Dogmatika ataupun doktrin Islam yang terdapat dalam alquran dan hadits mereka yang penuh dengan polemic sengit terhadap Injil dan Taurat. Selisih paham yang terjadi saat dimana indoktrinasi Islam pada kelompok jamaah yang membaca alquran sebagai patokan ataupun dasar untuk penafsiran oleh ulama tafsir.

Dogma Islam mengenai Jesus Kristus sangat bertolak belakang dari apa yang tertulis di dalam Injil dan nubuatan pada Taurat serta kajian historis-literatur. Inilah yang menjadi pangkal pergolakan dogma maupun doktrin yang saling menyerang. Namun dalam tesis ini tidak menuduh atau menyerang tetapi meluruskan apa yang dianggap bida’ah harus diperbaiki kebenarannya.

Adapun dogmatika Islam atas Jesus Kristus, antara lain:

  1. Jesus Kristus tidak diyakini mati dikayu salib melainkan dihilangkan sehingga ada orang yang diserupakan dengan Jesus, itulah orang yang disalibkan.
  2. Jesus tidak mati dikayu salib tetapi mati ditangan ALLAH dan dikuburkan.
  3. Jesus bukanlah ALLAh dalam Tritunggal MahaKudus, Dia sebatas Nabi.
  4. Jesus dilahirkan oleh Maryam dan suaminya adalah Zakharia yang mengambil Maryam sebagai istri kedua.
  5. Jesus bersaudara kandung dengan Yahya (Johannes Pembaptis).
  6. Jesus dilahirkan dibawah pohon kurma.

Dan, adapun dogma lain yang bertentangan dengan Injil dan Taurat, yaitu:

  1. Islam melarang mengikuti Yahudi dan Kristen.
  2. Adanya pengakuan para nabi sebelum Muhammad bahwa dia akan lahir sebagai nabi.
  3. Alquran diturunkan oleh TUHAN ALLAH secara langsung oleh Gabriel (menurut Islam sebagai Roh Kudus).
  4. Kitab Mazmur diturunkan ALLAH kepada Daud dan Injil kepada Jesus.
  5. Islam tidak meyakini perubahan roti dan anggur pada Misa (Perjamuan Suci).

Dari dogma-dogma diatas, itu masih permukaannya saja, namun penulis hanya akan membahas dogma-dogma Islam yang tersebut diatas. Pembahasan disajikan dengan sejumlah bukti akurat yang akan diluruskan melalui metode penelitian berdasarkan Injil dan Taurat. Melalui metode uji klarifikasi Injil dan Taurat juga mengemukakan sejarah-sejarah yang bersifat fakta.

    1. Hermeneutika al-Quran

The New Encyclopedia Britannica menulis, bahwa hermeneutika adalah studi prinsip-prinsip umum tentang interpretasi Kitab Suci (the study of the general principle of biblical interpretation). Tujuan dari hermeneutika adalah untuk menemukan kebenaran dan nilai-nilai dalam Kitab Suci.

Menurut Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, dari International Institute of Islamic Thought and Civilization, menilai bahwa metode tafsir alquran “benar-benar tidak identik dengan hermeneutika Yunani, juga tidak identik dengan hermeneutika Kristen, dan tidak juga sama dengan ilmu interpretasi Kitab Suci dari kultur dan agama lain”.

Kaum Muslim sepanjang sejarahnya tidak pernah menggugat atau mempersoalkan otentisitas teks alquran. Kaum Muslim yakin, bahwa alquran adalah lafzhan wa ma’nan (baik lafaz maupun maknanya) dari Tuhan. Alquran telah tercatat dengan baik sejak masa Muhammad. Catatan alquran berbeda dengan al-hadits. Bahkan, untuk menjaga otentisitas dan kemurnian alquran, Muhammad pernah menyatakan, “Jangan tulis apa pun yang berasal dariku kecuali alquran, dan siapa pun yang telah menulis dariku selain alquran, hendaklah ia menghapusnya”.

Berdasarkan informasi dari alquran, setiap Muslim yakin bahwa tokoh-tokoh Yahudi dan Kristen telah mengubah-ubah Kitab Suci mereka , sehingga menjadi tidak suci lagi. Oleh pernyataan itu hermeneutika atas Islam ditekankan apakah alquran 100 %  merupakan turunan suci dari surga dengan melihat sejarah penyusunan, pembakaran ayat-ayat lain, situasi Mekkah dan tanah Arab dan yang lainnya. Dari sinilah akan diukur melalui uji literature dimana urat-akar dogma pada alquran akan didekonstruksi maupun konstruk.

Penyaliban Jesus Kristus

Berabad-abad lamanya salib di Golgota itu merupakan batu sandungan yang menyakitkan hati orang. Menurut akal-budi manusia, berita tentang salib itu adalah suatu “kebodohan” (1 Kor 1:18-2:5). Aliran-aliran Gnostik di zaman dahulu (baik itu era Islam), sudah mencoba menutupi maut dengan hikmat manusia. Apabila, seperti halnya di dalam Doketisme, Jesus Kristus tidak dianggap menjadi benar-benar manusia, tetapi hanya sebagai penjelmaan ALLAH di dalam tubuh-semu, maka terlebih pula kematianNya, tak dapat tiada dianggap menjadi semu juga. Sejak semula Gereja telah menolak ajaran-ajaran semacam itu.

Dalam tafsir alquran yang diselenggarakan oleh Mahmud Yunus,mengatakan : “orang-orang Nasrani mengatakan….bahwa Isa itu disiksa dan disalib untuk mengampuni dosa sekalian orang yang berdosa diatas dunia ini. Kepercayaan seperti ini tidak dapat diterima akal yang waras, karena menurut Undang-Undang ALLAH yang adil, bahkan undang-undang yang diperbuat manusia, bahwa siapa yang berdosa dan bersalah, dialah yang akan disiksa, bukan orang lain yang tiada membuat kesalahan sedikit juga. [1]

Dengan mengkonstruksi tafsiran itu muncul suatu kesalahan bahwa ada kata yang penekanannya kurang jelas yakni Undang-Undang ALLAH. Menurut hokum manapun siapa yang terdakwa bersalah dalam persidangan pastilah dihukum. Malahan dalam hukum Islam, keganasan untuk menyiksa banyak terjadi. Menurut hukum Yahudi, Jesus dianggap bersalah dengan dikenakan hukuman penyaliban cara Romawi. Penyaliban atau hukuman yang diberikan itu sebenarnya tidak sesuai dengan Jesus tetapi karena adanya Rencana ALLAH terhadap karya Jesus maka terlaksanalah itu semua. Pertukaran antara Jesus dengan manusia mengenai kedosaan kedengarannya suatu hal yang gila bagi

kaum Islam yang tidak mengerti arti kuasa Roh Kudus. (Dr. G. C. van Niftrik: 2005)

Alquran dalam Surah an-Nisa: 157, 158 menyatakan : Dan karena ucapan mereka : “sesungguhnya Kami telah membunuh Al-Masih, Isa Putra Maryam, Rasul ALLAH”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, sebenarnya mereka dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu Isa. Tetapi (yang sebenarnya) ALLAH telah mengangkat Isa kepadaNya dan adalah ALLAH MahaPerkasa lagi MahaPengampun.

Berhubung dengan bunyi alquran yang diatas, ada tafsiran yang bermacam-macam diantara para ulama tafsir Islam. Ada yang mengatakan bahwa Tuhan ALLAH telah melepaskan Nabi Isa a.s dari tangan para musuhNya dan menggantiNya dengan Yudas (mereka menamainya: Yehuda al-Askharbuti atau Iskharbuti), sehingga Yudaslah yang disalib. Ada yang mengatakan bahwa Isa diagnti dengan Simon dari Kirene. Dan adalagi orang yang mengatakan bahwa Isa sebenarnya belum mati dikayu salib ketika disalib, lalu dirawat oleh para muridNya.

Sanggahan dalam hal ini menurut Dr. H. Hadiwijono : hal ini bukan yang baru, pada abad-abad pertama Masehi, sebelum agama Islam muncul, telah ada orang-orang yang mengemukakan pendapat-pendapat yang demikian itu. Salib memiliki arti yang mendalam sekali bagi iman Kristen. Bahwa Tuhan Jesus disalib, bagi Israel hal itu berarti; bahwa Israel tidak mau tahu-menahu tentang Kristus ini. Israel telah menolak Kristus dan menuntut penyalibanNya, mereka tahu arti penolakan itu. Di dalam Injil Matius 27:23-26, mereka dengan beraninya menanggung darah Kristus atas mereka sekalian serta keturunan mereka.

1.1 Kajian atas Penyaliban Jesus

Kerancuan yang terjadi dalam dogma Islam mengenai penyaliban Jesus banyak terpengaruh oleh ajaran Doketisme , Gnostik dan bida’ah lain. Hal ini dapat terdeteksi melalui serapan alquran dan hadits-hadits atas Injil Barnabas. Namun dalam kajian ini akan tampaka bahwa alquran mencaplok Injil Barnabas.

Pertama, Injil Barnabas adalah Injil yang dibukukan oleh seorang yang menganggap diri ulama Kristen. Injil Barnabas adalah  karangan apokrif abad ke 3, yang merupakan karangan orang yang berani menuliskan Injil “Barnabas”. Lagi pula dituliskannya injil ini sekitar 300 tahun sebelum era Islam. Dapat disimpulkan bahwa pada masa abad ke-3 banyak bida’ah yang menyerang umat Kristen. Tetapi Konsili Nicea tidak menghapuskan injil ini, hanya tidak memasukkannya dalam kanon Kitab Suci.

Kedua, Injil Barnabas dan ajaran Gnostik lainnya menjadi patokan mempertentangkan dogma Kristen yang ada di Mekkah dengan dalih bahwa mereka tidak mengerti prinsip-prinsip kematian, penyaliban, kebangkitan bahkan kenaikan Jesus. Disebabkan juga penyebaran ajaran Gnostik dan penyesatan terjadi diseputar Kerajaan Persia, Tanah Arab dan Mesir (Albigensia). Maka dapat disimpulkan bahwa Muhammad terdindikasi oleh pengaruh ajaran bida’ah tadi.

Ketiga, kesalahan dalam pembuatan Injil Barnabas terlihat begitu jelas dengan pernyataan dalam Injil Barnabas pasal 221:1, “Jesus berpaling kepada penulis dan berkata: Hai Barnabas, kamu harus menulis InjilKu dan apa yang berkaitan dengan masa aku berada di dunia”. Jelas sudah bahwa ini penipuan, bagaimana mungkin sedangkan Paulus (Saulus) teman sekerja Barnabas belum berada atau ada di seputar kejadian Penyaliban. Begitu aneh penulis injil Barnabas mengatakan demikian, padahal kemunculan Paulus dan Barnabas baru tampak sesudah jauh dari kenaikan Jesus ke surga dan turunnya Roh Kudus (Pentakosta).

Dari ketiga pembahasan diatas maka jelas bahwa sebagai penulis Injil Barnabas, dia begitu lelah sehingga tidak dapat dihindari dari mata bahwa penulisnya seorang penipu. Adalah baiknya melihat segi nubuatan dari seputar penyaliban Jesus.

Pertama, dalam Yesaya 53:3,4 , mengatakan “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah”. Ini tampak jelas dengan kejadian di dalam Matius 27: 27-31, Markus 15:16-20, dan Yohannes 19: 2-3.

Kedua, dalam Zakharia 11:12, “Lalu aku berkata kepada mereka: “Jika itu kamu anggap baik, berikanlah upahku, dan jika tidak, biarkanlah!” Maka mereka membayar upahku dengan menimbang tiga puluh uang perak”. Dari catatan kaki Kitab Suci Katholik (Arnoldus Ende: 2001) kata “upahku” memiliki arti, diberikan kepada Tuhan (yang diperan oleh nabi) memang menertawakan, yaitu harga seorang budak (Kel 21:32). Jadi orang meremehkan Tuhan. Juga uang 30 keping perak merupakan jumlah uang yang oleh Hukum Taurat ditentukan sebagai ganti rugi seorang budak yang dibunuh. Ini sudah jelas bahwa penyaliban Jesus benar terjadi. Tetapi kesalahan fatal terjadi di dalam Injil Barnabas yang merupakan patokan alquran menuliskan “tiga puluh keeping emas” (pasal 214: 6) ini jelas salah.

Ketiga, Jesus dikuburkan telah dinubuatkan  dalam Yesaya 53: 9 diantara orang-orang fasik. Dalam naskah Qumran (1QIsa) terbaca: dan makamnya. Ini tepat dengan artian “kubur” (qubur) dalam larik pertama. Dan kata “penjahat-penjahat” dalam naskah Ibrani tertulis: orang-orang kaya. Ini telah digenapi dengan dikuburkannya Jesus Kristus oleh dua Imam anggota Mahkamah Agama yang percaya kepada Jesus dengan meminta izin kepada Pilatus yaitu Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus. Kenapa kubur baru? Sebab seseorang yang menjalani hukuman mati tidak boleh dikuburkan dalam kubur yang sudah dipakai, kalau-kalau mayat orang itu akan menajiskan tulang-belulang orang benar, yang dikubur disitu.

1.2 Kritik atas Alquran

Alquran banyak merujuk pada Injil Barnabas. Buku yang ditulis oleh Dr. Muslih Abdul Karim  tentang Isa dengan merujuk pada an-Nisa’ : 157-158 bahwa kejadian penyaliban itu tidak terjadi pada Jesus tetapi yang diserupakan dengan Isa. Injil Barnabas mengatakan dalam pasal 217: 49, “dan dia berkata pula, sesungguhnya Yesus al-Jalili telah mengubahnya menjadi demikian dengan sihirnya”. Dan kejadian penangkapan itu terjadi di dalam sebuah rumah padahal Jesus sendiri tertangkap dalam sebuah bukit. Dengan menyanggah Injil Barnabas pasal 217: 49 itu bagaimana mungkin Yudas disihir sedangkan pada saat Jesus berada di bukit Gethsemani, Yudas berada di pelataran Mahkamah Agama berunding tiga puluh keping perak. Jelas ini suatu dusta.

Banyak sekali ketimpangan yang terjadi atas penyaliban Jesus oleh kalangan Islam, karena sudah jelas bahwa Muhammad dan pengikutnya terpengaruh oleh ajaran Gnostik dan bida’ah lainnya yang secara uji literature-historikal telah tampak. Ini membuktikan bahwa alquran yang sacral itu sudah terlucuti.

Apa yang tertulis di dalam alquran tentang Jesus, tidaklah terlepas dari pergaulan Muhammad dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen di Tanah Arab. Berdasarkan penyelidikan sejarah, pada hemat ahli-ahli itu, dapat dikatakan bahwa ajaran Islam tentang Jesus menyerupai ajaran-ajaran Gnostik dan Doketisme (seperti Injil Barnabas) tentang Jesus, dan dilihat dari ilmu sejarah , mungkin dapat dijabarkan kepada keterangan-keterangan dari pihak sekte-sekte. [1]

Di dalam hadits-hadits terdapat berbagai penjelasan tentang peristiwa di Golgota. Oleh karena itu, antara Isa a.s dan Jesus sangat berbeda. Sebab Kristen berpusat pada Kristosentris tidak seperti Islam yang dualisme antara Deisentris dan Muhamatosentris.

Seputar Tritunggal yang Dikecam oleh Alquran dan Hadits

Di dalam tesis ini akan diungkapkan sejumlah ayat-ayat alquran yang menuliskan pengharaman  bahwa ALLAH itu Tritunggal, yaitu al-Maa’idah: 73, Maryam: 88, Az Zukhruf: 81. dalam Surah al-Maa’idah: 73 dikatakan: “sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan : bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada tuhan (ilah) selain dari Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakana itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”. Dan pada Surah Az Zukhruf : 8 menuliskan: “katakanlah, jika benar TUHAN yang Maha Pemurah mempunyai anak , maka akulah (Muhammad) orang mula-mula memuliakan anak itu”.

Melihat  konsep kekurangpahaman “penulis” alquran itu tampak dari sikap matematis yang dilihat dari Tritunggal. Di dalam Alkitab tidak ada banyak ayat yang mengungkapkan ketritunggalan itu secara langsung. Akan tetapi secara tidak langsung ada banyak ayat di dalam Perjanjian Baru yang menunjuk kepada ketritunggalan itu.

Gereja pada awalnya berhati-hati dalam perumusan dogma. Untuk perumusan dogma harus diadakan sedikit kurang Sinode (Synodus) dan prakarsa Konsili yang besar. Adapun ajaran penolakan tentang Tritunggal dimulai dari Arius, seorang pastor yang menolak ajaran tentang Tritunggal : Bapa, Putera dan Roh Kudus dalam satu zat, kemudian diikuti ajaran Gnostik lain.

Jesus, dalam bahasa Ibrani: “Yehosyuah” memiliki arti Yahweh yang meolong, sesungguhnya di dalam diri Jesus sendiri ALLAH mendatangi manusia dengan pertolongan dan keselamatan yan daripadaNya. Rahasia mengenai pribadi dan pekerjaan Jesus Kristus hanyalah dapat kita rumuskan dengan ungkapan-ungkapan yang bersifat paradoks. Maksudnya: selalu ada dua garis, dua segi, yang saling bertentangan, dan pertentangan itu tidak dapat dan tidak boleh dikompromikan satu sama lain.

Gereja kuno merumuskan keyakinanya tentang ALLAH Tritunggal itu demikian, bahwa TUAHN ALLAH satu dalam zatNya dan tiga dalam pribadiNya (una substantia, tres personae) atau dalam bahasa Yunani : satu dalam ousia-Nya dan tiga dalam hyphotasis-Nya. Ungkapan pribadi atau oknum sebenarnya pada zaman   sekarang ini telah tidak dapat diterapkan lagi kepada ajaran tentang ALLAH Tritunggal, karena ungkapan itu sekarang telah mempunyai arti yang berlainan sekali dengan yang semula dimaksudkan oleh Gereja Kuno tadi. Cara mengungkapkan ketritunggalan dengan istilah-istilah substansi dan persona itu masih terlalu dipengaruhi oleh gagasan Plato. Inilah yang sering menjadi gugatan di dalam pertentangan alquran dan hadits mengenai ajaran Tritunggal.

1 Kajian atas Teks dan Literatur alquran dan hadits terhadap Tritunggal

Bagi agama Islam yang fondasi utama dari keagamaanya adalah alquran dan hadits, dosa yang tidak dapat diampuni ialah “syirk”, yaitu menyekutukan TUHAN ALLAH. Dalam Surah 4: 48 disebutkan , bahwa ALLAH tidak akan mengampuni dosa syirk, sekalipun ALLAH berkenan mengampuni segala dosa yang lain. Menurut ulama Islam, orang Kristen berkesalahan terhadap syirk ini, karena mengajarkan ALLAH Tritunggal. Menurut para ulama Islam, dosa Kristen ialah : menganggap bahwa disamping ALLAH ada yang berilmu, ada yang berkuasa, ada yang dapat disembah, dan bahwa orang dipandang sebagai dapat menyandarkan diri dan mempercayakan diri kepada yang lain daripada ALLAH.

Dengan mengkaji teks-teks alquran secara jeli ada satu kata yang bermakna lain dengan melihat konteks ketritunggalan. Kata “Kami” (huruf capital “K”, bukan “k”) di dalam Alquran tersurat dan termaktub dalam teks alquran sebanyak 904 di dalam ayat-ayat alquran. Kata “Kami” itu dihitung dengan kata dasar “kaa’nu”. Implikasi terhadap pernyataan ALLAH Tritunggal.

Namun apabila umat Islam ada beranggapan bahwa kata “Kami” itu adalah malaikat , patutkah malaikat menyelamatkan umat manusia selain ALLAH saja, patutkah malaikat mengutus rasul-rasul sedangkan para malaikat menyampaikan kabar (bdk. an-Nisa’ : 165), dan patutkah malaikat memberikan wahyu (bdk. an-Nisa’ : 163).

Melalui uji teks atas alquran jelas bahwa alquran mengungkapkan kesalahan. Apabila dari segi dialektis mengartikan “Kami” itu memiliki banyak arti. Arti pertama: ALLAH dan para malaikat, kedua: malaikat seluruhnya, ketiga: orang banyak, keempat: “syaitan”, kelima: ALLAH. Disini tampak kejanggalan ungkapan “Kami” itu memiliki arti apa. Dengan leluasanya alquran menuliskan kata “Kami” (juga diikuti partikel bahasa) tanpa menuliskan maksud “Kami” itu. Jelas disini pengertian akan Tritunggal oleh umat Islam belum tergapai oleh pemahama Roh.

Kata “Kami” yang merupakan kata ganti orang ketiga dapat disejajarkan dengan kata “Kita” pada Kej 1:26 dan Kej 11:7. Kata “Kami” dan “Kita” merupakan bentuk jamak dari banyak orang. Tersirat dua arti yang diuraikan diatas adalah ALLAH dan para malaikat atau Pribadi Khusus ALLAH itu sendiri. Disinilah letak kekurangpahaman Islam dalam pengertian ALLAH Tritunggal.

Bila ditinjau dari kata-kata dan ungkapan-ungkapan dalam alquran, hadits-hadits maupun tafsiran para ulama Islam memberi suatu penekanan yang jelas bahwa pengertian akan ALLAH Tritunggal merupakan keesaan dalam arti  matematis. Di dalam Alkitab yang ditekankan adalah keesaan dalam firman dan karya TUHAN ALLAH, keesaan yang bersifat etis, sehingga orang beriman diperingatkan supaya jangan hanya puas dengan percaya adanya ALLAH yang satu saja: “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu ALLAH saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar” (lih. Yak 2: 19). Orang beriman diperingatkan supaya imannya disertai perbuatan.

Pernyataaan alquran yang menentang dipersekutukannya TUHAN ALLAH banyak sekali seperti contoh yang telah dikaji tadi. Tetapi pengajaran dari teks alquran yang penuh pertanyaan akan konstruk teks, dialek, dan bahasanya tidak sama dengan Alkitab yang tidak menyekutukan ALLAH. Ini jelas bahwa sikap apriori Islam itu menutup pengertian akan teks-teks alquran mereka.

2  Masalah Konsili Nicea dan Nicea-Konstantinopel

Di dalam buku kandidat doctor International Institute of Islamic Thought and Civilization, Adian Husaini, Ph. D , menyatakan bahwa Kaisar Kosntantin yang memelopori Konsili Nicea, begitu juga dalam brosur “Haruskah Anda Percaya kepada Tritunggal?” dari Saksi-Saksi Yehuwah. Adalah baiknya kita melihat dari segi sejarah yang telah dicatat dalam Liber Pontificalis, bahwa yang memprakarsai Konsili Nicea adalah Paus Silvester I (masa kepausan 314-335).

Setelah Kaisar Konstantinus Agung mengeluarkan Edicta Milano, agama Kristen menjadi agama resmi di seluruh Kekaisaran. Paus Silvester I merupakan Paus pertama yang bebas memimpin umat Kristen tanpa ada konflik dan gangguan. Oleh karena merebaknya ajaran Arius yang tidak mengakui ketuhanan Jesus maka, dia meminta izin pemanggilan para Uskup diseluruh keuskupan Kristen. Posisi Hukum Gereja (Kanonik Gereja) atas semuanya menjadi kuat pada pemerintahan Konstantin. Oleh karena itu, Kaisar Konstantin meluluskan permintaan Paus dan memanggil semua uskup dan rohaniwan Gereja.

Pada saat Konsili Nicea berlangsung Kaisar Konstantinus berada diposisi di depan umat dan dibelakang para Uskup.Disini jelas tampak kewibawaan Gereja. Perumusan ketuhanan Jesus bukanlah berasal dari Konstantinus. Pembahasan-pembahasan ketuhanan Jesus dilakukan Paus bersama staf hirarkis. Hubungan Konsili dengan Kaisar tampak berbeda sekali. Kaisar Konstantinus belum mengerti akan semua doktrin Gereja yang dianut oleh Ibunya , Ratu Helena, dan pada saat itu Kaisar tunduk pada Hukum Gereja. Kaisar Konstantinus sendiri menyerahkan istananya kepada Paus Silvester I yang diubahnya menjadi Gereja Katedral Keuskupan Roma (saat ini menjadi Gereja Lateran).

Masalah pemungutan suara (voting) atas ketuhanan Jesus tidak terjadi. Pemungutan suara dilakukan untuk menyatakan persetujuan pengutukan atas ajaran bida’ah disebarkannya. Jelaslah disini bahwa pemahaman akan “pemungutan suara” bukan terjadi atas dogma “Jesus”, kekurangpahaman akan catatan Gereja akan membuat kesalahan tafsir.

Karena kekurangpahaman Kaisar Konstantinus akan panjangnya ajaran bida’ah Arius, diadakannya beberapa kali Konsili menentang ajaran-ajaran yang bukan saja Arianisme tetapi Appolinarianisme; Macedonisme; Kaisar Konstantinus memperlakukan Paus Liberius dengan kasar karena menentang Arianisme. Disinilah letak kelemahan orang-orang yang belum mendapat penyertaan Kristus dan penerangan Roh Kudus akan rahasia ALLAH, sehingga pada saat Kaisar Konstantinnus sakratul maut dia dibaptis dan menerima pengakuan Bapa, Putera dan Roh Kudus dan teguh yakin mati atas nama Gereja dan Kristus.

2.3 Doktrin mengenai Roh Kudus

Dalam Kitab-Kitab Ibrani, kata yang paling sering digunakan untuk “roh” ialah ru’akh, yang berarti “nafas; angin; roh” . Di dalam Kitab-Kitab Yunani, kata tersebut ialah “pneuma”, yang mempunyai arti sama. Jika kata ruakh dikenakan TUHAN ALLAH sendiri, maka Roh dipandang sebagai kekuatan atau kuasa yang menjadi alat TUHAN ALLAH bekerja . Hal itu umpamanya tampak dari Yeh 37: 9, 10 bahwa Roh dapat menjadikan tulang-tulang yang mati menjadi hidup .

Nubuat ALLAH dicatat ketika orang-orang dari ALLAH “didorong oleh Roh (bahasa Yunani: pneuma) Kudus”. Kata Yunani “diilhamkan ALLAH” ialah “Theopneustos” yang berarti dinafaskan oleh ALLAH . Bila dilihat dari perbahasaan Latin, Roh adalah “spiritus” (kuasa) . Disinilah letak kekurangpahaman orang dalam pengertian akan Roh ALLAH . Nafas merupakan bagian kuasa (spirit) yang membangkitkan . Spirit merupakan bagian substansial yang menyatu dengan kekuatan, sehingga pengertian itu tidak boleh lepas dari yang lainnya .

Roh Kudus masuk ke dalam rahim Maria (bdk. Matius1:18 ; Lukas 1: 35) dengan kuasa ALLAH sendiri. Substansi ALLAH dalam Roh Kudus satu dalam pernyataan Firman ALLAH (Kalimatullah) yakni Jesus . Jelas bahwa doktrin ALLAH Tritunggal memiliki makna yang begitu dalam dan jauh dari pemahaman manusia.

Roh adalah kekuatan atau kuasa ilahi yang bekerja sebagai alat atau sarana TUHAN ALLAH . Roh bersifat dinamis (bukan paham dinamisme) mengandung sifat-sifat yang etis. Roh ALLAH berada pada diri Jesus sebagai Roh Hikmat dan Pengertian, Roh Nasehat dan Keperkasaan, Roh Pengenalan dan takut akan TUHAN (Yesaya 11:12). Makna dari ALLAH Tritunggal merupakan kajian dalam . ALLAH memiliki keesaan zat yang  berunsurkan tiga substansi dalam satu pribadi; bukan tiga pribadi. Karya ALLAH dalam Roh Kudus nyata dalam Jesus dan ALLAH dinyatakan dalam Jesus .

Kemudian, menyinggung makna dari Yoh 14: 16, Roh Kudus adalah Penghibur/ Pelipur (yang dalam bahasa Yunani: Paraklétos), yang datang dari ALLAH untuk memberi nasehat dan penghiburan kepada kita. Berhubung dengan kata  “Paraklétos” itu, ajaran Islam dalam Surah 61: 6 (Ash-Shaff :6) bahwa Jesus meramalkan kedatangan seorang rasul bernama Ahmad (bdk. Injil Barnabas pasal 220: 20) yang diidentikkan dengan Muhammad (yang dipuji) .

Dengan memperlakukan kata Yunani “Paraklétos” seolah-olah itu kata Arab dengan mengutamakan huruf-huruf mati (p-r-k-l-t-s), lalu mengganti huruf hidup, maka menjadi “periklytos” . Dan arti “periklytos” adalah termasyur, jadi menyerupai nama “Ahmad” atau “Muhammad”. Jadi kalangan Islam yang merujuk Injil Barnabas itu mengambil hipotesa bahwa ada kecocokan Yoh 14: 16 (Paraklétos) dengan Surah Ash-Shaff: 6 (periklytos). Untuk sanggahan: diantara segala naskah tua yang memuat ayat Yoh 14:16 tidak satupun juga yang dapat menimbulkan kesangsian tentang bunyi kata “Paraklétos”, maka tidak ada alasan apapun untuk mengubahnya menjadi “periklytos”. Disini jelas bahwa ada sikap disariah menyamakan Muhammad dengan Jesus Kristus .

Namun mengenai Roh Kudus agama Islam menyamakannya dengan Malaikat Agung Gabriel (Jibril) di dalam Surah An-Nahl: 102 dan Surah Maryam:17. Surah An-Nahl:102 menyatakan: “katakanlah: Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan alquran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada ALLAH)”, dan Surah Maryam: 17 menyatakan: “maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus Roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna”. Nama “Jibril” itu sebenarnya tidak terdapat dalam naskah Arab, akan tetapi ditambahi oleh para penafsir quran (ulama tafsir) sebagai penjelasan terhadap penurunan ayat-ayat alquran dengan perantaraan Jibril yang disamakan dengan “ilham oleh Rohul Qudus”. Jelas disini bahwa pengertian akan Roh Kudus bagi kalangan Muslim belum terpahami dan diselami. Bagaimana mungkin Roh ALLAH sama dengan roh para malaikat. Dari perkataan Jesus sendiri di dalam Yoh 20:22 kepada murid-muridNya : “Terimalah Roh Kudus!”, apakah pengertian bagi Islam, Roh Kudus yang merupakan para malaikat itu diterima, tentu tidak. Yang dimaksudkan bukanlah seorang Nabi, tetapi Penolong serta Pembimbing, yaitu Roh Suci ALLAH .

    1. Pemahaman Transubstansiasi di dalam Ekaristi (Jamuan Suci)

Kamus Liturgi (Ernest Maryanto, Kanisius: 2004) mengartikan transubstansiasi adalah “istilah teologis yang menjelaskan perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus dalam Doa Syukur Agung”. Menurut paham ini, waktu Doa Syukur Agung, hakikat roti dan anggur sungguh berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus, meskipun wujudnya tetap sama (roti dan anggur). Jadi wujudnya tetap roti dan anggur, tetapi hakikatmya sudah berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus . Dengan rumusan ini, Gereja menggarisbawahi ajaran bahwa Kristus sungguh-sungguh hadir, bukan hanya secara simbolis .

Di dalam literature Islam pengertian transubstansiasi merupakan suatu kekonyolan . Syekh Abu Zahrah [2] menuliskan, “masalah transubstansiasi: ….orang-orang Kristen makan roti dan minum minuman keras—yang mereka sebut Jamuan Kudus. Gereja mempercayai bahwa roti itu akan berubah menjadi jasad Al-Masih dan minuman keras itu menjadi darah Al-Masih yang tumpah. Barang siapa makan roti dan minum minuman keras yang telah berubah itu, maka dia memasukkan darah dan daging Al-Masih ke dalam tubuhnya . Ini tidak masuk akal dan tidak dapat diterima oleh akal manusia” .

Begitu juga dengan ajaran-ajaran Gereja Reformasi seperti Luther, Zwingli, Calvin dan yang lainnya, bahwa roti dan anggur dalam Ekaristi tidak berubah . Pernyataan itu merujuk pada pengertian transignifikansi yang berarti: hakikat roti dan anggur tetap tidak berubah, tetapi maknanya berbeda: Tubuh dan Darah Kristus.

Melihat dua anggapan diatas, penulis akan menguraikan maknanya. Syekh Abu Zahrah mengatakan anggur itu “minuman keras”, anggur yang digunakan tiap kali Misa Kudus adalah anggur murni hasil perasan bukan alcohol atau khamar lainnya. Penggunaan roti dan anggur dalam Ekaristi atau Misa Kudus berawal dari Ibadat Paskah Yahudi ; bdk Keluaran 12: 34, 39; 13: 6 dan aturan Perayaan Paskah Yahudi (lih. Buku Haggada).

Mengenai transubstansiasi baiklah kita mengutip lepas ayat-ayat mengenai konsekrasi, yakni Matius 26: 26: “Inilah TubuhKu…” (“Corpus Meum), Mat 26: 28: “Inilah DarahKu….” (hic est enim sanguis Meum). Menurut Dr. Berkhof dan Dr. Enklaar [3] menuliskan “roti dan anggur adalah tanda-tanda yang harus dibedakan dari apa yang ditandakannya, yakni persekutuan rohani dengan tubuh dan darah Kristus”

Pada Konsili ke-4 di Lateran, Roma, Italia (tahun 1215), ajaran transubstansiasi disahkan menjadi dogma atau doktrin Gereja Semesta . Konsili Trente yang pertama kali diselenggarakan Paus Paulus III, dilanjutkan oleh Paus Julius III, Paus Marsellus II, Paus Paulus IV, dan Paus Pius IV yang menerbitkan Katekismus Romawi untuk meneguhkan doktrin transubstansiasi itu. Gereja dengan penuh hati-hati menjelaskan dan menetapkan dogma Gereja . Dalam hal yang sama, Gereja Orthodox mengakui perubahan substansi roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus dengan penyebutan transmutasi (perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus bahwa sesudah anaphora roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus).

Ajaran Luther menandingi transubstansiasi adalah dengan istilah “kon-substansiasi” yakni roti dan anggur itu tidak berubah menjadi tubuh dan darah Kristus, tetapi tubuh dan darah Kristus mendiami roti dan anggur itu, sehingga ada dua zat atau substansi yang sama-sama (=kon) terkandung dalam roti dan anggur itu, sama seperti besi pijar bersifat dua: besi dan api.

Oleh karena sebagai pelurusan, kata konsekrasi “inilah TubuhKu” dan “inilah DarahKu” dalam bahasa kiasan (alegoris) yang dipakai pada Upacara Paskah itu, perkataan Jesus ini berarti: roti ini adalah lambang (tanda) tubuhKu. Jesus tidak lagi berbicara tentang sejarah lampau dengan mengatakan “Inilah roti penindasan, yang dimakan oleh nenek moyang kita di tanah Mesir” (seperti yang dipakai dalam Upacara Paskah Yahudi) . Roti itu adalah Dia sendiri, Dialah Domba Paskah yang sesungguhnya . Begitu juga dengan anggur (bukan alcohol yang dikatakan Syekh Abu Zahrah) yang menjadi Darah yang tertumpah seperti darah sembelihan Domba Paskah .

Kalau kita makan roti dan anggur itu, seolah-olah terhisablah Jesus ke dalam diri kita . Kita menjadi satu dengan Dia dan dengan kurbanNya . Roti ini adalah tanda (lambang) tubuhKu, yang dimaksud oleh Jesus adalah apa yang terjadi dengan roti ini, akan terjadi secara sungguh-sungguh dengan “tubuhKu”, begitu juga dengan anggur yang akan terjadi sungguh-sungguh dengan “darahKu” (tertumpah dikayu salib). Tetapi murid-muridNya menafsirkannya sekedar sebagai lambang, dengan kekurangpahaman akan transubstansiasi itu maka kita menafsirkannya sekedar lambang .

Sehubungan masalah transubstansiasi, Syekh Abu Zahrah “ ….tidak masuk akal dan tidak dapat diterima oleh akal manusia” Disinilah letak kebodohan manusia yang tidak percaya akan Jesus. Musa membelah Laut Merah, mengeluarkan tulah seizing ALLAH, dan banyak mukjizat yang dibuat ALLAH tetapi manusia tidak percaya . Jesus dengan keras mengatakan dalam Yoh 6:53-58 “Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu .Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman .Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman .Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia .Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku .Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati . Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya .” Jelas logika atau akal pikiran manusia tidak dapat menembus Pengetahuan ALLAH, manusia tidak dapat memikirkan diluar dari pikirannya .

    1. Seputar Kelahiran Jesus

Kisah kelahiran Jesus Kristus telah tertera jelas di dalam bagian Injil Matius (1: 18-25, 2:1-12) dan Injil Lukas (1:26-38, 2:1-20) . Dan mengenai nubuatan kelahiran Jesus Kristus pun tidak tertulis jelas di dalam Perjanjian Lama: dilahirkan oleh perawan (Yesaya 7:14), dilahirkan di Bethlehem (Mikha 5:2), datang dari suku Yehuda (Kej 49:10), Anak Daud (keturunan Daud dari Yosef) (2 Samuel 7:12-16), Anak ALLAH (Mazmur 2:6,7), ALLAH yang Perkasa (Yesaya 9:5), Raja Damai (Yesaya 9:5), Bapa yang Kekal (Yesaya 9:5). Pemberitaan yang jelas dapat kita lihat dari Kitab Daniel 9: 25, 26.

Pada teks alquran kisah kelahiran Jesus Kristus (al-Qishah al-Mulud ‘Isa Al-Masiyah) tertera disejumlah Surah dan ayat: Surah Ali Imran: 45, Surah Maryam: 17, 23 . Namun, teks alquran mengenai kisah kelahiran Kristus sangat kontroversi . Di dalam Surah Maryam: 17 mengatakan bahwa Maria melahirkan Jesus di bawah pohon kurma { Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan}. Ditiap teks Alkitab baik itu Vulgata maupun Septuaginta tidak merujuk pada kelahiran Jesus dibawah pohon kurma . Ini jelas nyata bahwa alquran mengarang cerita kelahiran .Dengan tegas Jesus dilahirkan disebuah tempat yang hina yaitu dibekas reruntuhan istana yang dijadikan sebagai kandang ternak domba, bukan dibawah pohon kurma .Dengan penalaran logika, apakah mungkin seorang wanita bersalin dibawah pohon kurma ditengah musim dingin? Tentu tidak . Salah satu bukti alquran adalah produk budaya .

Dari literature Islam (hadits dan tafsirannya) mengatakan bahwa Jesus merupakan Roh Malaikat Gabriel (Jibril) . Jelas ini ilusi belaka . Pengertian Roh Kudus bagi umat Islam (bdk. Surah An-Nahl: 102 dan Maryam: 17) itu sebenarnya tidak terdapat di dalam naskah Arab manapun, inimerupakan penjelasan dari ayat-ayat berupa tafsiran para ulama yang disamakan dengan “ilham oleh Roh Suci” . Pengertian Roh Malaikat selalu diidentikkan dengan Roh Suci ALLAH . Ini pemahaman dangkal ulama tafsir Islam.

4.1. Islam tidak menulis sejarah penubuatan

Didalam teks dan literature Islam manapun tidak pernah ada sejarah dari nubuatan kelahiran Jesus Kristus. Di dalam Alkitab jelas tertera dalam Kitab Yesaya 7: 10-25 ; 9:1-20 ; 11: 1-10. ALLAH sendiri memberikan nama bagi Jesus yaitu “Immanuel” (ALLAH beserta kita). Kegenapan ini jelas tertera dalam Kitab Matius dan Lukas. Kalau memang alquran itu yang diturunkan ALLAH mengapa sejarah penubuatan Jesus kabur di dalam alquran.

Tetapi para ahli tafsir Islam mengatakan bahwa yang dinubuatkan sebagai nabi besar adalah Muhammad. Ini jelas pernyataan yang konyol. Umat Islam selalu dan akan selalu merujuk pada Injil Barnabas karangan Mustafa Al Arande (Pasal 220: 20) yang menyesatkan itu. Dikatakan bahwa , “Yesus berkata: Hal ini akan berlangsung sampai kedatangan Muhammad utusan ALLAH”. Para ahli tafsir alquran tidak berani mengupas nubuatan Yesaya dan kitab lainnya. Ini menggambarkan sebuah konsep bahwa Muhammad bukanlah : Bapa yang kekal , ALLAH yang perkasa, Anak Daud, Raja Damai dilahirkan oleh Perawan, datang dari Suku Yehuda, dilahirkan di Bethlehem, Anak ALLAH dan yang lainnya.

Jelas bahwa Muhammad sendiri lahir dari hasil persetubuhan, bukan dari perawan, bukanlah Bapa yang kekal, tidak mati dan bangkit dari antara orang mati. Muhammad bukanlah Raja Damai, ALLAH yang perkasa, pada saat lahir tak satupun malaikat mengumandangkan pujian maupun sembahan, tidak lahir di Bethlehem, bukan dari Suku Yehuda melainkan Suku Arab, Muhammad bukan Anak Daud (keturunan Daud).

Dan nubuatan tentang kesengsaraan Muhammad tidak tertulis di kitab manapun termasuk alquran. Al Masih atau Jesus atas nubuatan telah jelas dituliskan  mengenai kesengsaraanNya. Di dalam Kitab Yesaya 53: 1-12, secara terperinci siksaan bagi Jesus seperti: rupaNya tidak lagi tampak akibat dera, dihina, tertikam, dianiaya, diam di pengadilan, ditahan dan dihukum, kuburannya diantara orang fasik, menanggung dosa. Melihat konteks Muhammad, jelas bahwa Muhammad tidaklah dihukum, didera, ditikam, kuburannya tidak dikubur diantara orang fasik. Dari nubuatan itu jelas bahwa yang ditafsirkan oleh para ulama itu karangan belaka agar menunjukkan kualitas mulia Muhammad kepada segenap umat Islam.

4.2. Anggapan Islam Muhammad keturunan Ismael sebagai Nabi yang dinubuatkan

Dari sudut pandang sejarah keselematan, ALLAH sudah menegaskan bahwa Al Masih tidak lahir dari keturunan Ismael, sehingga permohonan Abraham agar Ismael tinggal bersamanya ditolak oleh ALLAH (Kej 17: 17-19). Sebab, Al Masih akan lahir dari jalur keturunan Ishak , tetapi janji ALLAH kepada anak-anak Ismael tetap berlaku. Anak cucu Ismael, yang dalam bahasa Ibrani : Bene ham-Midbar (anak-anak padang gurun), dijanjikan sebagai bangsa yang besar, karena mereka juga anak-anak Abraham (Kej 21: 8-21)

Pada zaman Mesiah, yang era kemuliaan Sion, anak-anak Ismael mempunyai peran yang cukup penting: “…akan membawa emas dan kemenyaan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN” (Yesaya 60:6). Disini jelas bahwa Muhammad yangdisebut bene ham-Midbar bukanlah yang dinubuatkan sebagai nabi atau Mesiah . Para ahli tafsir alquran selalu merujuk pada Kej 17: 20; Kej 21: 13 dan Ul 18: 17-22, padahal nubuatan itu ditujukan kepada bangsa Israel ini sudah jelas dari teks-teks manapun. Para ahli tafsir alquran selalu berkeras pikiran bahwa Musa telah menubuatkan Muhammad sebagai Nabi, padahal jelas bahwa Muhammad yang keturunan Ismael tidak mendapat kehormatan itu melainkan keturunan Ishak dan dari Ishaklah muncul Daud dan keturunannya yakni Joseph, ayah Jesus. Rujukan Alkitab tentang Muhammad oleh para ahli tafsir alquran dari Yes 42: 1, 4 hanya mengangkat permukaannya saja, tetapi melihat rujukan bandingan: Yes 49: 6, jelas bahwa Muhammad bukan keturunan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang yang masih terpelihara. Dan dari Kitab Yeremia 31: 31, 32 dan Daniel 2: 38-45, ini sungguh pemahaman yang dangkal bahwa sudah jelas dalam Yes 31: 31 perjanjian bagi suku Yehuda, Muhammad bukan dari Yehuda melainkan suku Arab, dan mengenai rujukan kepada Daniel itu jelas tafsiran ilusi, di dalam Kitab Daniel 2: 38-45 itu merupakan tafsiran Daniel atas kebenaran bangsa Israel yang telah diperbudak Raja Nebukadnezar.

Jelas bahwa tafsiran-tafsiran para ulama Islam atas alquran dan hadits serta literature Islam lainnya menunjukkan agar Muhammad (yang dikatakan sebagai Nabi) itu mendapat posisi lebih baik dan setara dengan Jesus: nubuatan kelahiran Muhammad pun direkayasa agar persis sama dengan nubuatan kelahiran. kelahiran Kristus  antara lain: Targum, Pirqe d’Rabbi Eliezer, dan nabi-nabi sesudahnya. Sedangkan tafsiran ayat Kitab Mikha 5: 1 : “umotsataiu miqedem mimnei ‘olam (dan permulaanNya sudah sejak dari kediaman, sejak dahulu kala)”, menurut Targum berbahasa Aram menunjuk pra-eksistensi Jesus. Begitu juga dalam Mishnah (Misyna), disebutkan bahwa sebagai penjelmaan Memra (Firman ALLAH atau Kalimatullah) : “Sang Mesiah sudah ada sebelum segala makhluk diciptakan”. [4]

Dan mengenai Tunas Isai, alquran mencatat dalam Surah 48 (al-Fat’h: 29) bahwa Muhammad dimiripkan dengan nubuatan Jesus di dalam nubuatan Yesaya 11: 1. Untuk mematahkannya, Muhammad sekali lagi bukanlah keturunan Daud karena Isai adalah ayah Daud dan moyang semua Raja Yehuda, sedangkan moyang Muhammad adalah Ismael yang merupakan moyang suku Arab . Penafsiran alquran terhadap Injil Barnabas sangat dangkal sehingga pengertian Tunggul Isai dimaknai sebatang pohon yang mengeluarkan tunas . Ini jelas membuktikan bahwa alquran adalah kitab rekayasa.

Dari Targum dan Mishnah tadi jelas bahwa Jesus sudah ada sebelum penciptaan dunia, apakah demikian Muhammad? Tentu tidak. Nubuatan bagi Jesus: Pele Yo’ats (Penasehat Ajaib), El Gibbor (ALLAH yang Perkasa), Avi ‘Ad (Bapa yang Kekal), Syar Syalom (Raja Damai), tidak ada pada Muhammad. Muhammad bukan Raja Damai, dia banyak menciptakan peperangan demi kemuliaan namanya yang mengatasnamakan alquran.

Muhammad tidak patuh atau taat pada Hukum Taurat seperti nubuatan Jesus yang taat akan Taurat (bdk. Yes 11:3). Jesus dikucilkan , dihina, didera, ditahan, dihukum, ditikam, dan dikubur diantara orang fasik, sedangkan Muhammad tidak. Jesus taat kepada Taurat (bdk. Galatia 4:4) dalam bahasa Arab: “….arsala Ilahu ibnahu mauludan liumratin, wa asya fii hukmi syari’ah” ( Today’s Arabic Version, Al-‘Ahd al-Jadid: Dar al-Kitab al-Muqqadas fii asy-Syariq al-Ausarth, 1996)

  1. Historikal alquran

Umat Muslim sejagat raya ini meyakini bahwa alquran itu bukanlah tulisan Muhammad tetapi “Kalam Wahyu” (wahyu dari ALLAH) sperti yang tertulis dalam Surah Al-Isrā’ : 105 “dan Kami turunkan (alquran) itu dengan sebenar-benarnya dan alquran itu telah turun dengan (membawa) kebenaran”. Ini merupakan hal yang penting untuk disimak .

Tetapi dari hasil penelitian berbagai pakar filologi, sejarah dan hermeneutika menyimpulkan bahwa alquran tidak memiliki sejarah yang jelas seperti kitab-kitab suci agama lain. Sebagai bandingan yang tidak jelas, literature Islam banyak memuat hermeneutika pada Alkitab . Kalangan Muslim seraya mengagungkan alquran, tidak tahu sejarah dan sistematika penyusunan dari alquran itu .

Ketika Muhammad masih hidup, alquran ditulis secara bertahap (Friedrich Schwally: 1919) . Menurut Schwally, ada hal yang aneh pada alquran karena ‘Uthmān telah menunjuk sebuah tim lagi untuk menghimpun dan mengedit alquran dibawah naungan Zayd. Disini letak kesalahan analisis para pemikir Islam (pembela alquran), dikarenakan masa-masa penjelasan terkumpulnya alquran tidak sejelas Taurat dan Injil .

Menyimpulkan pendapat Leone Caentani (1935), Schwally menyimpulkan riwayat yang menyatakan alquran telah dihimpun pada zaman Abu Bakar adalah rekayasa belakangan supaya alquran yang dihimpun oleh ‘Uthmān—yang ditolak oleh sebilangan komunitas Muslim—menjadi lebih otoritatif . Namun, pembela alquran seperti Adnin Armas (2005)  menyatakan : ketika  ‘Uthmān menyuruh menghimpun alquran ‘Uthmān menggunakan mushaf yang ditangan Hafsah. Ini menunjukkan bahwa penulis wahyu yang disuruh Muhammad salah satunya adalah Abu Bakar . Jelas disini bahwa kaum Muslim lebih meyakini mushaf  ‘Uthmān . disini jelas tersirat makna bahwa diantara mushaf-mushaf yang ada bertentangan satu dengan yang lain, bukan karena bahasa melainkan isi, namun bagaimana bias mushaf ‘Uthmān yang lebih unggul, para pemikir Islam belum jelas menerbitkan keterangan mengenai hal ini . Perbedaan-perbedaan tulisan disetiap mushaf perlu dipertanyakan .

Alphonse Mingana, pastor asal Iraq dan guru besar di Universitas Birmingham, Inggris (1927) mengatakan : “sudah tiba saatnya untuk melakukan kritik teks terhadap alquran sebagaimana telah kita lakukan terhadap Kitab Suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Aram dan Kitab Suci Kristen yang berbahasa Yunani”.

Dalam pandangan Weil, alquran perlu dikaji secara kronologi. Weil mengemukakan tiga criteria untuk argument kronologi alquran: 1) rujukan-rujukan kepada peristiwa-peristiwa histories yang diketahui dari sumber-sumber lainnya, 2) karakter wahyu sebagai refleksi perubahan situasi dan peran Muhammad, 3) penampakan atau bentuk lahiriah wahyu.

Menurut Wansbrough, bentuk atau struktur alquran yang ada sekarang merupakan produk perkembangan tradisi dalam periode periwayatan yang panjang. Kanonisasi teks alquran tidak berada dalam satu kesatuan dari masa Muhammad sampai akhir abad ke-2 Hijriah . Oleh sebab itu, semua hadits yang menyatakan tentang himpunan alquran, dalam pandangan Wansbrough, secara histories harus dianggap sebagai informasi yang tidak dapat dipercaya . Semua informasi tersebut adalah fiktif yang memiliki maksud tertentu . Informasi tersbut mungkin dibuat oleh para fuqahā  untuk menjelaskan doktin-doktrin shariah yang tidak ditemukan di dalam teks, atau mengikuti model periwayatan teks orisinil Pentakosta dan Kanisasi Kitab Suci Ibrani. Menurut Wansbrough, teks alquranbaru menjadi baku setelah tahum 800 Masehi ( tahun 2 Hijriah).

Estlle Whellan, yang mengkaji prasasti di dalam The Dome of The Rock (Masjidil Jerusalem) dan prasasti yang ada pada dinding Masjid Muhammad di Madinah, menyimpulkan bahwa teks alquran sudah menjadi tetap pada abad pertama Hijriah. Whellan menunjukkan prasasti di dinding kiblat Masjid Muhammad di Madinah, terdapat tulisan surah 1 dilanjutkan surah 91-114 yang ditulis secara lengkap . Namun, disini belum jelas bahwa surah-surah lain belum terdeteksi sama sekali adanya prasasti, manuskrip atau yang lain sebagai keotentikan surah-surah itu. Menyejajarkan, Wansbrough benar bahwa abad ke 2 Hijriah (800 Masehi) alquran baku . Tetapi menurut Whellan, pada abad ke-7 Hijriah-lah alquran menjadi milik umum .

Dapat disimpulkan bahwa sejarah pembukuan alquran yang cepat, namun proses penerimaan yang panjang. Dari hal tersebut terindikasi bahwa alquran dirasa telah direkayasa dan diedit ulang demi maksud tertentu seperti yang dikemukakan Wansbrough diatas .

  1. Quranic Studies

Seorang dosen sejarah pemikiran Islam di Jakarta menulis di media massa dengan pernyataan: “sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa alquran dari halaman pertama hingga terakhir merupakan kata-kata ALLAH yang diturunkan kepada Muhammad secara verbalis, baik kata-katanya (lafzhan) maupun maknanya (ma’nan). Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formalisasi doktrin-dotrin Islam . Hakikat dan sejarah penulisan alquran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang rumit dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik dan rekayasa” . [1]

Prof. Amin Abdullah, Rektor IAIN Yogyakarta dan Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah menulis kata pengantar untuk sebuah buku tentang Hermeneutika alquran dengan pernyataan : “Metode penafsiran alquran selama ini senantiasa hanya memperhatikan hubungan penafsir dan teks alquran tanpa pernah mengeksplisitkan kepentingan audiens terhadap teks. Hal ini mungkin dapat dimaklumi sebab para mufasir klasik lebih menganggap tafsir alquran sebagai hasil kerja-kerja kesalehan yang dengan demikian harus bersih dari kepentingan mufasirnya . Atau barangkali juga karena trauma mereka pada penafsiran-penafsiran teologis yang pernah melahirkan pertarungan politik yang maha dashyat pada masa-masa awal Islam . Terlepas dari alasan-alasan tersebut, tafsir-tafsir klasik alquran tidak lagi memberi makna dan fungsi yang jelas dalam kehidupan umat Islam” . Dalam buku yang sama, penulisnya mencatat: “Apalagi sebagian besar tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam selama ini, sadar atau tidak, telah turut melanggengkan status quo, dan kemerosotan umat Islam secara moral, politik, dan budaya” (lihat. Ilham B. Saenong, Hermeneutika Pembebasan, Jakarta: Teraju, 2002).

Sanggahan Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, dari Interantional Institute of Islamic Thought and Civilization menilai, bahwa metode tafsir alquran “benar-benar tidak identik dengan hermeneutika Kristen, dan tidak juga sama dengan ilmu interpretasi Kitab Suci dari kultur dan agama lain” . Jelas dari sanggahan ini, pemikiran umat Islam belum berkembang . Sekalipun alquran disebut Kalam ALLAH, jelas bahwa alquran banyak mengandung kesimpangsiuran yang juga tumpah tindih . Para pemikir Islam sangat takut akan alquran ( yang sudah seperti dituhankan ) mengalami kehancuran makna. Prof. Dr. Wan Mohd Wan Daud menambahkan: “jika kita mengadopsi satu kaidah ilmiah tanpa mempertimbangkan latar-belakang sejarahnya, maka kita akan mengalami kerugian besar” . [2] Ini menunjukkan bahwa pemikir Islam sangat hati-hati memilih kaidah ilmiah untuk interpretasi alquran, lebih menyukai interpretasi yang masih apriori terhadap alquran .

Menurut Samuel M. Zwemmer tentang alquran : 1) penuh dengan kesalahan, 2) banyak mengandung cerita fiktif yang tidak normal, 3) mengajarkan hal yang salah tentang kosmogoni, 4) mengabadikan perbudakan, poligami, perceraian, intoleransi keberagamaan, pengasingan dan degredasi wanita.

Alquran sangat perlu dikaji karena (masih) mengandung bida’ah bagi Yahudi dan Kristen . Pengagungan alquran menunjukkan sikap yang berlebihan dan memberi implikasi terhadap peng-Tuhan-an teks alquran . Alquran memuat sejarah penulisan yang kabur dan banyak misteri perumusan Mushaf ‘Uthmān sebagai mushaf yang sahih dan menjadi fondasi kokoh bagi penerapan alquran .

Di dalam Mukadimah Al-Quran[3], menyatakan bahwa pada saat Perang Badar terjadi orang-orang musyirikin yang ditahan Muhammad yang tidak mampu menebus dirinya dengan uang, tetapi pandai menulis dan membaca, masing-masing diharuskan mengajar sepuluh orang Muslim menulis dan membaca sebagai ganti tebusan. Jelas termasuk Muhammad yang diajari dan bukan lagi menjadi ummi (buta huruf), Muhammad mendapatkan pengajaran menulis dan membaca dari orang musyirikin .

Menurut Hirshfeld, Muhammad bias membaca dan menulis, dan mengetahui aksara Ibrani tatkala berkunjung ke Syiria (tepat pada saat ‘Isra Mi’raj). Fakta juga menunjukkan bahwa Muhammad bias menulis ketika di Madinah (Estlle Whellen telah memaparkan bahwa Surah 1 dan Surah 91-114 ditulis secara lengkap di dinding kiblat Masjid Madinah). Tetapi pemikir Islam tetap saja mengarah pada Surah al-A’rāf (7:157), Surah al-‘An Kabūt (29:48) bahwa Muhammad tetap seorang ummi (buta huruf) . Namun kejelasannya, bahwa Muhammad setelah menerima wahyu dan sesudah Perang Badar bukan lagi ummi . Ada indikasi bahwa Muhammad selain menyuruh Muslim untuk menghafal juga menuliskan ayat-ayat alquran .

Pada tanggal 17 Ramadhan, bertepatan dengan 6 Agustus tahun 610 Masehi[4], Muhammad sedang ber-tahannuts di gua Hirā, pada saat ini Muhammad dikunjungi Malaikat Gabriel (Jibril) yang mengatakan : “bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Yang menjadikan manusia dari segumpal darah .Bacalah dan Tuhanmu teramat mulia .Yang mengajarkan dengan dengan pena (tulis-baca). Mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” .Anggapan Muhammad akan kunjungan ini langsung tersimpul bahwa dia adalah seorang nabi ataupun rasul untuk semua manusia. Kebanggaan inilah yang menjadi acuan kuat bahwa Muhammad begitu ambisius dalam penyaingan syiar Kristen dan Yahudi ataupun sikap narsisis-patologis .

Kedalaman Quranic Studies

Kajian yang serius untuk melacak secara kritis asal-muasal alquran dilakukanoleh Theodor Nöldeke (1930), berkebangsaan Jerman, dalam disertasinya “Geschichte des Qorans” (Sejaran Alquran) .Arthur Jeffery, menyatakan: “manuskrip-manuskrip awal alquran, misalnya, tidak memiliki titik dan baris, serta ditulis dengan khat Kufi yang sangat berbeda dengan tulisan yang saat ini digunakan .Modernisasi tulisan dan ortografi, yang melengkapi teks dengan tanda titik dan baris, sekalipun memiliki tujuan yang baik, namun itu telah merusak teks asli. Alquran adalah jteks yang merupakan hasil dari berbagai perubahan ketika periwayatannya berlangsung dari generasi ke generasi di dalam komunitas masyarakat .

Dari hasil penelitian, Jeffery menyimpulkan sebenarnya terdapat berbagai mushaf tandingan terhadap mushaf ‘Uthmān .Para mufasir Islam tidak banyak memuat mengenai kosa kata teknis di dalam alquran .Para mufasir Islam lebih tertarik menafsirkan alquran masih dalam ruang lingkup hukum dan teologi berbanding menjejaki makna asal dari ayat-ayat alquran .

Bandingan terhadap Jeffery oleh Muhammad Mustafa al-A’zami yang kritis, bahwa kata “qiraat” tidak tepat dimaknai varian bacaan .Al-A’zami mengatakan “Muhammad sendiri yang mengajarkan bacaan dengan beragam cara (multiple ways)” .Namun yang menjadi masalah dari bandingan itu, apa perbedaan dari kata “varian” dengan “multiple ways” itu sendiri .Menurut penulis, kata “qiraat” jelas mengindikasikan “varian bacaan”, dan makna kata “multiple ways” pun mengindikasikan suatu variasi bacaan yang beragam (multiple). Jadi pernyataan al-A’zami yang menolak arti qiraat itu untuk membela agar alquran tidak diganggu dengan kritik-kritik hermeneutika .

Pembahasan dalam Alquran

Muhammad Arkoun menyatakan bahwa alquran : “sebuah corpus yang selesai dan terbukan yang diungkapkan dalam bahasa Arab, dimana kita tidak dapat mengakses kecuali melalui teks yang ditetapkan setelah abad ke-4 Hijriah atau 10 Masehi” (Min al-Tafriqah ilā Fașl al-Maqāl: Ayna Huwa al-Fikr al-Islāmī al-Mu’āșir ; Beirut ; Dār al-Sāqi, ed. 2, 1995, hlm. 59)[5]

Muhammad Arkoun juga menambahkan bahwa mushaf ‘Uthmān tidak layak untuk mendpatkan status kesucian .Tetapi Muslim orthodoks meninggikan corpus ini  ke dalam status sebagai Firman ALLAH.

Nașr Hâmid Abū Zayd (1943), seorang intelektualis asal Mesir, menggunakan metode analisis teks bahasa-sastra (nahj tahlil al-nușūș al-lughawiyyah al-adabiyyah) ketika mengkaji alquran .Menurut Zayd, salah satu alasan pemikiran Islam menjadi stagnan, disebabakan penekanan yang terlalu berlebihan kepada dimensi ilahi.

Menyusun penyanggahan atas kritik bahasa, al-Attas menyatakan bahwa: bahasa Arab alquran adalah bahasa bentuk baru. Sejumlah kosa kata pada saat itu, telah diislamkan maknanya .Sekalipun diislamkan namun kosakatanya merupakan produk budaya orang lain .Jelas alquran merupakan literature biasa yang penuh dengan ajaran bida’ah.

Pada kajian semantic terhadap alquran oleh Christoph Luxenberg mengatakan bahwa alquran mengambil perbendaharaan bahasa Syriac yang pada saat itu Mushaf ‘Uthmān merupakan kesalahan salin dan berbeda dengan teks aslinya .Teks asli alquran lebih mirip bahasa Aramaic .

Alphonse Mingana berpendapat bahwa bahasa dalam alquran dipengaruhi oleh beberapa linguistic luar Arab .Seperti: Ethiopia (saat Muhammad hijrah ke Ethiopia), Ibrani (hubungan kaum Quraish dengan Yahudi disekitar Mekkah), Persia (dizaman Abu Bakar dan ‘Uthmān), Syiriac (saat Muhammad pergi ke Jerusalem). Dari interaksi Muhammad dan sejumlah sahabatnya menyatakan dengan jelas bahwa adanya pertukaran kosa kata baru dalam bahasa Arab sehari-hari .

Kenyataan yang jelas dari sejumlah pemikir Islam yang menyatakan bahwa ALLAH menurunkan alquran dalam bahasa Arab tidak lagi diterima .Jelas dalam bahasa Arab pada alquran telah dikontaminasi dengan berbagai kosa kata bahasa asing . Alquran banyak menyerap kosa kata Syiriac dan Aramaic yang merupakan interaksi bahasa keseharian di Mekkah maupun di Madinah .

  1. Pemikiran mengenai tujuan alquran

Klaim Islam tentang Muhammad sangat lugas .Pada saat Muhammad lahir (12 Rabiulawal tahun Gajah atau 20 April 571 Masehi) banyak kisah-kisah fiktif yang dianggap sahih oleh Islam yakni penghancuran Ka’bah Quraish oleh pasukan Nasrani dibwah pimpinan Abrahah .Bagaimana mungkin cerita itu dikaitkan dengan ALLAH yang mengirimkan burung abadil .Bagaimana mungkin ALLAH bersekutu dengan penyembah berhala dengan melakukan campur tangan terhadap penghancuran Ka’bah .Jelas bahwa Mekkah sempat ditundukkan oleh pasukan Nasrani dri Yaman . Sejarah ini terus disembunyikan oleh pakar sejarah Islam dan kota Mekkah itu sendiri tertutup bagi para arkeolog.

Pada saat umur 12 tahun, kisah mengenai rahib Nestorian yang bernama Buhaira mengatakan kepada Muhammad bahwa dia akan menjadi seorang nabi .Ada indikasi bahwa Injil Palsu Barnabas yang direkayasa (lih.Pasal 220:20) telah menyebar disekitar Arab, dan Gereja Nestorian maupun Arianisme menggunakannya. Indikasi yang jelas ini menunjukkan penyetaraan arti kata “Ahmad” menjadi “Muhammad” yang berarti “terpuji” .Sikap ini menunjukkan bahwa Muhammad menerima bahwa dirinya akan menjadi Nabi karena perkataan Buhaira itu.

Umur 39 tahun pada malam 17 Ramadhan (6 Agustus 610 Masehi) Muhammad pergi ke bukit Hirā seperti kebiasaan kaum Quraish untuk menyendiri agar lebih dekat pada al-Ilah (dahulu dewa besar di Ka’bah) .Umat Islam mengatakan bahwa yang mengirim alquran  adalah Malaikat Gabriel (Jibril). Apakah Muhammad tahu Malaikat Gabriel itu sedangkan dia seorang kafir penyembah berhala, Muhammad mengetahui nama malaikat itu dari pendengaran kaum Yahudi dan Nasrani di tanah Arab yakni Mekkah. Faktanya dia banyak berinteraksi dengan kaum Nasrani sepeti : paman istrinya Waraqah nin Naufal yang pandai bahasa Ibrani dan menerjemahkan Kitab Injil dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Arab. Kondisi ini meyakinkan bahwa pada saat Muhammad menikah dengan Siti Khadijah (pada saat itu Muhammad belum menerima alquran), Muhammad sempat mendengar Kitab Injil dari paman istrinya Waraqah bin Naufal.

Ada kemungkinan pada saat Muhammad mendengar Kitab Injil dia mulai bingung dengan kisah-kisah yang terjadi diseputaran Injil .Masalah penyaliban, kelahiran dan prinsip-prinsip kekristenan banyak yang belum dimengertinya .Pada saat, Muhammad bergelut dengan konsep pemikirannya terhadap Injil maka dia pergi ke bukit Hirā (bukit berhala kaum Quraish Pagan). Implikasi yang jelas bahwa roh-roh jahat dari sesembahan kaum Quraish menjelma dalam rupa Malaikat (bdk. 1 Korintus 10:20, Kolose 2:8) yang mengarang cerita seputar pewahyuan alquran . Namun , kejelasan pasti bahwa malaikat Gabriel meminta agar Muhammad bertobat dan menobatkan kaum Quraish pagan (lih. Surah al-Alaq/96 : 1-5) .

Sikap apriori atas wahyu yangdiberikan kepada Muhammad menyebabkan sikap Muhammad kemudian menjadi serong .Pada saat penerimaan wahyu, Muhammad belum menyuruh orang untuk mendengar wahyu yang diterimanya .Namun, setelah membandingkan kitab-kitab yang ada ditanah Arab yakni kitab Ahura Mazda (Zoroasterian), Kitab Barnabas (Arandenisme), Kitab Taurat, Kitab Injil, dan karangan-karangan Nestorianisme dan Arianisme, maka Muhammad mengklarifikasikan berbagai ajaranitu menjadi satu tesis dalam alquran yang rangkum. Pada saat Muhammad pergi ke Ethiopia dia berinteraksi dengan jemaah Orthodox Alexandria, ke Jerusalem berinteraksi dengan kaum Yahudi dan Gereja Orthodox Syiria, di Madinah berinteraksi dengan kaum Yahudi campuran, dan disekeliling kota Mekkah banyak kaum Nestorian dan Arianisme, membandingkan ajaran Nasrani dengan ajaran Albigensia, Nestorian, dan Arianisme.

Kompleksnya ajaran yang ada di tanah Arab karena tanah Arab bukanlah daerah terisolasi bahkan terbuka bagi segala ajaran, ras, budaya dan tata hidup .Ini menunjukkan bahwa Muhammad yang menerima ajaran-ajaran itu bersimpang siur. Namun, fakta yang jelas ini banyak dikaburkan bagi kaum Muslim oleh para pemikir Islam .

Jelas bahwa Malaikat Gabriel (Jibril) bukanlah menuliskan kitab melainkan menyuruh Muhammad untuk mempertobatkan kaum Quraish penyembah berhala. Sikap apriori-lah yang membuatnya memberikan ajaran yang bertentangan (bida’ah) yang banyak mencontoh dari kitab-kitab Arianisme dan Nestorian, Zoroasterian, Kaballah Yahudi, Taurat Musa, dan Injil palsu Barnabas .Seperti kisah Nabi Musa tercantum dalam 10 Surah di dalam alquran, begitu juga dengan Nabi Nuh. Abraham, Yusuf, dan Ayub. Namun, cerita-cerita para nabi di dalam Taurat tidak sesuai dengan kenyataan yang tertulis dalam alquran .Jelas pengarangan terjadi pada Muhammad. Jelaslah seperti yang dikemukakan Nasr Hamid Abu Zayd ; redaksi alquran adalah versi Muhammad.

Muhammad juga mengambil nukilan bacaan Ibadah Gereja Kristen (Orthodox) di Mekkah, yaitu al-Fatihah yang berasal dari bahasa Syriac, ptaxa (pembukaan) yang merupakan panggilan untuk berpartisipasi dalam Ibadat (adzan) .[6] Pemikir Islam tidak begitu jelas memberikan keterangan yang pasti tentang al-fatihah, pemikir Islam masih merujuk al-Rāzi sebagai pembanding .Jelas bahwa alquran menurut Christoph Luxenberg : “tak lebih dari turunan Injil dan liturgy Kristen Syria. Begitu juga atas pengaruh Injil Barnabas” .

Teori pengaruh selalu dipertentangkan pemikir Islam terhadap alquran, supaya kesesatan itu dipertahankan untuk membenarkan isi alquran .Sudah jelas dari pembahasan bahwa pengaruh bahasa, liturgy, budaya dan dialek dari Persia, Yahudi, Nasrani, Quraish, Syria terhadap alquran begitu nyata. Tudingan para pemikir Islam masih berputar-putar diseputar mushaf ‘Uthmān .

Alquran mushaf ‘Uthmān yang unggul dalam kanonisasi membuat kaum Muslim meyakini mulai dari awal sampai akhir merupakan Kalam ALLAH .Pimpinan Gereja Kristen tidak pernah mengambil tindakan seperti yang diambil oleh ‘Uthmān, Khalifah ketiga dari generasi Islam, yang sudah meresmikan satu himpunan  ayat alquran dan memerintahkan untuk memusnahkan himpunan atau mushaf lainnya. Gereja Kristen telah memberanikan diri untuk membiarkan adanya perbedaan diantara himpunan dari kitab-kitab lain, dan Gereja tetap berusaha untuk mengumpulkan sebanyak mungkin naskah-naskah tua yang memuat beberapa bagian Alkitab, biarpun penyelidikan itu menghasilkan atau ditemukannya kadang-kadang ayat-ayat yang berbeda bunyinya dengan bunyi yang sudah lazim .

Dan sikap umat Islam terhadap Muhammad begitu apriori .Umat Islam mendoakan Muhammad disetiap akhir adzan maghrib agar Muhammad naik ke surga. Dari pernyataan doa setelah adzan maghrib (…dan hantarlah ia ketempatMu yang Maha Tinggi….) maka jelas bahwa Muhammad belum naik ke surga oleh karena dosa yang menyesatkan beribu-ribu umat. Umat Islam mendoakannya agar diberi tempat tertinggi sedangkan umat Kristen telah lama meyakini Jesus telah mati, bangkit dan naik ke surga yang abadi sebagai Raja Semesta Alam .

  1. Anggapan Alquran terhadap Kitab Zabur dan Injil

Surah an-Nisa’ (4): 163 dan Surah al-Anbiya (21): 105 menyatakan bahwa ALLAH memberikan kitab Zabur (Mazmur) kepada Daud .Ayat alquran ini jelas salah .Kitab Mazmur merupakan kitab pujian kepada ALLAH yang ditulis atau dikarang oleh Raja Daud .Bagaiman mungkin ALLAH membuat puji-pujian bagi DIA sendiri, yang diturunkannya kepada manusia .

Kitab Zabur (Mazmur) (kata Yunani “Psalterion” , Ibrani “Tehilim”) adalah kitab yang berisi 150 sajak-sajak yang berlirik .Kitab Zabur juga berisikan doa dalam bentuk nyanyia, kidung pujian, nyanyian ziarah .Kitab Zabur merupakan sekumpulan nyanyi-nyanyian keagamaan Israel .Di dalam Bait ALLAH ada petugas yang menyanyikan Kitab Mazmur (kaum Lewi) dengan melihat penanggalan liturgy Yahudi .

Surah Ali Imrān (3): 48 , ALLAH mengajarkan Injil kepada Jesus .Ini merupakan pemahaman dangkal Muhammad yang menuliskan alquran .Jesus sendiri yang mengajarkan Injil kepada manusia dan bukan berupa kitab yang Jesus terima melainkan nafas pemberitaan Roh ALLAH (Jesus) sendiri (bdk. Surah Maryam (19):17).

Tampak dari pembahasan bahwa alquran merupakan kitab yang kabur dari segala pemahaman baik secara logika , pewahyuan, sejarah dan kultur .Serapan budaya, konteks liturgy dan doa, serta dialek merupakan satu kesatuan dalam alquran yang membernarkan alquran bukanlah Kalam Ilahi .Alquran diredaksikan Muhammad agar Ka’bah menjadi tersohor, sehingga Muhammad menjadikan Ka’bah sebagai pusat peribadatan hajj (bdk. Surah al-Maa’idah: 95, 97). Ka’bah sendiri merupakan rumah pantheon (banyak dewa) kaum Quraish .Alquran merupakan produk budaya setempat yang ingin menyaingi kitab Taurat dan Injil .

Pemikir Islam (penafsir alquran dan intelektual Islam) menyatakan bahwa Kitab-kitab dalam Taurat dan Injil seperti Adnin Armas, Adian Husaini, menganggap Alkitab sebagai kitab porno yang memuat cerita-cerita yang tidak senonoh dan porno (seperti Kitab Kidung Agung) [7]. Taurat dan Injil (Alkitab) membongkar semua kefasikan, keburukan dan kejahatan manusia sperti Daud, Salomo, Nebukadnezar, Firaun, Herodes, dan lainnya .ALLAH juga mengampuni mereka yang bertobat sehingga mereka tidak mati .Bagaimana pun alquran membela habis-habisan keburukan dan kefasikan para ulama Muslim dan bahkan Muhammad yang diagungkan dengan gelar Salāllahīwasāllam (yang terberkati). Alquran melegitim pornografi, poligami, perbudakan, peperangan, kenajisan dibalik kealiman para syuhada-syuhada Islam yang berjuang mati-matian demi seonggok mushaf .

Umat Islam meyakini bahwa daud adalah meyakini bahwa Daud sebagai Nabi. Hal ini salah, Daud bukan seorang nabi, dia hanya seorang Raja yang memuliakan dan menyembah ALLAH dengan puji-pujian yang dibuatnya dalam Kitab Zabur (Mazmur/Mizmor), bukan penyampai Firman ALLAH yang Hidup . Alquran menyembunyikan kejahatan dibalik kebenaran, yang tampak dari makna-makna allegoris yang tak terpahami namun intrik demikian tidak dapat lagi disembunyikan dari intelektualis pemikir hermeneutika , karena kaedah-kaedah bahasa dalam alquran memiliki arti dangkal yang dapat terdeteksi dari naskah-naskahnya yang menyerap kosa kata Nabatean, Aram/Suryani dan Ibrani .Alquran bukanlah Kitab Kebenaran yang membongkar kejahatan melainkan menutupi segala kefasikan di balik kesucian, adapun kejahatan yang dimuat tidak masuk kategori pembongkaran yang sahih.


[1] Dikutip dari: Wajah Peradaban Barat : dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular Liberal, Jakarta. 2005. Gema Insani.

[2] idem

[3] Quranul, Departemen Agama: Bimibingan Masyarakat Islam, 1980, hlm. 21

[4] idem

[5] Dikutip: Adnin Armas, MA. 2005. Metodologi Bibel dalam Studi Al-Qur’ān .Jakarta : Gema Insani Press.

[6] Liturgi Gereja telah lama menggunakan ptaxa untuk membuka Ibadat dengan seruan “Bismillahirraủfirrahim” (Dengan Nama ALLAH yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang) .Dalam buku ibadat berbahasa Koptik-Arab al-Ajabiyya: Kitab as-Sab’ish Shalawit (Agpeya : Kitab Salat Tujuh Waktu”) yang disimpan di Perpustakaan “Dir Anba Bula” (Biara Santo Paulus) , dekat Laut Merah, Mesir. Muhammad juga menggunakan ptaxa untuk menyaingi liturgy Gereja yang kaya, memang peranan ptaxa sangat umum untuk memanggil seluruh umat beribadah .Jika dibandingkan dalam Surah Al-Fatihah, ptaxa ditambahkan oleh Muhammad pada ayat ke-4 sampai ke-7 .Liturgi Gereja ini masih digunakan di Gereja Orthodox Syria di seluruh tanah Arab, Gereja Orthodox Armenia di Iran dan Iraq.

[7] Kitab Kidung Agung (Syir Hasy-syirim) ialah kidung yang unggul dan paling indah .Kitab ini merupakan serentetan sajak yang memuliakan cinta kasih timbal balik antara seorang laki-laki dan perempuan .Kitab Kidung Agung ditulis oleh Raja Salomo (Sulaiman) .Kitab ini mulai dipakai dalam ibadah perayaan Paskah Yahudi dank arena itu menjadi salah satu kelima “Megillot”, yaitu gulungan-gulungan kitab yang dibacakan pada hari-hari raya .Theodorus dari Mopsueste, pujangga Kristen, yang dipengaruhi pandangan Origenes, kitab Kidung Agung kiasan perkawinan Kristus dengan Gereja atau persatuan mistik yang terjalin antara jiwa manusia dengan ALLAH .Sejumlah penafsir Katholik tetap mempertahankan tafsiran allegoris itu, walaupun dengan cara yang berbeda-beda .


[1] Demikianlah misalnya B. D. McDonald di dalam “Enzyklopaedie des Islams”, Leiden 1927, bagian II, hlm. 561. (Dogmatika Masa Kini: Gunung Mulia, 2005)

[2] Dikutip dari “Isa dan Al Mahdi di Akhir Zaman”, Jakarta: Gema Insani ; Dr. Muslih Abdul Karim, MA. 2005

[3] Sejarah Gereja.hlm 63, 80.

[4] David H. Stern, Jewish New Testament Commantery (Maryland : Jewish New Testament Publications, 1995), p. 154 : dikutip oleh Bambang Noorsena. 2004


[1] Mahmud Yunus, Tafsir al-Quran’l Karim, bahasa Indonesia, cet.13, Terbitan Almaarif, Bandung-Jakarta, 1957, hal.94.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s