Santapan Harian

Santapan Harian
Imamat 23:1-22

Judul: Perayaan dalam konteks ekologis
Pada perikop-perikop sebelumnya telah dinyatakan, bahwa keteraturan etis dalam kehidupan sosial dan pribadi menjadi titik penting dalam pemberian hukum kekudusan. Dua perikop berikutnya juga berbicara mengenai keteraturan. Pada perikop hari ini dijelaskan bagaimana sikap umat pada hari-hari raya yang telah ditentukan, yaitu Sabat (2-3), Paskah (5), Roti Tidak Beragi (6-14), dan Pentakosta (15-22).

Continue reading “Santapan Harian”

Ingkar Janji

Ingkar Janji
Mazmur 31:6

Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 95; Lukas 7; Yosua 1-2

Kapan terakhir Anda mempercayai seseorang atau sesuatu, hanya untuk dikecewakan? Apakah itu produk yang diiklankan dan menjanjikan menjadi solusi bagi permasalahan Anda, namun saat sampai di rumah dan Anda mencobanya namun tidak bekerja seperti yang diharapkan. Atau mungkin juga seseorang yang berjanji bahwa ia dapat Anda andalkan, namun saat Anda membutuhkannya, mereka tidak ada untuk Anda.

Kita semua pasti pernah mengalami hal serupa. Kita sering dikecewakan, kepercayaan kita hancur, dan hal itu membuat kita sulit untuk kembali menaruh kepercayaan kepada seseorang. Mereka telah menghancurkan salah satu gambaran dalam hidup manusia, yaitu El-Emet.

Apa itu Emet? Emet adalah bahasa Ibrani yang mewakili kebenaran Allah, bahwa Tuhan adalah kepastian dan dapat diandalkan. Kedua hal itu adalah komponen karakter Tuhan yang tidak akan pernah mengecewakan kita, tidak seperti manusia atau produk buatan manusia. Emet menunjukkan bahwa Tuhan selalu sebagus yang diiklankan, selalu mampu dan setia untuk menggenapi janji-Nya. Artinya Tuhan selalu menindaklanjuti apa yang telah Ia katakana. Setiap saat. Tanpa kecuali.

Banyak orang telah kecewa atau bahkan kecewa dengan kehidupan karena satu dan lain hal tidak mendapatkan apa yang dijanjikan. Dalam beberapa kasus, bahkan mereka dikecewakan oleh seseorang yang seharusnya “mewakili Tuhan”.  Dan hasilnya mereka akan menunjuk kepada Tuhan sebagai sesuatu yang palsu atau tidak dapat dipercaya.

Jika Anda salah satunya, di masa-masa Pra Paskah ini adalah waktu yang baik untuk memulihkan hati Anda yang kecewa. Ingatlah bagaimana Yesus telah menderita bahkan hingga mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Jika nyawa-Nya saja tidak Ia sayangkan, maka janji-Nya dalam hidup Anda pun tidak mungkin Ia pungkiri. Tuhan adalah Allah kebenaran, El-Emet, Tuhan yang dapat dipercaya dalam setiap aspek dan keberadaan hidup kita.

Manusia dan dunia ini mungkin mengecewakan Anda, namun Tuhan adalah Allah Kebenaran, Ia dapat Anda percaya.

share from Renungan Harian for Android
http://www.konsepmobile.com/portfolio-item/daily-devotionals/

Posted from WordPress for Android

Ia di Sini untuk Menolong

Ia di Sini untuk Menolong
Roma 8:35

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?

Bacaan Alkitab Setahun : mazmu19 matiu19 kejad37-38

Setelah kebangkitan-Nya Yesus menjumpai murid-murid-Nya, menemui mereka di antara taman dengan kuburan kosongnya dan kota dengan kerumunan orang yang masih dipenuhi kebencian. Ia berkata kepada mereka, “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku.” (matiu28:10).

Di tengah dunia yang penuh dengan bahaya, kebencian, dan perang, kata-kata Tuhan kita Yesus Kristus, mengandung makna yang sama dengan ketika Ia berbicara dengan mereka. Ia masih mengatakan kepada semua orang yang mengasihi-Nya, “Jangan takut.”

Dia menemui Anda di rumah sakit atau di tengah sebuah tragedi keluarga. Ia mendatangi Anda di tengah kemunduran bisnis atau kondisi fisik yang kritis. Dan ia berkata, “Jangan takut. Aku hidup, dan Aku disini untuk menolongmu. Salib menunjukkan kedalaman kasih-Ku, dan Kebangkitan menunjukkan kedalaman kuasa-Ku. Tidak ada yang dapat memisahkanmu dari-Ku!”

Seberat apapun situasi yang sedang Anda alami, jangan pernah sungkan atau ragu untuk datang dan meminta pertolongan kepada Tuhan.

 

share from Renungan Harian for Android
http://www.konsepmobile.com/portfolio-item/daily-devotionals/

Posted from WordPress for Android

Yang Terdahulu Menjadi Terbelakang

Hari ini secara tak sengaja menonton TVRI pada pukul 11 malam dengan siaran Inspirasi Islam. Menyaksikan mantan suster yang bernama Irene Handono dan Felix Siauw seorang mantan Kristen menjadi narasumber mengenai Istiqomah.

Continue reading “Yang Terdahulu Menjadi Terbelakang”

Penggembalaan

1. Kenapa dasar utama dan sikap penggembalaan itu perlu bagi setiap gembala?

Gembala (pastor) menurut kamus bahasa Indonesia adalah pemirsa ternak.[1] Pemirsa merupakan pemelihara, penjaga, pengawas, dan pengayom. Dasar utama dan sikap dari seorang penggembala dengan jelas diterangkan dalam Kitab Yohannes 10:11-17 dan dalam Matius 28:19-20 yang merupakan titik tolak bagi penggembalaan/pastoral.

Setiap gembala perlu berkarakter seperti Yesus, Sang Gembala Baik yang memberikan nyawaNya bagi domba-dombaNya; maka dasar utama dan sikap gembala gereja adalah menjaga dengan erat dan merangkul segala jenis sifat ataupun karakter jemaat, bukannya bersikap “mencuci tangan” dari segala permasalahan yang ada ditengah jemaat, melainkan berjiwa seperti panglima perang yang lebih dahulu maju untuk berperang, dengan demikian gembala memajukan jemaatnya dengan penuh kekuatan Allah dan semangat Injil.

Sifat dasariah penggembalaan yang jelas-jelas ada pada Yesus adalah pengenalan terhadap dombaNya. Bila pengenalan dan pemahaman akan jemaat tampak pada diri gembala jemaat maka jemaat gereja akan merasa lebih dekat dengan Yesus dan merasa diberi kekuatan (penyaluran rahmat Allah).

Pada Yoh 10:16 dikatakan apabila gembala menunjukkan keseriusan dalam integritas pelayanan akan jemaat maka domba-domba lain akan merasa terpanggil karena berkat pelayanan yang kokoh dan penuh keteguhan loyalitas pelayanan dari gembala. Dan istilah ini dikenal dengan pastoral approach.[2]

2. Kenapa seorang gembala harus memiliki sikap dasar? Cobalah terangkan alasan-alasan Anda dari setiap sikap dasar tersebut!

Seorang gembala mau tak mau menjadi pusat dari interaksi yang terus menerus terjadi dalam pengajaran, pelayanan dan pendalaman; dan hanya gembala-lah yang mendapatkan beban yang paling besar untuk mewujudkan domba pilihan dihadapan Tuhan Allah.

Ungkapan Gaylord Nayce [3](pakar teologi dogmatis) menyebutkan bahwa gembala adalah orang yang bertanggung jawab untuk menyinarkan belas kasih Kristus; sehingga jelaslah bahwa sikap dasar penggembalaan yakni: (a) kesadaran (kemampuan, karunia, keterampilan, pemahaman bayangan kehidupan sebagai nilai penggembalaan, termasuk penyucian dan konsep diri), (b) bebas (penjejakan arah kehidupan, pengalaman, dan pengembangan mentalitas penggembalaan sesuai Firman Tuhan), (c) visioner (pemantapan tujuan-tujuan penggembalaan dan menjemaat, pengembangan karakter, dan kemampuan mengayomi jemaat), (d) implementasi (mengapresiasikan kemutlakan Firman Tuhan di dalam setiap segi kehidupan, baik perilaku maupun berpikir), (e) bertahan (perefleksian diri sebagai Hamba Tuhan yang bekerja secara penuh diladang Tuhan, introspeksi diri, dan usaha pengembalian perjanjian Tuhan) (seperti dijelaskan Carson Pue [4])

Dan, yang paling utama dari sikap dasar seorang gembala adalah betul-betul menjadi pelaku Firman Tuhan, sehingga jelas nyata segala perbuatan dan tingkah lakunya dihadapan jemaat terlebih di hadapan Tuhan Allah.

 

3. Bagaimana Anda bisa melatih diri dalam keterampilan dasar yang diperlukan? Cobalah terangkan!

Keterampilan dasar yang utama dalam penggembalaan adalah kepasrahan penuh kepada Tuhan sesuai dengan kehendakNya seperti para Nabi (bnd. Yeremia 1:7-8, Yosua 1: 1-9). Sebagai penambahan keterampilan dalam penggembalaan yang lainnya antara lain: talenta-talenta yang dimiliki dari Allah (seperti: orasi, berdoa, dll), cakap dalam berkhotbah, kemampuan menafsir Alkitab, penggerak/pemotivasi jemaat.

Keterampilan dasar dalam penggembalaan yang mencakup: pemahaman Alkitab berdasarkan tuntunan Roh; ketekunan dan ketulusan dalam doa; ketekunan dan ketulusan dalam ibadah; komunikasi yang intim dengan Allah dan dengan sesama; dan relasi dalam hidup yang seimbang; kesemuanya ini dapat dilatih melalui teknik meditatif bersama Allah, kontemplasi, refleksi, introspeksi diri, pengakuan, dan usaha perubahan (hal ini banyak diterapkan dalam sistem pastoral Katolik, Orthodoks, Anglikan dan beberapa aliran Karismatik). Melatih diri untuk meditas (pemusatan pikiran) seluruhnya kepada Allah, dan memasuki babak kontemplasi dimana rasa kebergantungan kepada Allah menuju puncaknya, dan memberikan suatu refleksi serta instrospeksi diri secara mendalam dan menumbuhkan pengakuan di hadapan Tuhan dan perubahan secara utuh dari kekuatan Roh Kudus.

 

4. Kenapa percakapan penggembalaan itu bersifat konfidensial (rahasia)? Sebutkan alasan Anda!

Sebelumnya kata konfidensial itu berasal dari kata “confindence” yakni keyakinan yang tumbuh secara mendalam. Maka, percakapan penggembalaan itu bersifat konfidensial karena adanya suatu pergerakan keyakinan-keyakinan intern dalam diri gembala yang dipancarkan dari Allah melalui buah-buah Roh supaya adanya penyataan-penyataan Firman dari tugas penggembalaan yang dilaksanakan ditengah jemaat.

Kerahasiaan percakapan penggembalaan itu bukan berarti sesuatu yang menjadi tabu atau keseriusan ditengah jemaat, melainkan suatu daya penyingkapan akan adanya karya-karya Allah yang mengubah sikap jemaat sehingga kesaksian demikian adanya dalam diri dan ditunjukkan dalam sikap. Seperti halnya dalam meditasi dan kontemplasi, dimana Allah dan pribadi yang berada dalam titik penghayatan penuh, Allah senantiasa mendekap dan lebih lagi menjamah pribadi seseorang  (seperti masuk ke dalam ruangan terindah) dan Allah menyatakan rahasia-rahasiaNya bagi seseorang dan penyataan itu benar-benar ada supaya menjadi kesaksian bagi seseorang itu.


[1] Kamus Pintar Bahasa Indonesia. Djambatan, Surabaya. 2002.

[2] Carson Pue. Mentoring. 2005.

[3] Gaylord Nayce, Tanggung Jawab Etis Pelayanan: Etika Pastoral, terj. oleh BA. Abednego, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997, hlm.9

[4] Carson Pue, Op.Cit, hlm.8

Tafsir Perjanjian Baru Injil Matius 4:1-11

Tafsir Matius 4:1-11

I. Pendahuluan

Istilah “perjanjian” dalam Kitab Suci diartikan sebagai perjanjian antara Allah dengan manusia.[1] Perjanjian Allah dengan bangsa Israel dalam Perjanjian Lama telah digenapi dengan turunnya Kristus, dan dimulailah babak Perjanjian Baru yang telah dimateraikan dengan Darah Kudus Yesus di kayu salib.

Salah satu kitab dari Perjanjian Baru adalah Kitab Matius. Matius adalah seorang pemungut cukai yang termasuk juga ke dalam dua belas rasul Yesus yang pertama menulis Injil buat orang Kristen bekas Yahudi di Palestina (Matius 9:9; 10:3). Matius sangat prihatin dengan keadaan sosial jemaat. Matius mengatakan bahwa persekutuan umat adalah kancah perjuangan untuk membangun persaudaraan dalam Tuhan. Pendapat ini didasarkan pada ulasan-ulasan Injil Matius. Selain itu, Matius dalam tulisan-tulisannya sangat menekankan pentingnya tata krama hidup menurut Taurat Musa. Matius menggambarkan Kerajaan Allah dengan kelompok murid-murid Yesus. [2]

Penafsiran Alkitab tidak boleh melampaui kuasa Roh Kudus sehingga menimbulkan salah penafsiran yang menjerumuskan ke dalam kefanatikan, radikalisme ataupun kesesatan tertentu dibalik penafsiran-penafsiran yang tidak sesuai. Ilmu yang dikembangkan untuk menafsirkan adalah hermeneutika. Hermeneutika adalah ilmu yang mempelajari prinsip-prinsip penafsiran (bersifat umum dan teoritis). Kata “hermeneutika” berasal dari bahasa Yunani hermēneuō.[3]

Continue reading “Tafsir Perjanjian Baru Injil Matius 4:1-11”