Santapan Harian

Santapan Harian
Imamat 23:1-22

Judul: Perayaan dalam konteks ekologis
Pada perikop-perikop sebelumnya telah dinyatakan, bahwa keteraturan etis dalam kehidupan sosial dan pribadi menjadi titik penting dalam pemberian hukum kekudusan. Dua perikop berikutnya juga berbicara mengenai keteraturan. Pada perikop hari ini dijelaskan bagaimana sikap umat pada hari-hari raya yang telah ditentukan, yaitu Sabat (2-3), Paskah (5), Roti Tidak Beragi (6-14), dan Pentakosta (15-22).

Continue reading “Santapan Harian”

Iklan

Ingkar Janji

Ingkar Janji
Mazmur 31:6

Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 95; Lukas 7; Yosua 1-2

Kapan terakhir Anda mempercayai seseorang atau sesuatu, hanya untuk dikecewakan? Apakah itu produk yang diiklankan dan menjanjikan menjadi solusi bagi permasalahan Anda, namun saat sampai di rumah dan Anda mencobanya namun tidak bekerja seperti yang diharapkan. Atau mungkin juga seseorang yang berjanji bahwa ia dapat Anda andalkan, namun saat Anda membutuhkannya, mereka tidak ada untuk Anda.

Kita semua pasti pernah mengalami hal serupa. Kita sering dikecewakan, kepercayaan kita hancur, dan hal itu membuat kita sulit untuk kembali menaruh kepercayaan kepada seseorang. Mereka telah menghancurkan salah satu gambaran dalam hidup manusia, yaitu El-Emet.

Apa itu Emet? Emet adalah bahasa Ibrani yang mewakili kebenaran Allah, bahwa Tuhan adalah kepastian dan dapat diandalkan. Kedua hal itu adalah komponen karakter Tuhan yang tidak akan pernah mengecewakan kita, tidak seperti manusia atau produk buatan manusia. Emet menunjukkan bahwa Tuhan selalu sebagus yang diiklankan, selalu mampu dan setia untuk menggenapi janji-Nya. Artinya Tuhan selalu menindaklanjuti apa yang telah Ia katakana. Setiap saat. Tanpa kecuali.

Banyak orang telah kecewa atau bahkan kecewa dengan kehidupan karena satu dan lain hal tidak mendapatkan apa yang dijanjikan. Dalam beberapa kasus, bahkan mereka dikecewakan oleh seseorang yang seharusnya “mewakili Tuhan”.  Dan hasilnya mereka akan menunjuk kepada Tuhan sebagai sesuatu yang palsu atau tidak dapat dipercaya.

Jika Anda salah satunya, di masa-masa Pra Paskah ini adalah waktu yang baik untuk memulihkan hati Anda yang kecewa. Ingatlah bagaimana Yesus telah menderita bahkan hingga mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Jika nyawa-Nya saja tidak Ia sayangkan, maka janji-Nya dalam hidup Anda pun tidak mungkin Ia pungkiri. Tuhan adalah Allah kebenaran, El-Emet, Tuhan yang dapat dipercaya dalam setiap aspek dan keberadaan hidup kita.

Manusia dan dunia ini mungkin mengecewakan Anda, namun Tuhan adalah Allah Kebenaran, Ia dapat Anda percaya.

share from Renungan Harian for Android
http://www.konsepmobile.com/portfolio-item/daily-devotionals/

Posted from WordPress for Android

Ia di Sini untuk Menolong

Ia di Sini untuk Menolong
Roma 8:35

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?

Bacaan Alkitab Setahun : mazmu19 matiu19 kejad37-38

Setelah kebangkitan-Nya Yesus menjumpai murid-murid-Nya, menemui mereka di antara taman dengan kuburan kosongnya dan kota dengan kerumunan orang yang masih dipenuhi kebencian. Ia berkata kepada mereka, “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku.” (matiu28:10).

Di tengah dunia yang penuh dengan bahaya, kebencian, dan perang, kata-kata Tuhan kita Yesus Kristus, mengandung makna yang sama dengan ketika Ia berbicara dengan mereka. Ia masih mengatakan kepada semua orang yang mengasihi-Nya, “Jangan takut.”

Dia menemui Anda di rumah sakit atau di tengah sebuah tragedi keluarga. Ia mendatangi Anda di tengah kemunduran bisnis atau kondisi fisik yang kritis. Dan ia berkata, “Jangan takut. Aku hidup, dan Aku disini untuk menolongmu. Salib menunjukkan kedalaman kasih-Ku, dan Kebangkitan menunjukkan kedalaman kuasa-Ku. Tidak ada yang dapat memisahkanmu dari-Ku!”

Seberat apapun situasi yang sedang Anda alami, jangan pernah sungkan atau ragu untuk datang dan meminta pertolongan kepada Tuhan.

 

share from Renungan Harian for Android
http://www.konsepmobile.com/portfolio-item/daily-devotionals/

Posted from WordPress for Android

Penggembalaan

1. Kenapa dasar utama dan sikap penggembalaan itu perlu bagi setiap gembala?

Gembala (pastor) menurut kamus bahasa Indonesia adalah pemirsa ternak.[1] Pemirsa merupakan pemelihara, penjaga, pengawas, dan pengayom. Dasar utama dan sikap dari seorang penggembala dengan jelas diterangkan dalam Kitab Yohannes 10:11-17 dan dalam Matius 28:19-20 yang merupakan titik tolak bagi penggembalaan/pastoral.

Setiap gembala perlu berkarakter seperti Yesus, Sang Gembala Baik yang memberikan nyawaNya bagi domba-dombaNya; maka dasar utama dan sikap gembala gereja adalah menjaga dengan erat dan merangkul segala jenis sifat ataupun karakter jemaat, bukannya bersikap “mencuci tangan” dari segala permasalahan yang ada ditengah jemaat, melainkan berjiwa seperti panglima perang yang lebih dahulu maju untuk berperang, dengan demikian gembala memajukan jemaatnya dengan penuh kekuatan Allah dan semangat Injil.

Sifat dasariah penggembalaan yang jelas-jelas ada pada Yesus adalah pengenalan terhadap dombaNya. Bila pengenalan dan pemahaman akan jemaat tampak pada diri gembala jemaat maka jemaat gereja akan merasa lebih dekat dengan Yesus dan merasa diberi kekuatan (penyaluran rahmat Allah).

Pada Yoh 10:16 dikatakan apabila gembala menunjukkan keseriusan dalam integritas pelayanan akan jemaat maka domba-domba lain akan merasa terpanggil karena berkat pelayanan yang kokoh dan penuh keteguhan loyalitas pelayanan dari gembala. Dan istilah ini dikenal dengan pastoral approach.[2]

2. Kenapa seorang gembala harus memiliki sikap dasar? Cobalah terangkan alasan-alasan Anda dari setiap sikap dasar tersebut!

Seorang gembala mau tak mau menjadi pusat dari interaksi yang terus menerus terjadi dalam pengajaran, pelayanan dan pendalaman; dan hanya gembala-lah yang mendapatkan beban yang paling besar untuk mewujudkan domba pilihan dihadapan Tuhan Allah.

Ungkapan Gaylord Nayce [3](pakar teologi dogmatis) menyebutkan bahwa gembala adalah orang yang bertanggung jawab untuk menyinarkan belas kasih Kristus; sehingga jelaslah bahwa sikap dasar penggembalaan yakni: (a) kesadaran (kemampuan, karunia, keterampilan, pemahaman bayangan kehidupan sebagai nilai penggembalaan, termasuk penyucian dan konsep diri), (b) bebas (penjejakan arah kehidupan, pengalaman, dan pengembangan mentalitas penggembalaan sesuai Firman Tuhan), (c) visioner (pemantapan tujuan-tujuan penggembalaan dan menjemaat, pengembangan karakter, dan kemampuan mengayomi jemaat), (d) implementasi (mengapresiasikan kemutlakan Firman Tuhan di dalam setiap segi kehidupan, baik perilaku maupun berpikir), (e) bertahan (perefleksian diri sebagai Hamba Tuhan yang bekerja secara penuh diladang Tuhan, introspeksi diri, dan usaha pengembalian perjanjian Tuhan) (seperti dijelaskan Carson Pue [4])

Dan, yang paling utama dari sikap dasar seorang gembala adalah betul-betul menjadi pelaku Firman Tuhan, sehingga jelas nyata segala perbuatan dan tingkah lakunya dihadapan jemaat terlebih di hadapan Tuhan Allah.

 

3. Bagaimana Anda bisa melatih diri dalam keterampilan dasar yang diperlukan? Cobalah terangkan!

Keterampilan dasar yang utama dalam penggembalaan adalah kepasrahan penuh kepada Tuhan sesuai dengan kehendakNya seperti para Nabi (bnd. Yeremia 1:7-8, Yosua 1: 1-9). Sebagai penambahan keterampilan dalam penggembalaan yang lainnya antara lain: talenta-talenta yang dimiliki dari Allah (seperti: orasi, berdoa, dll), cakap dalam berkhotbah, kemampuan menafsir Alkitab, penggerak/pemotivasi jemaat.

Keterampilan dasar dalam penggembalaan yang mencakup: pemahaman Alkitab berdasarkan tuntunan Roh; ketekunan dan ketulusan dalam doa; ketekunan dan ketulusan dalam ibadah; komunikasi yang intim dengan Allah dan dengan sesama; dan relasi dalam hidup yang seimbang; kesemuanya ini dapat dilatih melalui teknik meditatif bersama Allah, kontemplasi, refleksi, introspeksi diri, pengakuan, dan usaha perubahan (hal ini banyak diterapkan dalam sistem pastoral Katolik, Orthodoks, Anglikan dan beberapa aliran Karismatik). Melatih diri untuk meditas (pemusatan pikiran) seluruhnya kepada Allah, dan memasuki babak kontemplasi dimana rasa kebergantungan kepada Allah menuju puncaknya, dan memberikan suatu refleksi serta instrospeksi diri secara mendalam dan menumbuhkan pengakuan di hadapan Tuhan dan perubahan secara utuh dari kekuatan Roh Kudus.

 

4. Kenapa percakapan penggembalaan itu bersifat konfidensial (rahasia)? Sebutkan alasan Anda!

Sebelumnya kata konfidensial itu berasal dari kata “confindence” yakni keyakinan yang tumbuh secara mendalam. Maka, percakapan penggembalaan itu bersifat konfidensial karena adanya suatu pergerakan keyakinan-keyakinan intern dalam diri gembala yang dipancarkan dari Allah melalui buah-buah Roh supaya adanya penyataan-penyataan Firman dari tugas penggembalaan yang dilaksanakan ditengah jemaat.

Kerahasiaan percakapan penggembalaan itu bukan berarti sesuatu yang menjadi tabu atau keseriusan ditengah jemaat, melainkan suatu daya penyingkapan akan adanya karya-karya Allah yang mengubah sikap jemaat sehingga kesaksian demikian adanya dalam diri dan ditunjukkan dalam sikap. Seperti halnya dalam meditasi dan kontemplasi, dimana Allah dan pribadi yang berada dalam titik penghayatan penuh, Allah senantiasa mendekap dan lebih lagi menjamah pribadi seseorang  (seperti masuk ke dalam ruangan terindah) dan Allah menyatakan rahasia-rahasiaNya bagi seseorang dan penyataan itu benar-benar ada supaya menjadi kesaksian bagi seseorang itu.


[1] Kamus Pintar Bahasa Indonesia. Djambatan, Surabaya. 2002.

[2] Carson Pue. Mentoring. 2005.

[3] Gaylord Nayce, Tanggung Jawab Etis Pelayanan: Etika Pastoral, terj. oleh BA. Abednego, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997, hlm.9

[4] Carson Pue, Op.Cit, hlm.8

Tafsir Perjanjian Baru Injil Markus 6:1-5

Tafsir Markus 6:1-5

I. Pendahuluan

Injil Markus diwariskan kepada kita dalam bahasa Yunani. Dalam abad ke-20 bahasa Yunani dalam Injil Markus sering dicap canggung. Tetapi “cacat” ini (cacat kalau dilihat dari sudut bahasa dan gaya bahasa Yunani) dinilai positif, sebab dianggap sebagai bukti keaslian Markus. Karena bahasa Markus terpengaruh oleh gaya bahasa Semit (tegasnya bahasa Aram), ia masih dekat dengan lapis tradisi yang paling tua, yang masih memakai bahasa Aram, demikianlah berpendapat sejumlah pakar. J.C. Doudna telah melakukan penelitian khusus mengenai bahasa Yunani dalam Injil Markus. Menurutnya, tidak dapat dipastikan bahwa naskah Injil itu merupakan terjemahan dari bahasa Aram, tetapi ia menduga kuat bahwa salah satu versi lebih tua benar-benar diterjemahkan dari bahasa Aram ke dalam bahasa Yunani. Lain pula pendapat M. Reiser. Dalam karyanya Syntax und Stil des Markusevangeliums im Licht der Hellenistichen Volksliteratur (Tübingen,1984) dibuktikannya bahwa sering kali orang memandang ungkapan tertentu sebagai “semitisme” (terbentuk menurut gaya bahasa semitis) hanya karena mereka sendiri kurang menguasai seluk beluk bahasa Yunani. Menurut Reiser, unsur semitis itu dapat ditemukan hanya dalam kosakata, semantik (pemakaian kata-kata) dan fraselogi (penyusunan kalimat) Injil Markus. Sebaliknya, dalam sintaks dan gaya Injil itu tidak muncul semitisme. Bahasa Markus dapat dijuluki “Bahasa Yunani sebagaimana yang keluar dari mulut seorang Yahudi”. Bahasanya mempunyai warna khusus, sama seperti bahasa Jerman yang dipakai dalam lingkungan gereja atau dalam lingkungan penganut ideologi tertentu mempunyai warna tersendiri. [1]

Rangka Injil Markus adalah paling tidak sistematik. Pembukaan Injil merangkum pewartaan oleh Yohannes Pembaptis, baptisan Yesus dan pencobaanNya di padang gurun,1:1-13;kemudian beberapa petunjuk tentang karya Yesus di Galilea, 1:14-7:23;menyusullah perjalanan Yesus bersama murid-muridNya ke daerah Tirus dan Sidon, ke Dekapolis, di kawasan Kaisarea Filipi, lalu Yesus kembali ke Galilea, 7:24-9:50. Akhirnya sebuah perjalanan lain melalui daerah Perea dan kota Yerikho menuju Yerusalem hendak menempuh sengsara dan kebangkitan, 10:1-16:8. Tanpa berkata tentang urutan kejadian-kejadian secara terperinci nampaklah rangka tersebut agak dibuat-buat. Sebab mungkin sekali, sebagaimana dibuktikan Injil keempat (Yohannes), bahwa Yesus beberapa kali pergi ke Yerusalem sebelum Paskah-sengsara. Namun demikian, garis-garis besar Markus memperlihatkan suatu perkembangan yang perlu dipertahankan, baik karena nilai historisnya maupun karena makna teologisnya. [2]

Tujuan dari penafsiran yang baik bukanlah keunikan. Penafsiran yang unik biasanya salah. Ini bukannya mengatakan bahwa penafsiran yang benar terhadap sebuah text tidak akan terdengar unik ditelinga orang yang pertama kali mendengarnya. Yang mau dikatakan adalah bahwa kita menafsirkan bukan supaya penafsiran itu menjadi unik. Keunikan bukanlah tujuan dari penafsiran.

Tujuan dari penafsiran yang baik adalah untuk menangkap arti yang jelas dari teks. Penafsiran yang bagus harus diuji yaitu apakah tafsiran tersebut pas dengan konteks. Tapi jika tujuan dari penafsiran adalah untuk menangkap arti yang jelas, kenapa harus menafsirkan? kenapa tidak sekedar baca saja?

Pertanyaan dasar yang harus ditanyakan ketika kita membaca text Alkitab (menafsirkan), yaitu pertanyaan yang berhubungan dengan kontext. Pertanyaan yang berhubungan dengan kontext dasarnya terbagi 2 yaitu sejarah dan literal. (1) Konteks Sejarah berbeda-beda dalam tiap buku. Ini berhubungan dengan budaya dan jaman sang penulis dan pembaca pada jamannya. Untuk itu kita butuh sumber luar seperti kamus Alkitab (Bible Dictionary) misalnya International Standard Bible Encyclopedia dll. (2) Konteks literal ini adalah bagian vital untuk kita bisa berexegesis dengan baik. [3]

Dalam penafsiran yang akan dilakukan berdasarkan prinsip hermeneutika, yakni: analisis kontekstual (Analisa konteks menuntut suatu kata/ayat harus dipahami dalam kaitan dengan ayat/perikop/pasal yang lain), analisa gramatikal (menuntut suatu kata dipahami berdasarkan bahasa asli Alkitab), penafsiran kata (leksikal: suatu kata memiliki arti tertentu dalam konteks tertentu), dan penafsiran teologis. [4]

 

II. Penafsiran Markus 6:1-5

Injil Markus 6:1-5 berbicara tentang penolakan bangsa Yahudi terhadap Yesus. Dari rumah Yairus, Yesus menuju Nazaret (Markus 5:21-43). Ini dapat dilihat dari keselarasan perikop yang lalu, yakni 5:21-43. Markus mencatat hal ini dengan kata-kata: “Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asalNya, sedang murid-muridNya mengikuti Dia” (6:1). Catatan ini langsung menyambung keterangan sebelumnya: Yesus memasuki sebuah rumah (5:38); di dalamnya Dia membangkitkan seorang anak perempuan; kemudian Dia meninggalkan lagi rumah itu. Pada saat itu Dia dapat saja berhenti untuk dipuji-puji orang banyak. Sebaliknya, Dia mengundurkan diri. Dia berangkat pergi ke kota kelahiranNya. Kunjungan ke Nazaret ini berlangsung dalam periode sesudah hari Yesus berkata-kata dalam perumpamaan (bnd.juga Matius 13:53-54). Maka kunjungan ini bukanlah kunjungan yang diceritakan dalam Lukas 4:14-30, yang berlangsung pada awal pertama pemberitaan Yesus di Galilea. Markus bahkan tidak menyebutkan nama kota Nazaret, tetapi hanya menyebutya sebagai “tempat asal Yesus”. [5]

Ditempat asalNya jelas menunjukkan maksudnya adalah Nazaret, seperti ditunjukkan dalam hubunganNya. Kunjungan ini harus dibedakan dari kunjungan dalam Lukas 4:16-30, yang terjadi setahun lebih dahulu. Waktu itu Yesus meninggalkan Nazaret sebagai perseorangan dengan urusan pribadi. Sekarang Yesus kembali sebagai Guru, yang dikelilingi oleh muridNya, agaknya untuk memberikan kesempatan lebih lanjut kepada orang sedesaNya. Tapi hasilnya sama dengan kunjungan yang dahulu. Keirihatian mereka bergejolak. Tidak dapat dibayangkan bahwa seorang dari desa mereka membawa amanat dari sorga. Sikap ini disebabkan ketidakpercayaan mereka (ayat 6). [6]

Kitab Yunani menunjukkan kata patrida [7] (father-place: diterjemahkan ke dalam Inggris sehari-hari own-country)  yang berarti tempat asal. Namun, kata Yunani yang ditunjukkan oleh Drewes [8] kata patriV sebagai tanah air, tempat asal. Hal ini menunjukkan juga keeratan arti kata yang menyatakan tempat asal Yesus yang kita ketahui adalah Nazaret.

Markus 6:2 menuliskan Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: “Dari mana diperolehNya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepadaNya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? (And when the Sabbath day was come, He began to teach in the synagogue: and many hearing Him were astonished, saying, From whence hath this Man these things? And what wisdom is this which is given unto Him, that even such mighty works are wrought by His hands?[9]). Hari Sabat adalah hari pertemuan kaum Yahudi untuk mendengarkan pengajaran dan pembacaan Kitab Suci. Ini menjadi bagian dari liturgi Yahudi. Di hari Sabat ini, setiap orang tidak dapat melakukan pekerjaan apapun.

Ayat 6:2 menggambarkan tanggapan banyak pendengar selagi upacara ibadah masih sedang berlangsung (akountes, bukan akounsantes). Mereka terkejut dan bingung. Kata kerja yang dipakai (eksplêssomai) bersifat netral: olehnya diungkapkan ketegangan emosional yang hebat, apakah ketegangan itu disebabkan rasa kagum atau oleh sikap bermusuhan. Dalam ayat 2b menyusullah berbagai reaksi bernada pertanyaan, yang mengandung pengakuan: orang melihat dengan jelas bahwa Yesus memiliki hikmat yang luar biasa dan melakukan perbuatan yang penuh kuasa. Meskipun begitu, orang tidak bergembira, tetapi tercengang. Mereka semua bingung. Bagaimana mungkin “semuanya itu” dimiliki manusia ini? Karena mereka mengajukan beberapa pertanyaan, yang tidak bernada bermusuhan, tetapi menandakan sikap menjaga jarak: “dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apakah pula yang diberikan kepada Dia? Dan mukjizat-mukjizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tanganNuya?”. Rupa-rupanya mereka mendengar kabar tentang mukjizat-mukjizat itu; disamping itu, pasti murid-murid Yesus dapat memberi keterangan tentangnya. [10]

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Yesus menunjukkan keragu-raguan mereka untuk menerima pengajaran Yesus dan pengakuan tentang Anak Allah yang disandang Yesus. Kata poqen[11] (which-place/whence:darimana) yang dibedakan dari poteron [12](which-more/whether: apakah kamu tahu?) merupakan kata yang mempertanyakan. Orang-orang Nazaret mempertanyakan dari mana (asal dan siapa), mereka mempertimbangkan semua pernyataan Yesus.

Kebijaksanaan dan kuasaNya tidak dapat dipungkiri, tapi mereka mempersoalkan asal kuasa ilahi dari segalanya itu. Memang logis, bahwa jika hal yang jelas bersifat adikodrati tidak datang dari Allah, maka datangnya harus dari Iblis. Inilah hakikat ketidakpercayaan: kekeraskepalaan menolak bukti dan mengakui kehadiran kuasa Allah. Tidak ada sesuatu pun sedemikian itu merintangi kuasa Allah. Bahwa Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun disana (ayat 5) adalah satu dari pernyataan yang paling tegas dalam Kitab-kitab Injil, tapi menunjukkan, bahwa mukjizat-mukjizat Tuhan Yesus bukanlah sihir semata-mata. Mukjizat-mukjizat itu secara erat dihubungkan dengan keadaan moril dan iman orang. Sekalipun Allah mahakuasa, dalam kedaulatanNya Ia tidak berkenan memberkati dalam gejolak pemberontakan manusia. [13]

Markus 6:3 menuliskan : “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudaraNya perempuan ada bersama kita?”Lalu mereka kecewa dan menolak Dia (Is not this the carpenter, the son of Mary, the brother of James, and Joses, and Juda, and Simon? And are not His sisters here with us? And they were offended at Him). Pernyataan “tukang kayu” tektwn[14] di dalam Kitab Yunani diartikan artisan (pekerja tangan yang ahli[15]) dan terjemahan bebas: carpenter (tukang kayu). Dan sejajar dengan kata tektwn, ada kata tecnithV yang berarti teknisi. Pekerjaan Yesus sebagai tukang kayu diikuti dari ayahNya, Yusuf, yang bekerja sebagai tukang kayu (lih.juga Matius 13:55). Namun, di ayat tersebut tidak mencantumkan Yusuf (“anak Yusuf”) melainkan Maria, padahal dari segi tradisi Yahudi harus menempatkan bar (anak dari..). Menurut pandangan Katolik Markus mungkin menyamarkan untuk mengemukakan bahwa Yesus diperkandung oleh perawan[16]. Dan keikutsertaan saudara-saudara Yesus ini menimbulkan satu tafsiran bahwa Maria setelah melahirkan Yesus, melahirkan lagi anak-anak yang disebutkan. Namun, sejarah masih ragu akan hal tersebut.

Ayat 6:3, kaum Yahudi tidak bermaksud menjelekkan Yesus, tetapi mereka hanya mau menggambarkan Dia sebagai sekedar orang Nazaret. Karena itu, seharusnya ucapan-ucapan mereka tentang Yesus tidak diartikan sebagai ungkapan permusuhan. Sebutan “tukang kayu tidak bersifat menghina, tetapi menunjukkan bahwa orang mengenal Yesus sebagai tukang kayu yang pernah aktif di desa itu[17]. Dalam hal itu Yesus berguru pada bapakNya (di bumi ini), Yusuf, yang juga seorang tukang kayu. Tidak masuk akal kalau di sini julukan “anak Maria” dianggap bernada kecaman (anak haram)[18]. Karena yang mengucapkannya penduduk Nazaret, tidak wajar bila julukan tersebut dianggap sebagai acuan ke kelahiran dari seorang anak dara. Julukan itu bersifat praktis, sekedar penyebutan fakta, bukan catatan resmi mengenai silsilah Yesus (seperti halnya sebutan “anak Yusuf” dalam Lukas 4:22 dan Yohannes 6:42). Namun, mungkin di dalamnya terungkap bahwa pada waktu itu Yusuf telah meninggal, sehingga dalam kehidupan sehari-hari Yesus dianggap sebagai anggota tertua rumah tangga Maria, si janda. [19]

Dan mengenai saudara laki-laki Yesus, ternyata orang mengenalnya. Namun, saudara perempuan Yesus tidak disebut, tetapi dikenal juga, karena semua tinggal di desa itu. Nazaret bukan hanya tempat asal Yesus yang resmi, melainkan juga kampung halamanNya, tempat tinggal keluargaNya. Maka Nazaret hanya memperhatikan profesi dan keluargaNya saja.

Lalu mereka menolak Dia”, pernyataan ini belum tentu orang-orang Nazaret mengambil sikap bermusuhan terhadap Dia. Maka tidak tepat jika cerita ini diberi nama “penolakan Yesus di Nazaret”, sebagaimana sering orang lakukan. Injil Markus memakai kata kerja yang sama (skandalizomai) sehubungan dengan para murid yang melarikan diri dari Getsemani (14:27,29).[20] Tetapi jika dianalisis dari teks Kitab Yunani Markus kata penolakan adalah eskandalizonto [21]yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris they-were-snared (menjerat). Drewes menunjukkan kata eskandalizonto dari eskandalizw[22] berarti menjatuhkan, menyebabkan berbuat dosa; pasif : jatuh, d.s tidak percaya, menolak. Bila dilihat secara harfiah saja, maka dinilai bahwa orang-orang Nazaret memang bermusuhan dengan Yesus disaat mendengarkan perkataanNya bukan jauh sebelumnya.

Markus 4:4 menuliskan Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, diantara kaum keluarganya dan dirumahnya” (But Jesus said unto them, A prophet is not without honour, but in his own country, and among his own kin, and in his own house). Agaknya perkataan Yesus ini tidak mengandung arti bahwa para nabi dihormati di mana-mana kecuali di rumah mereka sendiri. Bukankah Dia sering mengingatkan pada penolakan umum terhadap para nabi (Matius 5:12;23:31,35,37)? Maka perlu memperhatikan bunyi harfiah perkataan tadi. Dengan perkataan lain: Seandainya seorang nabi dihormati ditempat asalnya, niscaya dimana pun ia dihormati. Tetapi kenyataannya malah terbalik: Di mana pun ia tidak dihormati, terutama di kota kelahirannya. Ucapan ini tidak bersifat umum saja, tetapi mengandung arti sangat dalam. Yesus harus ditolak sebab Dia tidak terhormat di mata teman sekota dan sanak saudaraNya, yang pada saat itu tidak bersedia mengakui bahwa Dia bukan hanya salah seorang kenalan dari lingkungan mereka sendiri (bnd.Yes.53).[23]

Markus 4: 5 menuliskan: Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun disana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tanganNya atas mereka (And He could there do no mighty work, save that He laid His hands upon a few sick folk, and healed them). Yesus tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun di sana, bukan karena Dia tidak mampu. Sesungguhnya, Dia menyembuhkan “beberapa orang sakit” dengan meletakkan tanganNya atas mereka. Tetapi, penyembuhan beberapa orang saja itu menunjukkan bahwa Yesus tidak sempat menyembuhkan yang lain, karena mereka tidak datang.[24]

Kata tidak dapat mengadakan dalam teks Yunani adalah “ekei  oudemian dunamin poihsai” (there not-yet-one ability to do: tidak ada satu pun kemampuan yang dilakukan). Ini mengindikasikan secara harfiah bahwa Yesus enggan melakukan perbuatan mukjizat di Nazaret, mungkin karena kekeraskepalaan dan kekurangpahaman akan hadirat Allah.

Ayat ini menunjukkan Matius  (15:38) melunakkan pernyataan itu dengan menulis, “tidak banyak mukjizat dilakukanNya”, sebagai ganti tulisan Markus tidak dapat melakukan satu mukjizat pun di sana. Tetapi pernyataan Markus tidak mengandung arti bahwa Yesus adalah tanpa kuasa, melainkan bahwa Ia tidak dapat berbuat sesuai dengan tujuanNya, jika tidak ada iman.[25] Penegasan ini dilanjutkan juga pada ayat 6.

 

III. Penutup

Sungguh sukar bagi penduduk Nazaret untuk mempercayai, bahwa Yesus adalah Mesias, karena mereka mengenal Dia sejak kecil. Sukar sekali bagi mereka untuk mengakui bahwa Dialah Juruselamat. Dosa besar penduduk Nazaret itu adalah  bahwa mereka hanya kagum saja. Mereka memuji Yesus, lainnya tidak. Nabi Yehezkiel pun sudah mengalaminya (Yeh. 33:30-32). Tak ada gunanya kalau kita hanya memuji-muji Yesus saja, yang perlu adalah: kita harus mengerti, bahwa kita adalah orang-orang tertawan dan miskin, jadi perlu ditolong.[26]

 

IV. Daftar Pustaka

Tim Editor. 1982. Tafsiran Alktab Masa Kini: Matius-Wahyu. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih.

LBI. 2001. Alkitab-Deutrokanonika. Jakarta: Lembaga Biblika Indonesia.

De Mol, Andre. 2008. Alkitab Virtual: Kitab-kitab Ibrani dan Yunani, ISA. (Software)

Van Bruggen, Jakob. 2006. Markus: Injil menurut Petrus. terj.oleh Dr.Th. van den End. Jakarta: Gunung Mulia.

Sproul,R.C. 1994. Mengenali Alkitab. Seminari Alkitab Asia Tenggara-Malang.

Yakub Tri Handoko. Hermeneutika: Cara Menafsirkan Alkitab secara Sederhana, diakses dari http://www.gkri-exodus.or.id/

Drewes, B.F. 2008. Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru. Jakarta: Gunung Mulia.

Batey, R.A. 1984.“Is not this the Carpenter?” (The New Testament Studies 30. United State.

Stauffer, E. 1969. Jeschu ben Mirjam, dalam: E.E. Ellis; M. Wilcox (peny.), Neotestamentica et Semitica. Edinburgh.

LBI. 2001. Alkitab-Deutrokanonika. Jakarta: Lembaga Biblika Indonesia.

KWI. 2001. Alkitab Katolik. Ende: Arnoldus.

The Gideons International. 1995. The New Testaments-King James Version. Jakarta: LAI.

 


[1] Jakob van Bruggen, Markus: Injil menurut Petrus, terj.oleh Dr.Th. van den End,2006, Jakarta: Gunung Mulia, hlm.15-16

[2] Lihat Pendahuluan Injil Alkitab Katolik,Ende: Arnoldus, 2001, hlm.15

[3] R.C.Sproul,Mengenali Alkitab, Seminari Alkitab Asia Tenggara-Malang, 1994, hlm.65

[4] Disadur dari: Yakub Tri Handoko, M.Th, Hermeneutika: Cara Menafsirkan Alkitab secara Sederhana, diakses dari http://www.gkri-exodus.or.id/

[5] Jakob van Bruggen, hlm.192-193

[6] Tim Editor, Tafsir Alkitab Masa Kini 3, Jakarta: Gunung Mulia, hlm.145

[7] Terjemahan ini diambil dari Alkitab Virtual, ISA 2.1.3, 2008, dikeluarkan Belanda, Andre de Mol.

[8] Pdt,B.F.Drewes, M.Th,Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru, 2008, Jakarta: Gunung Mulia, hlm.121

[9] The Gideons International, The New Testaments-King James Version, Jakarta: LAI,1995

[10] Jakob van Bruggen, hlm.194

[11] Pdt,B.F.Drewes, M.Th, loc.cit

[12] Lihat Alkitab Virtual ISA, poteron. Adj.Inv

[13]Tim Editor, loc.cit

[14] Lihat Alkitab Virtual ISA, menunjukkan kata benda (noun)

[15] Hornby, Oxford English Dictionary, 1987

[16] Lih. Catatan kaki Alkitab-Deutrokanonika, Jakarta: LBI, 2001

[17] Batey, R.A., “Is not this the Carpenter?” (The New Testament Studies 30, 1984, p.249

[18] Stauffer, E., Jeschu ben Mirjam, dalam: E.E. Ellis; M. Wilcox (peny.), Neotestamentica et Semitica, Edinburgh, 1969, p.119

[19] Jakob van Bruggen, hlm.195

[20] —–,loc.cit

[21] Lihat Alkitab Virtual ISA, menunjukkan imperfek pasif

[22] Pdt,B.F.Drewes, M.Th, hlm.122

[23] Jakob van Bruggen, hlm.196

[24] ———,loc.cit

[25] Tim Editor, loc.cit

[26] Prof. Dr. J.H. Bavinck, Sejarah Kerajaan Allah 2, Jakarta: Gunung Mulia, 2004, hlm.185-187