknya. Di sini Josephus tidak meragukan bahwa maksud ungkapan ‘mengikat dan melepaskan’ itu berkaitan dengan otoritas.[1] Yesus mengakhiri kesimpangsiuran ini dengan memberikan otoritas yang benar kepada Petrus, yang dipercayakan untuk memimpin Gereja-Nya. Maka istilah ‘kunci’ ini adalah untuk menggambarkan pemberian kuasa yang penuh dan otoritas/ kuasa yang penuh, absolut dan tertinggi yang diberikan Yesus kepada Rasul Petrus. Jadi “kunci” ini bukanlah hanya berarti kunci pintu masuk saja (pembuka pintu bagi orang-orang yang belum mengenal Kristus untuk mengimani-Nya), tetapi seluruh kunci bagi semua pintu rumah/ Kerajaan Allah tersebut, yang menyangkut seluruh kepemimpinan umat beriman. Tugas ini kemudian dijalankan oleh Magisterium (Paus dan para uskup dalam persekutuan dengan Paus), yaitu tugas/ wewenang untuk mengikat atau melepaskan dalam hal pengajaran iman dan moral (Mat 16:19; 18:18). “Kunci” ini selain untuk membuka dan menutup Kerajaan Allah di Surga, adalah untuk juga kunci untuk mengatur Kerajaan Allah yang ada di dunia ini, yaitu di dalam Gereja. Menurut para Bapa Gereja, termasuk di sini, selain kuasa mengajar, adalah kuasa untuk mengampuni dosa (Mat 16:19).

Maka menurut Suarez, seorang Teolog Scholastik yang menggabungkan ajaran St. Gregorius dan St. Maximus, kuasa memegang kunci ini meliputi tiga hal, yaitu kuasa memberikan sakramen- sakramen, kuasa memimpin/ mengatur dan kuasa untuk mendefinisikan ajaran iman dan moral (lihat Suarez, De Poenit., disp xvi). Jadi di sini “kunci” bukan sesuatu yang dibagi-bagikan sama rata kepada semua pengikut Kristus. Interpretasi yang “kunci” pada PB harus melihat juga konteks penggenapan yang dimaksud pada PL, sebab pemberian kunci kerajaan Yehuda pada PL hanya diberikan kepada Eliakim, maka pada PB, juga hanya kepada Rasul Petrus. Sedangkan karena Yesus menginginkan agar Kerajaan-Nya/ Gereja-Nya terus bertahan sampai akhir jaman, maka pemberian “kunci”/ wewenang ini berlangsung terus kepada para penerus Rasul Petrus. Dan karena secara prinsip: yang diberi wewenang selalu tidak pernah mengatasi Yang Memberi wewenang, maka Petrus (dan penerusnya) yang diberi wewenang tidak akan pernah menjadi lebih tinggi daripada Kristus Sang Pemberi wewenang. Sebab apapun yang ditetapkan oleh Petrus adalah yang menjadi ketetapan Kristus dan Petrus hanya menjalankan tugas ini, sesuai dengan wewenang yang diberikan kepadanya.

Altar-of-the-Chair

Pandangan besar dari Ordo Commilitoni Sancti Cruce (OCSC) Templar Modern saat ini adalah, bukanlah pemikiran yang seada-adanya yang saling dikonfirmasi oleh Gereja-Gereja saat ini, seperti Suksesor Rasul Andreas oleh Gereja Orthodoks Russia dan lainnya, Suksesor Rasul Thomas oleh Gereja Siro-Malankara dan sejenisnya, Suksesor Rasul Barnabas oleh gereja-gereja partikular orthodoks lainnya. Jelas bagi OCSC, Paus Roma sebagai Pengganti Santo Petrus dan para Patriarkh dalam kesatuan Dewan Suci Para Uskup Universal inilah menjadi penerus Gereja Universal. Justru, OCSC sangat bingung mengapa Gereja Orthodoks dan Gereja Latin Roma saling meyakinkan pada jemaat ALLAH tentang siapa yang paling unggul. Dilihat dari kisahnya dan sejarahnya berdasarkan INJIL bahwa Santo Petrus-lah yang mendapatkan kedudukan penting dari YESUS hingga akhirnya Pertemuan Suci di Yerusalem (lih. Kisah Para Rasul) dimana Santo Petrus-lah sebagai pemimpin Pertemuan (Konsili) tersebut.

OCSC terkadang ingin menjelaskan namun karena adanya kebutaan perasaaan oleh Gereja seberang yang mengatakan bahwa Otoritas Gereja Katholik Roma Latin-lah yang memisahkan diri, padahal tidak. Gereja Roma Latin telah mencoba dan merevisi berbagai hal krusial yang membuat skisma antara Tubuh Mistik Kritus yakni GerejaNya.

Tetapi Templar Modern menjadikan diri sebagai biarawan awam di tengah lingkungan sekular yang semakin menggerus keimanan dan nilai-nilai tradisi Gereja mengambil jalan tengah untuk terus mengikuti Uskup Agung Roma sebagai Penerus Santo Petrus dan mengakui Suksesi dari Para Rasul lainnya yang terwujud dalam Patriakhat.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s